Serangan Israel di Gaza

Komandan sayap militer Hamas, Mohammed Odeh, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan presisi Israel di Jalur Gaza pada Selasa (26/05). Kematian Odeh menjadi pukulan beruntun bagi struktur komando kelompok tersebut, mengingat pendahulunya juga tewas dalam operasi serupa hanya beberapa hari sebelumnya.

Advertisements

Serangan udara tersebut menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di tengah pusat keramaian Kota Gaza. Berdasarkan informasi dari tenaga medis dan saksi mata di lokasi kejadian, sedikitnya tiga warga Palestina dinyatakan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Target serangan adalah Gedung al-Kayali, sebuah apartemen yang terletak di salah satu kawasan pasar tersibuk yang saat itu sedang dipadati pembeli menjelang hari raya Idul Adha.

Pihak militer Israel bersama badan keamanan Shin Bet mengonfirmasi bahwa bangunan tersebut telah dipantau selama berbulan-bulan. Mereka mengeklaim bahwa gedung tersebut digunakan Odeh sebagai tempat persembunyian yang telah dilacak pergerakannya secara intensif. “Sebagai bagian dari operasi gabungan IDF dan Shin Bet untuk melenyapkan teroris Mohammed Odeh, beberapa bangunan di jantung Kota Gaza diserang setelah pengawasan intelijen yang panjang,” tulis pernyataan resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Hamas belum memberikan pernyataan resmi melalui saluran formal mereka. Namun, sumber internal organisasi dan kerabat dekat mengonfirmasi bahwa Odeh tewas bersama istrinya. Putra mereka yang telah dewasa juga dilaporkan meninggal dunia pada Rabu (27/05) pagi akibat luka parah setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Pemakaman keluarga tersebut dijadwalkan berlangsung setelah salat zuhur di sebuah masjid di Kota Gaza.

Advertisements

Para saksi mata menggambarkan situasi mencekam saat serangan terjadi. Setidaknya lima rudal menghantam bangunan tersebut secara hampir bersamaan dari berbagai arah. “Saya mendengar suara helikopter melayang di atas sebelum akhirnya ledakan besar meruntuhkan bagian atas gedung,” ujar salah seorang warga setempat. Tim tanggap darurat yang tiba di lokasi sempat mengalami kendala dalam menjangkau lantai atas karena kerusakan struktur yang parah dan kemacetan luar biasa di area pasar.

Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Odeh adalah salah satu “perancang pembantaian 7 Oktober” yang menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera di Israel selatan pada tahun 2023. Netanyahu menyatakan komitmennya untuk terus memburu siapa pun yang terlibat dalam peristiwa tersebut. “Cepat atau lambat, Israel akan menjangkau mereka semua,” tegasnya.

Kematian Odeh melanjutkan tren eliminasi pimpinan militer Hamas oleh Israel. Sebelumnya, Izz ad-Din al-Haddad, yang menjabat sebagai komandan sebelum Odeh, juga tewas dalam serangan udara pada awal Mei yang turut merenggut tiga nyawa lainnya. Selain menargetkan Odeh, militer Israel juga menyerang apartemen di dekatnya yang dimiliki oleh anggota lingkaran dalam Odeh yang diduga terlibat dalam serangan 7 Oktober.

Situasi di Gaza tetap kritis meskipun kesepakatan gencatan senjata secara teknis telah dimulai sejak Oktober lalu. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan terus berlangsung hampir setiap hari. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa lebih dari 900 orang tewas akibat serangan Israel selama periode gencatan senjata tersebut. Di sisi lain, Israel berdalih memiliki otoritas untuk menargetkan anggota Hamas dan menuduh kelompok tersebut gagal melakukan demiliterisasi.

Secara keseluruhan, operasi militer besar-besaran Israel telah menyebabkan kehancuran luas di wilayah Palestina tersebut. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza, yang dinilai valid oleh PBB, mencatat lebih dari 72.800 orang telah tewas, sementara sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Upaya perdamaian jangka panjang yang diprakarsai oleh Amerika Serikat pun tampak buntu. Rencana yang mencakup pembentukan pemerintahan teknokratis dan rekonstruksi wilayah tersebut terhenti sejak eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran pada Februari lalu. Di tengah ketidakpastian politik, Hamas dilaporkan mulai mengaktifkan kembali fungsi kepolisian dan menegaskan otoritasnya di beberapa wilayah.

Ketegangan ini juga merembet ke wilayah regional lainnya, di mana 31 orang dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Lebanon baru-baru ini. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen untuk mencegah Hamas memerintah Gaza baik secara sipil maupun militer, sembari melontarkan wacana mengenai “rencana emigrasi sukarela” bagi penduduk Gaza di masa mendatang.

Di tengah konflik yang terus membara ini, peran internasional terus disorot, termasuk kontribusi Indonesia dalam upaya kemanusiaan dan perdamaian:

  • Sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla telah tiba kembali di Indonesia.
  • Muncul kesaksian memilukan dari relawan flotilla mengenai perlakuan saat ditahan militer Israel.
  • Profil pimpinan penting Hamas kini menjadi perhatian dunia internasional.
  • Presiden Prabowo Subianto menghadiri pertemuan Dewan Perdamaian, di mana Indonesia diproyeksikan menjadi wakil komandan ISF di Gaza.
  • Diskusi mengenai risiko keterlibatan TNI dalam program Board of Peace di Gaza terus berkembang, terutama terkait infrastruktur tempur di wilayah tersebut.
  • Kisah tragis remaja Palestina yang kehilangan nyawa karena akses medis dihalangi tentara Israel menjadi potret krisis kemanusiaan yang nyata.
  • Peran Indonesia dalam Board of Peace bentukan Trump serta posisi netral pasukan perdamaian menjadi poin krusial dalam diplomasi internal Palestina.
  • Pemerintah Indonesia secara tegas mengecam rencana Israel untuk mengambil alih Kota Gaza secara permanen.

Ringkasan

Serangan udara presisi militer Israel di pusat Kota Gaza menewaskan Mohammed Odeh, komandan sayap militer Hamas yang dituding sebagai salah satu perancang serangan 7 Oktober. Operasi gabungan IDF dan Shin Bet ini menghantam sebuah apartemen di kawasan pasar padat penduduk yang juga merenggut nyawa istri serta putra Odeh. Kematian ini menambah deretan pimpinan militer Hamas yang berhasil dieliminasi Israel dalam rangkaian operasi intelijen mereka.

Eskalasi konflik ini telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah dengan total korban jiwa di Gaza melampaui 72.800 orang dan kehancuran infrastruktur yang luas. Di tengah situasi tersebut, Indonesia tetap aktif dalam misi kemanusiaan dan diplomasi internasional melalui keterlibatan dalam Dewan Perdamaian serta pemulangan relawan. Pemerintah Indonesia juga secara tegas mengecam rencana pendudukan permanen wilayah Gaza oleh pihak militer Israel.

Advertisements