2026-04-04

Tas Arapaima Amazon Belasan Juta: Siapa Cuan, Siapa Dirugikan?

Beberapa tahun silam, nelayan bernama Pedro Canízio menginjakkan kaki di Rio de Janeiro, Brasil. Ia tercengang mendapati sebuah tas tangan mewah berbahan kulit ikan hasil tangkapannya dijual dengan harga fantastis: lebih dari 5.000 reais, atau setara Rp15 juta.

Advertisements

Ikan yang dimaksud adalah pirarucu, atau arapaima, raksasa air tawar dari sungai Amazon yang mampu tumbuh melebihi dua meter dan berbobot hingga 200 kg. Kulitnya yang tebal dengan pola khas kini menjadi incaran utama dalam industri mode global.

Sempat berada di ambang kepunahan, spesies eksotis ini kini menjadi contoh model penangkapan ikan berkelanjutan di Brasil, menandai sebuah kisah pemulihan ekologis yang sukses.

Namun, kontras mencolok terlihat pada nasib Canízio dan nelayan lain. Sebagai penangkap ikan, ia hanya menerima sekitar 11 reais (sekitar Rp33 ribu) per kilogram pirarucu. Menurutnya, hasil penjualan selama musim tangkap —yang berlangsung dari Desember hingga Maret atau sekitar empat bulan— hanya berkisar antara 3.000 hingga 5.000 reais, angka yang setara dengan harga satu tas tangan mewah di ibu kota.

Advertisements

Dengan harga jual per kilogram tersebut, seorang nelayan harus berhasil menangkap ikan seberat lebih dari 450 kg untuk mencapai pendapatan setara harga tas tersebut. Canízio menambahkan bahwa mayoritas penduduk di wilayahnya berprofesi ganda, menjadi nelayan sebagai penambah pendapatan dari pertanian, atau menangkap pirarucu sebagai pelengkap tangkapan ikan lain.

“Orang-orang di sini hidup sehari-hari, hanya untuk bertahan. Tidak ada yang kaya,” ungkapnya lugas.

Meski industri mode mengklaim praktik mereka selaras dengan semangat keberlanjutan lingkungan, muncul pertanyaan krusial: apakah “keberlanjutan lingkungan” yang digaungkan juga mencakup keadilan sosial bagi para nelayan dan pekerja yang berada di titik terdepan rantai produksinya?

‘Masyarakat pantas mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik’

Beberapa dekade lalu, pirarucu memang menghadapi ancaman kepunahan akibat penangkapan berlebihan, memaksa pemerintah Brasil memberlakukan larangan total pada akhir 1990-an.

Pada tahun 1999, larangan itu dicabut, namun dengan syarat ketat dari badan lingkungan hidup Brasil, Ibama. Kini, hanya 30% dari populasi ikan dewasa yang boleh ditangkap setiap tahun di area tertentu, memastikan sisanya dapat berkembang biak dan menjaga kelestarian spesies.

Masyarakat lokal diberikan izin menangkap pirarucu, dengan kewajiban berpatroli di danau-danau serta melaporkan penangkapan ikan ilegal. Mirisnya, aktivitas pemantauan ini tidak dibayar atau mendapat ganti rugi biaya bahan bakar.

“Dengan penghasilan kecil yang kami dapatkan, kami juga melakukan pengawasan itu,” kata Canízio dengan nada prihatin.

“Manajemen untuk keberlangsungan hidup pirarucu ini berhasil. Yang kurang adalah pengakuan bagi para nelayan. Masyarakat layak mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik,” tambahnya, menyoroti jurang antara keberhasilan konservasi dan kesejahteraan manusia.

Baca juga:

  • Ikan araipama: Predator yang dikhawatirkan jadi ‘monster penguasa’ Sungai Brantas
  • Ikan gabus sangat rakus dan bisa bertahan tiga hari di darat bikin repot pemerintah AS
  • Fenomena alam: Belut listrik di Amazon ‘menyetrum’ mangsa dengan cara mengeroyok

Ana Alice Oliveira de Britto dari Asosiasi Produsen Pedesaan Carauari (Asproc), yang mewakili 800 keluarga dari 55 komunitas tepi sungai, berpendapat bahwa masyarakat selayaknya dilatih untuk mengolah kulit ikan, tidak hanya menjual dagingnya. Ia mengakui adanya ketidakadilan upah bagi masyarakat di sekitar Amazon. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, ia khawatir upaya konservasi lingkungan dapat berbalik arah, sebab penduduk juga membutuhkan biaya untuk hidup.

“Jika aktivitas selama ini tidak memberikan upah yang adil, masyarakat bisa kehilangan sekutu penting dalam konservasi Amazon. Penduduk lokal mungkin beralih ke aktivitas yang merusak lingkungan untuk mendukung keluarga mereka,” jelas de Britto.

Studi tahun 2020 yang ditulis Fernanda Alvarenga, seorang konsultan, menyimpulkan bahwa keuntungan dari penjualan kulit pirarucu “biasanya tidak menguntungkan para nelayan di garis depan”. Ia menegaskan pentingnya menyoroti masalah ini, “bukan untuk menghancurkan hubungan komersial, tetapi untuk melihat dengan lebih hati-hati dan sadar pentingnya aktivitas ekonomi ini sebagai strategi konservasi.”

“Kami pernah bergurau, jika pengelolaan pirarucu tidak berhasil sebagai strategi konservasi untuk Amazon, maka tidak ada yang akan berhasil,” ujar Alvarenga, menekankan betapa krusialnya model ini.

Bagaimana klaim peduli lingkungan dari para pemilik merek mode?

Dahulu, pirarucu hanya dimanfaatkan dagingnya sebagai makanan pokok, sementara kulitnya dibuang sebagai limbah. Namun, paradigma ini berubah drastis ketika para perancang busana mulai melihat potensinya sebagai alternatif pengganti kulit sapi, terutama didorong oleh kekhawatiran akan dampak lingkungan dari produksi kulit tradisional.

Pergeseran ini memungkinkan beberapa jenama mode melabeli diri sebagai perusahaan yang peduli isu keberlanjutan, dengan meluncurkan produk-produk berbahan kulit pirarucu.

Jenama Brasil, Osklen, yang memasarkan tas tangan dan sepatu dari kulit pirarucu, secara gamblang mengklaim bahwa mereka “menciptakan pendapatan bagi masyarakat di tepi sungai dan membantu melestarikan Amazon.” Senada, jenama asal Kanada, Piper & Skye, yang juga menjual produk serupa, menyatakan misinya adalah “menciptakan produk-produk berkualitas yang dibuat secara berkelanjutan dan etis.”

Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembelian dan penjualan kulit pirarucu secara legal, dalam pernyataannya kepada BBC News Brasil, menegaskan tujuan mereka untuk mendukung komunitas nelayan.

Salah satu pemain kunci adalah Nova Kaeru, perusahaan asal Brasil yang bertanggung jawab atas sekitar 70% ekspor pirarucu dan produk turunannya dari negara tersebut. Perusahaan ini memasok kulit kepada berbagai produsen mode, termasuk jenama mewah sekelas Giorgio Armani, Dolce & Gabbana, dan Givenchy.

Mayoritas produksinya juga diekspor ke Amerika Serikat dan Meksiko untuk bahan baku sepatu koboi, dengan klaim bahwa barang mewah hanya menyumbang 5% dari total penjualan.

Baca juga:

  • Punahnya pari Jawa, spesies ikan laut pertama yang musnah akibat ulah manusia
  • Ikan air tawar di dunia terancam punah, populasinya turun drastis
  • Jantung tertua di dunia ditemukan di dalam fosil ikan prasejarah

Dalam pernyataan resminya kepada BBC, Nova Kaeru menjelaskan bahwa mereka tidak menetapkan harga material, termasuk kulit ikan pirarucu. Harga-harga ini, menurut mereka, “dinegosiasikan secara lokal antara asosiasi nelayan dan pabrik pengolahan.”

Perusahaan tersebut juga mengklaim bahwa harga kulit per kilogram lebih tinggi daripada daging, dan jual beli kulit ikan ini “mewakili peningkatan pendapatan nyata bagi komunitas yang terlibat.” Direktur Komersial José Leal Marques menyatakan harapan perusahaan untuk di masa depan dapat membantu komunitas mengembangkan kapasitas teknis dalam memisahkan kulit ikan dari daging. “Peran kami bukan hanya membeli kulit, tetapi berinvestasi di Amazon, melatih pekerja, dan mendukung penangkapan ikan yang berkelanjutan,” tandasnya.

Mengapa harga produk mode berbahan kulit hewan mahal?

Bruna Freitas, pendiri jenama Brasil Yara Couro, menggarisbawahi bahwa pirarucu sangat menonjol karena pola uniknya yang sulit ditiru, di samping nilai simbolisnya sebagai representasi Amazon. “Ini adalah ikan yang telah bertahan dari berbagai tantangan lingkungan,” ujarnya.

Freitas juga menegaskan komitmen perusahaannya terhadap praktik yang bertanggung jawab saat membeli material ini. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sangat memperhatikan detail “untuk memahami berapa banyak yang ditangkap, kapan diproses,” serta menjalin komunikasi erat dengan perusahaan, komunitas, dan koperasi pemasok.

“Kami mengenal pemasok kami secara langsung, dan kami berusaha untuk menjaga kehadiran yang sangat aktif,” katanya.

Upaya-upaya semacam ini, menurut para ahli, secara signifikan memengaruhi nilai tambah yang kemudian berkontribusi pada penentuan harga produk akhir. Lebih jauh, proses pemisahan dan pengolahan kulit ikan merupakan tahapan yang memberikan sebagian besar nilai tambah yang diperhitungkan.

Sebuah studi tahun 2018 yang dilakukan oleh organisasi nirlaba Operação Amazônia Nativa (Opan) mengungkapkan bahwa proses pengolahan kulit ikan ini sangat kompleks, meliputi tahapan pencucian, perendaman, pewarnaan, dan pengeringan. Studi tersebut juga menemukan fakta mencengangkan: sebanyak 95% penjualan kulit pirarucu berasal hanya dari tujuh pabrik pengolahan besar, sedangkan hanya 5% yang melibatkan asosiasi komunitas secara langsung.

“Bekerja dengan kulit ikan ini sulit dipelajari. Ada banyak teknologi yang digunakan,” jelas Cristina Isis Buck Silva, yang bertanggung jawab mengawasi penggunaan keanekaragaman hayati di Ibama.

Baca juga:

  • ‘Jika sebulan ada 31 hari, maka kami akan bekerja 31 hari’ – Kesaksian para pekerja China di balik merek fesyen Shein
  • Impor pakaian bekas ilegal: Indonesia ‘menjadi penampung sampah’ dan dianggap ‘tidak punya martabat’
  • ‘Instagram rich kid’ dihukum di London karena impor aksesori piton dari Indonesia yang ‘dikuliti hidup-hidup’

Ketika dihubungi oleh BBC, Osklen dan mitra nirlabanya, Instituto-E, mengakui adanya “tantangan signifikan” dalam rantai produksi. Mereka menyatakan tengah berupaya “memperkuat proyek-proyek yang mempromosikan transparansi dalam rantai ini.”

Mereka menjelaskan bahwa desain, manufaktur khusus, logistik, dan berbagai biaya operasional lainnya adalah faktor pendorong kenaikan harga produk akhir. “Masih ada kesenjangan yang signifikan yang hanya dapat diatasi secara efektif melalui kebijakan publik agar rantai awalnya berjalan lancar,” tambah mereka.

Sementara itu, Piper & Skye menyatakan bahwa mereka tidak terlibat dalam penetapan harga atau negosiasi dalam rantai pasokan. Mereka hanya bekerja dengan pemasok tepercaya “yang praktiknya diawasi oleh badan lingkungan Brasil dan yang telah lama mendukung penangkapan ikan berkelanjutan dan komunitas lokal.”

Mereka menegaskan bahwa komitmen mitra mereka terhadap sumber daya yang bertanggung jawab “merefleksikan jenis kolaborasi yang kami yakini yaitu yang menghormati baik manusia maupun planet.” Di balik klaim-klaim ini, masalah lain yang tak kalah serius adalah pemantauan penangkapan ikan ilegal dan penjualan pirarucu di pasar gelap. Data dari Ibama mencatat lebih dari 1.000 denda terkait penangkapan dan pengangkutan ilegal ikan ini sejak tahun 2000, menunjukkan skala tantangan yang masih harus dihadapi.

Bagaimana membangun industri mode ramah lingkungan dan berkeadilan?

Penggunaan material dari kulit hewan telah lama menuai penolakan dari para aktivis. Sejumlah jenama dan desainer ternama seperti Chanel, Stella McCartney, dan Gabriella Hearst telah berupaya keras mereduksi praktik penggunaan berbagai bagian dari hewan, termasuk kulit ikan, dalam produk mereka.

Tren ini diikuti oleh banyak perancang busana dan jenama lainnya. Namun, klaim mode berkelanjutan bukan hanya sekadar menolak penggunaan material hewani, mengolah limbah, atau memanfaatkan pewarna alami. Melampaui teknik produksi, mode berkelanjutan sedang mempertimbangkan kembali fundamental ekonomi yang menopang industri ini. “Hal terbaik yang dapat dilakukan konsumen adalah benar-benar membatasi konsumsi mereka,” jelas Anna Brismar, konsultan mode berkelanjutan dari Green Strategy.

Meskipun demikian, Brismar juga menekankan pentingnya jenama untuk memahami bahwa mode berkelanjutan juga erat kaitannya dengan ekonomi sirkular yang mendasar. Untuk itu, harus ada jaminan upah yang adil dan waktu kerja yang manusiawi bagi para pekerja di balik produk tersebut. Ini termasuk pula rantai awal dari industri mode, seperti para penyedia bahan atau material mentah yang kemudian diolah menjadi produk mode, memastikan bahwa keadilan sosial menjadi pilar utama dalam setiap langkah menuju keberlanjutan sejati.

  • Bagaimana kita bisa memperbaiki efek buruk ‘fast fashion’?
  • Tren ‘thrifting’ menjamur, bagaimana dengan dampak lingkungannya?
  • Harga tersembunyi pakaian murah: Eksploitasi buruh dan biaya lingkungan produksi tekstil

Ringkasan

Model penangkapan ikan arapaima (pirarucu) di Amazon telah berhasil memulihkan populasi spesies yang sempat terancam punah, menjadi contoh keberhasilan konservasi lingkungan. Namun, keberhasilan ini kontras dengan nasib nelayan seperti Pedro Canízio yang hanya menerima upah sekitar Rp33 ribu per kilogram ikan, sementara tas mewah berbahan kulit arapaima dijual hingga belasan juta rupiah di perkotaan. Kesenjangan ekonomi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keadilan sosial dalam rantai pasokan yang diklaim berkelanjutan oleh industri mode.

Sebagian besar nilai tambah dari kulit arapaima berasal dari proses pengolahan yang kompleks dan didominasi oleh pabrik besar, bukan komunitas nelayan di garis depan. Studi menunjukkan bahwa keuntungan dari penjualan kulit tidak secara signifikan menguntungkan nelayan, meskipun perusahaan pemasok mengklaim mendukung komunitas. Oleh karena itu, para ahli menekankan bahwa mode berkelanjutan yang sejati harus mencakup upah yang adil dan kondisi kerja yang manusiawi bagi seluruh pihak dalam rantai pasokan, termasuk penyedia bahan mentah, guna memastikan keberlanjutan lingkungan dan sosial.

Advertisements