Konflik AS-Venezuela, akankah harga minyak Indonesia terpengaruh?

JogloNesia  Konflik Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya pada Sabtu (3/1/2026) dini hari.

Advertisements

Dalam platform Truth Social miliknya, Trump mengatakan telah berhasil menangkap dan membawa Maduro beserta istrinya keluar dari negara tersebut. 

“AS berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara itu,” ujar Trump di Truth Social miliknya, dilansir dari Kompas.com, Minggu (4/1/2026).

Baca juga: PM Denmark Ingatkan Trump: AS Tak Punya Hak Mencaplok Greenland

Advertisements

Venezuela diketahui merupakan negara penghasil minyak terbesar di dunia.

Berdasarkan data resmi Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) 2024, Venezuela memiliki cadangan minyak 303,221 miliar barrel, atau sekitar 17 persen dari total cadangan minyak global.

Sebagian besar cadangan minyak Venezuela berupa minyak berat yang terkonsentrasi di kawasan Orinoco Belt sehingga membutuhkan teknologi dan biaya produksi lebih tinggi dibanding minyak konvensional.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan pengaruh konflik AS dengan Venezuela terutama terkait harga minyak dunia, termasuk Indonesia.

Lantas, apakah konflik AS-Venezuela berdampak pada harga minyak di Indonesia?

Baca juga: Siapa Delcy Rodriguez, Wapres Venezuela yang Tetap Ingin Bebaskan Maduro dari AS?

Harga minyak masih rendah

Direktur dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan bahwa sampai hari ini, harga minyak mentah dunia masih tergolong rendah. 

“Sampai hari ini harga minyak mentah masih rendah, yakni di 57,4 dollar AS per barrel atau terkoreksi 21 persen dalam satu tahun terakhir,” jelas Bhima ketika dihubungi Kompas.com pada Senin (5/1/2026). 

Menurutnya, hal ini mengartikan bahwa krisis yang terjadi di Venezuela saat ini belum mampu mendongkrak harga minyak secara signifikan, terutama dalam jangka pendek.

Baca juga: Usai Venezuela, 3 Negara Ini Jadi Target Amerika Serikat, Mana Saja?

Faktor harga minyak masih rendah

Bhima menjelaskan salah satu faktornya disebabkan saat ini dunia mengalami pasokan minyak yang berlebih.

“Pertama, dunia sedang dilanda ‘supply glut’ alias kelebihan pasokan minyak. Pergerakan permintaan minyak masih lemah, terutama dari negara maju dan China karena pengetatan kapasitas produksi manufaktur,” jelas Bhima.

Faktor kedua adalah OPEC yang masih terus mempertahankan produksi minyak meski harga minyak rendah. 

Ia menyimpulkan berdasarkan kedua faktor tersebut, harga BBM terkhusus di Indonesia masih belum akan naik dalam jangka pendek. 

“Jadi, harga BBM belum akan naik dalam jangka pendek, kecuali pemerintah memang mau pangkas subsidi energi itu lain cerita,” ungkapnya.

Baca juga: Profil Negara Venezuela, Kaya Sumber Daya Alam tapi Rakyatnya Tak Sejahtera

Potensi kenaikan harga komoditas lain

Lebih lanjut, ketika ditanya mengenai potensi kenaikan harga dari komoditas lain, Bhima mengatakan tidak banyak komoditas yang terpengaruh. 

Salah satu komoditas yang harganya makin naik adalah emas batangan. Bhima mengatakan selebihnya komoditas lain belum terpengaruh.

“Kecuali emas batangan yang harganya makin naik. Komoditas lain belum terpengaruh,” pungkas Bhima.

Baca juga: Korut Uji Coba Rudal Hipersonik Sambil Singgung Venezuela, Sinyal Peringatan ke AS?

Advertisements