
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan serangan lanjutan ke Venezuela, menyusul penculikan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Maduro dijadwalkan menjalani sidang perdana di hadapan hakim federal di New York pada Senin, 5 Januari. Penculikan itu sebelumnya dilakukan melalui operasi militer di Caracas.
Menurut laporan TRT World, Trump pada Ahad mengatakan ia dapat memerintahkan serangan kedua jika Venezuela tidak bekerja sama dengan Amerika Serikat, terutama terkait pembukaan industri minyak dan penghentian perdagangan narkotika. Ancaman tersebut disampaikan sehari sebelum Maduro dibawa ke pengadilan Amerika Serikat.
“Jika mereka tidak melakukan hal yang benar, mereka akan membayar harga yang jauh lebih mahal daripada Maduro. Jika mereka tidak bertindak dengan semestinya, kami akan melakukan serangan kedua,” kata Trump.
Para pejabat AS juga menyatakan operasi itu bertujuan membawa Maduro ke pengadilan atas dakwaan tahun 2020 yang menuduhnya terlibat konspirasi narkoterorisme. Namun Trump mengakui ada faktor lain di balik operasi tersebut, termasuk masuknya imigran Venezuela ke Amerika Serikat dan kepentingan minyak Amerika beberapa dekade lalu.
Ancaman ke Presiden Sementara Venezuela
Tekanan juga diarahkan kepada Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez, yang menjadi pemimpin sementara.
Ketika ditanya apakah ia telah berbicara dengan Rodríguez, Trump menjawab kepada wartawan, “Kami berurusan dengan orang-orang yang baru dilantik. Jangan tanya saya siapa yang berkuasa karena saya akan memberi jawaban yang sangat kontroversial.”
Ia juga menambahkan, “Artinya kami yang berkuasa.”
Sementara itu, Delcy Rodríguez menyerukan hubungan yang seimbang dan saling menghormati dengan Amerika Serikat. “Kami menganggap prioritas untuk bergerak menuju hubungan yang seimbang dan saling menghormati antara Amerika Serikat dan Venezuela,” tulis Rodríguez di Telegram. Ia juga mengundang Washington bekerja sama dalam agenda pembangunan bersama.
Ancaman ke Kolombia, Meksiko, dan Kuba
Dilansir dari CNA, Trump juga mengancam kemungkinan aksi militer terhadap Kolombia dan Meksiko.
Kedutaan Besar Kolombia dan Meksiko di Washington tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Tentang Kolombia, Trump menyebut negara itu dipimpin oleh “orang sakit” dan mengatakan sebuah operasi militer “terdengar bagus bagi saya,” merujuk pada Presiden Kolombia Gustavo Petro.
Trump turut menyinggung Kuba. Ia mengatakan Kuba “siap runtuh” setelah Amerika Serikat menangkap pemimpin sekutu utamanya, Venezuela, dan meremehkan perlunya aksi militer. “Saya tidak pikir kita perlu tindakan apa pun. Sepertinya itu akan runtuh,” kata Trump. Ia juga menyebut Havana akan sulit bertahan tanpa pasokan minyak Venezuela yang disubsidi.
Pemerintah Kuba menyatakan 32 warga negaranya tewas dalam serangan Amerika Serikat di Caracas. Dalam pernyataan yang dibacakan di televisi nasional, Havana menyebutnya sebagai serangan kriminal yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Pilihan Editor: Tembakan Terdengar di Dekat Istana Presiden Venezuela
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia