Rupiah tertekan saat IHSG cetak rekor, ini penyebabnya kata analis

JAKARTA, KOMPAS.com – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan, namun kondisi tersebut tidak diikuti oleh pelemahan pasar saham domestik. 

Advertisements

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru bergerak menguat dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat di posisi 9.072,29 dan melanjutkan penguatan pada awal perdagangan Kamis (15/1/2026). 

Baca juga: Berharap Intervensi BI, Rupiah Pagi Fluktuatif

Advertisements

Dorongan beli yang solid membawa indeks menyentuh level tertinggi harian di 9.100,82, sekaligus menjadi rekor tertinggi baru sepanjang sejarah perdagangan bursa.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot bergerak fluktuatif pada awal perdagangan Kamis pagi. 

Mata uang Garuda dibuka di level Rp 16.860 per dolar AS, menguat tipis dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.865 per dolar AS. Namun, berdasarkan data Bloomberg pukul 09.53 WIB, rupiah terkoreksi tipis ke posisi Rp 16.871 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sempat menorehkan catatan kelam. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/1/2026), rupiah ditutup di level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.

Baca juga: Menyikapi Pelemahan Rupiah Terparah dalam Sejarah

Data Bloomberg mencatat rupiah di pasar spot melemah 0,13 persen secara harian ke posisi Rp 16.877 per dolar AS.

Pelemahan serupa juga tercermin dalam Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI). Jisdor mencatat rupiah berada di level Rp 16.875 per dolar AS, melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Penyebab rupiah melemah saat IHSG cetak rekor

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah saat ini merupakan refleksi dari penguatan signifikan indeks dolar AS.

Pergerakan mata uang Paman Sam yang solid tersebut sejalan dengan tren pelemahan mata uang regional, sehingga memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 16.865 per Dollar AS, Hentikan Pelemahan 8 Hari Beruntun

“Tekanan depresiasi yang dialami rupiah saat ini merupakan refleksi dari penguatan signifikan indeks dollar AS yang bergerak selaras dengan tren pelemahan mata uang regional,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com.

Menurut Azharys, kondisi tersebut dipicu oleh sejumlah faktor global, mulai dari eskalasi tensi geopolitik, meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, hingga ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve (The Fed), ke depannya.

“Kondisi ini dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik global, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan,” paparnya.

Dinamika tersebut mendorong investor asing melakukan aksi ambil untung atau profit taking, yang kemudian memicu aliran modal keluar dari pasar keuangan domestik.

Baca juga: Rupiah Melemah, BI Beberkan Upaya Stabilisasi Nilai Tukar

“Dinamika ini mendorong investor asing untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking) yang memicu aliran modal keluar (outflow) dari pasar keuangan domestik,” beber Azharys.

Tekanan rupiah tak menyeret kinerja pasar saham

Meski demikian, tekanan pada rupiah tidak serta-merta menyeret kinerja pasar saham. Azharys menilai, IHSG justru menunjukkan anomali positif dengan tetap bergerak menguat di tengah tekanan eksternal.

Senada dengan itu, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Dari sisi global, dolar AS tetap berada dalam tren kuat seiring rilis data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan pasar, serta pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) yang memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Baca juga: Purbaya: Tak Ada Alasan Orang Takut Konversi ke Rupiah, Asing Juga Sudah Masuk

Kondisi tersebut mendorong aliran modal global kembali ke aset berdenominasi dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah masih dalam tekanan baik internal maupun eksternal. Dollar AS sendiri masih cukup kuat didukung oleh data-data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan dan pernyataan hawkish dari pejabat The Fed,” ungkap Lukman kepada Kompas.com.

Dari dalam negeri, sentimen negatif turut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi defisit fiskal yang dapat menembus ambang 3 persen, serta prospek pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang dinilai dapat menambah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar.

Meski demikian, rupiah mendapat penopang dari langkah aktif BI yang terus melakukan intervensi di pasar, terutama saat nilai tukar mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS. Upaya tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas dan menahan pelemahan yang lebih dalam.

Baca juga: Menkeu Purbaya Yakin Rupiah Menguat 2 Pekan ke Depan, Minta Pasar Tak Panik

“Dari domestik, kekuatiran defisit fiskal melewati 3 persen dan prospek pemangkasan suku bunga BI masih membebani. Namun seperti diketahui, mendekati level penting Rp 17.000, BI sedang giat-giatnya melakukan intervensi pasar dan menahan pelemahan yang lebih dalam,” paparnya.

Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan berada dalam kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.950 per dollar AS.

Faktor penyebab IHSG cetak rekor

Sementara, analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai penguatan IHSG didorong oleh kenaikan harga saham emiten-emiten perbankan berkapitalisasi besar yang kembali menarik minat investor.

Selain sektor perbankan, saham-saham di sektor barang konsumsi siklikal juga turut memberikan kontribusi positif terhadap laju penguatan indeks.

Baca juga: Menurut BI, Ini Penyebab Rupiah Melemah hingga Dekati Rp 17.000 Per Dollar

“Kami mencermati penguatan IHSG ini didorong oleh emiten-emiten perbankan big caps, disusul oleh sektor consumer cyclical,” kata Herditya ketika dihubungi Kompas.com, Kamis.

Adapun saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 tercatat menguat signifikan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berada di level Rp 8.100 per saham, menguat 100 poin atau 1,25 persen.

Penguatan lebih besar terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang naik 90 poin atau 2,42 persen ke harga Rp 3.810 per saham. 

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melesat 150 poin atau 3,10 persen ke posisi Rp 4.990 per saham.

Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Posisi Rp 16.867 per Dollar AS

Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melonjak paling tinggi di antara bank-bank besar, dengan kenaikan 180 poin atau 4,13 persen ke posisi Rp 4.540 per saham.

Penguatan IHSG terjadi di tengah kondisi pasar global yang cenderung mengalami koreksi. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga masih bergerak melemah terhadap dollar AS. 

Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan arah pergerakan antara pasar saham domestik dengan dinamika eksternal.

Ketahanan IHSG di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental emiten-emiten besar, khususnya di sektor perbankan.

Baca juga: Rupiah Dekati Level 17.000, Pasar Cermati Langkah Bank Indonesia

“Penguatan IHSG juga terjadi di tengah koreksi market global dan mata uang rupiah yang saat ini bergerak melemah terhadap dollar AS,” beber Herditya.

Ke depan, pergerakan rupiah dan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama arah kebijakan moneter AS dan stabilitas geopolitik.

Namun, selama fundamental emiten domestik tetap terjaga, pasar saham dinilai masih memiliki ruang untuk bertahan, bahkan melanjutkan penguatan, meski nilai tukar berada dalam tekanan.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Advertisements