Bukan cuma saham! Obligasi & reksadana bisa jadi pilihan mengejutkan

JogloNesia   Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, Anda perlu memahami karakteristik, risiko, dan potensi keuntungan dari setiap instrumen investasi tersebut.

Advertisements

Terdapat tiga instrumen populer yang banyak dipilih oleh investor, yaitu saham, obligasi, dan reksadana.

Meskipun tujuan utama ketiganya adalah pengembangan aset, mekanisme kerja dan profil risiko yang ditawarkan setiap instrumen sangat berbeda. 

Memahami perbedaan ketiga aset ini sangat penting agar Anda dapat menyesuaikan produk investasi yang dipilih dengan tujuan keuangan jangka panjang Anda.

Advertisements

Pilihan KPR: Konvensional atau Syariah? Untung Rugi Terkuak!

Apa Itu Saham?

Saham adalah sebuah bukti kepemilikan seseorang atau badan hukum atas sebuah perusahaan. Menurut laman Mandiri Sekuritas, dengan membeli saham, investor secara otomatis menjadi bagian dari pemilik perusahaan tersebut dan berhak atas pembagian laba yang disebut dividen.

Keuntungan utama dari investasi saham berasal dari dua sumber, yakni dividen dan selisih harga jual atau capital gain. 

Saham adalah instrumen dengan karakteristik high risk high return. Artinya, potensi keuntungan yang ditawarkan sangat besar, namun risiko fluktuasi harga di pasar juga cukup tinggi. 

Jika Anda memilih instrumen investasi ini, Anda harus siap menghadapi volatilitas pasar yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro maupun kinerja internal perusahaan.

Obligasi: Investasi Berbasis Surat Utang

Berbeda dengan saham yang memberikan status kepemilikan, obligasi adalah surat utang jangka menengah hingga panjang yang dapat dipindahtangankan. 

Melansir dari situs DBS, obligasi berisi perjanjian dari pihak penerbit surat untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu, serta melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli.

Penerbit obligasi bisa berasal dari pemerintah (Obligasi Negara) maupun korporasi. Obligasi dianggap memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan saham karena adanya kepastian pembayaran bunga secara berkala. 

Jika Anda memilih pendapatan tetap (fixed income), obligasi bisa menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan instrumen yang sangat fluktuatif.

Jangan Sampai Gagal Fokus! 7 Cara Efektif Kelola Keuangan Pribadi Saat Kuliah

Reksadana sebagai Solusi Diversifikasi

Bagi investor pemula yang memiliki keterbatasan waktu atau pengetahuan untuk mengelola portofolio sendiri, reksadana menjadi solusi yang tepat untuk Anda. 

Mengutip laman Blu by BCA Digital, reksadana adalah instrumen yang digunakan untuk menghimpun dana dari para pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi (MI).

Dana yang terkumpul akan dikelola secara profesional dan disebar ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, atau instrumen pasar uang lainnya. 

Keunggulan utama reksadana adalah diversifikasi otomatis, sehingga risiko investasi dapat diminimalkan karena dana tidak hanya tertuju pada satu aset saja.

Perbedaan Mendasar Ketiga Instrumen Investasi

Untuk memudahkan pengambilan keputusan, berikut adalah beberapa poin perbedaan antara saham, obligasi, dan reksadana yang bisa menjadi bahan pertimbangan Anda memilih jenis investasi:

Status Kepemilikan

  • Saham: Investor bertindak sebagai pemilik perusahaan.
  • Obligasi: Investor bertindak sebagai pemberi pinjaman (kreditur).
  • Reksadana: Investor merupakan pemilik unit penyertaan dalam portofolio yang dikelola.

Tingkat Risiko

  • Saham: Sangat tinggi (fluktuasi harga pasar harian).
  • Obligasi: Moderat hingga rendah (bergantung pada peringkat kredit penerbit).
  • Reksadana: Bervariasi, mulai dari rendah hingga tinggi tergantung jenis reksadana yang dipilih (pasar uang, pendapatan tetap, atau saham).

Jangka Waktu Investasi

  • Saham: Cocok untuk jangka panjang (di atas 5 tahun).
  • Obligasi: Umumnya jangka menengah hingga panjang (1 sampai 10 tahun).
  • Reksadana: Fleksibel, dapat disesuaikan dengan profil risiko dan target waktu investor.

Tonton: Survei BI: Kinerja Dunia Usaha Melanjutkan Tren Perlambatan pada Kuartal IV-2025

Strategi Memilih Instrumen yang Tepat

Memilih antara saham, obligasi, atau reksadana sangat bergantung pada profil risiko masing-masing investor. Profil risiko Anda bisa berbeda dengan profil risiko teman atau para ahli investor. Oleh sebab itu Anda perlu memahami profil risiko Anda sebelum memilih instrumen investasi. 

Melansir Mandiri Sekuritas, investor yang memiliki profil risiko agresif dan mengharapkan pertumbuhan aset yang cepat biasanya akan lebih banyak mengalokasikan dana pada saham.

Sebaliknya, bagi investor konservatif yang ingin melindungi nilai asetnya, obligasi atau reksadana pasar uang merupakan pilihan paling aman. 

Mengutip situs DBS, melakukan riset secara mendalam dan tidak terjebak pada tren sesaat tanpa memahami produk yang dibeli wajib dilakukan oleh investor.

Berikut adalah langkah sederhana bagi investor pemula sebelum mulai berinvestasi:

  • Tentukan tujuan keuangan (dana pendidikan, pensiun, atau dana darurat).
  • Kenali profil risiko pribadi (apakah siap menghadapi penurunan nilai aset atau tidak).
  • Pelajari biaya-biaya yang muncul, seperti biaya transaksi saham atau biaya manajemen pada reksadana.
  • Lakukan diversifikasi untuk membagi risiko pada beberapa jenis instrumen yang berbeda.

Dengan memahami perbedaan mendasar ini, investor diharapkan dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan rasional dalam mengelola kekayaan mereka di pasar modal Indonesia.

Advertisements