
JogloNesia JAKARTA —Rekor harga emas dunia memantik pergerakan harga saham emiten-emiten yang memiliki portofolio bisnis emas di pasar saham Indonesia. Meski begitu, aksi profit taking membayangi fase pesta pora saham logam mulia.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot menguat 1,25% ke US$5.049,9 per troy ounce, Senin (26/1/2026) pagi. Adapun, harga emas berjangka Comex AS kontrak April 2026 menguat 1,24% ke US$5.079,20 per troy ounce.
Seiring dengan kenaikan harga emas dunia, sejumlah saham di sektor komoditas emas membukukan penguatan secara signifikan pada Senin (26/1/2026).
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) memimpin dengan kenaikan harga sebesar 18,22% menuju Rp7.300 per saham. Posisi ini disusul saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang meningkat 10,96% ke Rp4.760 dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) melonjak 9,03% ke posisi Rp7.850.
Selanjutnya, saham PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) menguat 4,72% menjadi Rp2.440 dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) naik 2,4% ke Rp1.280.
Setali tiga uang, saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) turut mencetak kenaikan sebesar 4,91% menjadi Rp2.030 per saham, dan saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) ditutup naik 2,42% ke level Rp635.
: Harga Emas Antam Hari Ini, 27 Januari 2026 di Pegadaian: Per Gram Naik jadi Rp3,2 Juta
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menyatakan bahwa lonjakan harga emas dunia menjadi katalis positif bagi kinerja jangka pendek emiten pertambangan.
Nafan menambahkan bahwa dampak positif tersebut diperkirakan akan semakin nyata sepanjang tahun ini, khususnya jika harga emas mampu bertahan secara konsisten di atas level psikologis US$5.000 per troy ounce.
“Kenaikan harga emas dunia berpotensi meningkatkan kinerja sektor pertambangan. Dampaknya akan mulai terlihat pada laporan kinerja full year, terutama pada kuartal empat, ketika tekanan kontraksi mulai mereda dan mulai muncul hasil yang lebih positif bagi kinerja emiten,” ujar Nafan.
Kondisi itu memberikan peluang bagi investor untuk memetik keuntungan melalui emiten emas, yang kini mulai gencar melakukan diversifikasi bisnis.
Meski tren peningkatan meminimalkan risiko investasi pada emas, Nafan menyatakan bahwa investor untuk tetap disiplin dalam pengelolaan risiko, terutama pada instrumen yang memiliki leverage tinggi.
“Sebagai contoh, pada instrumen berjangka seperti XAUUSD, meskipun harga berada dalam tren naik, investor tetap berisiko terkena margin call jika posisi terlalu besar dan tidak diimbangi dengan ekuitas yang memadai,” tuturnya.
Sementara itu, untuk investasi saham, risiko fluktuasi harga tetap ada. Namun, Nafan menilai hal tersebut dapat dimitigasi melalui strategi average down, yaitu teknik menurunkan harga rata-rata perolehan saham dengan cara membeli aset yang sama di harga yang lebih rendah dari pembelian sebelumnya.
: Ramalan Cuan Emiten Logam Mulia ANTM, MDKA Cs kala Harga Emas Dunia Memanas
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menjelaskan bahwa kenaikan harga emas menjadi sentimen positif bagi emiten yang telah beroperasi penuh dan memiliki struktur biaya produksi yang efisien.
Sejumlah nama seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) diprediksi menjadi penerima manfaat utama dari tren kenaikan tersebut.
“Secara fundamental, tren ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual rata-rata [average selling price/ASP] secara signifikan,” ujar Miftahul kepada Bisnis.
Dia menambahkan dalam beberapa kasus, hal tersebut juga dapat memperbaiki volume transaksi jika permintaan emas fisik dan kontrak offtake tetap kuat.
Di samping itu, dengan asumsi harga emas tetap bertahan di level tinggi, perolehan laba bersih emiten emas pada tahun ini disebut memiliki peluang untuk melampaui proyeksi awal 2026. Kenaikan ASP juga akan memberikan kontribusi pada lini atas dan bawah laporan keuangan emiten.
Prospek Harga Emas
Dihubungi terpisah, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menyampaikan bahwa kenaikan harga emas dunia dipicu oleh respons pasar terhadap pergerakan militer AS yang mulai mendekati wilayah Iran.
Dia memproyeksikan bahwa ketidakpastian geopolitik akan menjadi tema dominan yang menjaga harga emas tetap tinggi sepanjang tahun ini.
“Kelihatanya sentimen geopolitik akan terus terjadi sepanjang 2026. Sejak AS menyerang Venezuela, pasar melihat Donald Trump berani untuk menyerang negara lain, tidak sekadar wacana,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (26/1/2026).
Selain faktor geopolitik, Ariston juga menilai pelaku pasar masih menaruh ekspektasi besar bahwa bank sentral AS, yakni The Federal Reserve akan melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga acuan tahun ini.
Penurunan suku bunga secara teoritis akan memperlemah daya tarik dolar AS dan imbal hasil obligasi, yang pada gilirannya memperkuat posisi emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset.
Kendati prospek jangka panjang terlihat prospektif, Ariston mengingatkan investor untuk mewaspadai pembalikan arah. Menurutnya, reli harga yang terjadi secara masif dalam waktu singkat rentan terhadap aksi ambil untung.
“Risiko koreksi tetap ada. Harga yang terus naik tentu suatu saat akan terkoreksi, baik dipicu oleh aksi taking profit maupun jika terjadi perubahan pada faktor fundamental,” ucap Ariston.
: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Selasa, 27 Januari 2026
Senada, Investment Analyst Stockbit Sekuritas Theodorus Melvin berpendapat sentimen utama penguatan emas bersumber dari kekhawatiran investor terhadap kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, termasuk ancaman tarif 100% terhadap Kanada jika melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.
“Saat ini, investor menanti keputusan Trump terkait pemilihan calon ketua The Fed berikutnya untuk menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei 2026,” ujarnya dalam riset, Senin (26/1/2026).
Pada pekan lalu, Trump mengeklaim telah mewawancarai sejumlah kandidat potensial. Jika terpilih figur yang cenderung dovish, ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini diprediksi akan meningkat.
Seiring hal tersebut, Melvin menuturkan bahwa reli harga komoditas safe-haven ini berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sejumlah emiten tambang emas dalam jangka pendek.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia