Valas utama berisiko rentan koreksi di tengah ketidakpastian global

JogloNesia – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar valuta asing (valas) utama global diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi pada semester I-2026, seiring ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global yang belum sepenuhnya jelas.

Advertisements

Melansir Trading Economics pukul 21.35 WIB, pasangan valas EUR/USD di 1,18, naik 14% secara YoY, valas GBP/USD 1,36 naik 9,8% YoY.

Sementara itu, valas AUD/USD 0,70 naik 11,8% secara YoY, valas USD/JPY 157,2 naik 3,8% YoY, dan valas USD/CHF di level 0,78 terkoreksi 14,7% YoY.

Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva berpandangan, prospek mata uang berbasis risiko seperti euro (EUR), poundsterling (GBP), dan dolar Australia (AUD) cenderung bisa terkoreksi karena lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global dan arus modal.

Advertisements

Sentimen Sell America Tekan Indeks Dolar, Penguatan Valas Asia Masih Terbatas

Sementara itu, mata uang safe haven seperti franc Swiss (CHF) justru sudah melemah terhadap dolar AS di periode ini. 

Hal ini mencerminkan preferensi investor yang masih menempatkan dolar AS sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global, termasuk risiko geopolitik dan arah kebijakan ekonomi AS.

Ke depan, Taufan memproyeksikan pergerakan valas utama masih akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter global, termasuk dinamika geopolitik dan arah kebijakan ekonomi AS.

Selama ekspektasi suku bunga AS bertahan di level relatif tinggi, dolar AS dinilai masih berpeluang mempertahankan penguatannya dalam jangka menengah.

“Kondisi ini membuat pasangan seperti USD/JPY dan USD/CHF berpotensi tetap bergerak positif, meskipun ruang penguatan bisa menjadi lebih terbatas jika volatilitas global mulai mereda,” jelas Taufan kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Di sisi lain, mata uang seperti EUR/USD, GBP/USD, dan AUD/USD mulai menarik untuk dicermati secara selektif, khususnya bagi investor dengan horizon menengah. 

Rupiah Menguat ke Rp16.895, Sentimen Global Masih Jadi Penopang

Potensi pemulihan dinilai dapat terbuka apabila tekanan dolar AS mulai berkurang atau jika bank sentral masing-masing negara menunjukkan sikap kebijakan yang lebih tegas.

Dalam hal ini, Euro dan Poundsterling dinilai memiliki peluang untuk mengalami rebound secara bertahap. Sementara dolar Australia masih sangat bergantung pada dinamika ekonomi China serta pergerakan harga komoditas global.

Terkait strategi investasi, Taufan menyarankan investor valas untuk mengedepankan pendekatan yang lebih defensif dan selektif di tengah gejolak geopolitik yang belum mereda. 

Diversifikasi pasangan mata uang dan disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci, mengingat volatilitas dapat meningkat sewaktu-waktu akibat perkembangan geopolitik, kebijakan fiskal, maupun pernyataan pejabat bank sentral.

Dolar AS Terbebani Ancaman Tarif Trump, Dolar Australia Menguat

Untuk semester I 2026, Taufan memproyeksikan pasangan EUR/USD bergerak di kisaran 1,16-1,22, sementara GBP/USD diperkirakan berada pada rentang 1,34-1,40. 

Adapun USD/JPY diproyeksikan bergerak di kisaran 155-165, dan USD/CHF di level 0,75-0,80. Sementara itu, pasangan AUD/USD diperkirakan bergerak dalam rentang 0,68-0,72.

Advertisements