Banjir bandang kembali terjang Tapanuli Tengah ketika warga belum pulih dari bencana – “Kami tidak menyangka terjadi lagi”

Belum pulih dari banjir bandang dan longsor tiga bulan lalu, warga Desa Hutanabolon di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, kembali diterjang banjir, Rabu (11/02) lalu. Inilah kisah tiga orang penyintas.

Advertisements

“Banyak yang panik. Ada juga yang menangis,” ujar Rinilorensa Sinaga, melalui sambungan telepon, Kamis (12/02).

Rini—panggilannya—adalah warga Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.

Pada akhir November 2025 lalu, desanya luluh lantak akibat banjir dan longsor. Kemudian, pada Rabu (11/02) lalu, banjir kembali menerjang desanya.

Advertisements

“Kami tidak menyangka [banjir] yang terjadi tahun lalu itu terjadi lagi,” tambahnya kepada wartawan Nanda Batubara yang melaporkan untuk BBC News Indonesia,

Rumah perempuan 23 tahun ini berada relatif tak jauh dari tepi sungai di Lingkungan IV. Lima bulan lalu, kediamannya ludes digulung air dan gelondongan kayu.

Bayangan menakutkan itu kembali menerpanya—juga warga desa tersebut.

Mereka makin panik ketika air sungai tiba-tiba meluap selang beberapa jam setelah hujan mengguyur, Rabu lalu.

Rini dan warga lainnya berhamburan menyelamatkan diri. Sebagian mereka menangis histeris, membuat situasi semakin mencekam.

Saat bah datang, Rini baru saja pulang dari gereja.

Dia berada persis di lokasi yang sama tatkala banjir bandang meluluhlantakkan kampungnya akhir November 2025.

Ketika itu harta yang tersisa hanyalah ponsel dan pakaian yang melekat di badan.

Sejak saat itu, Rini beserta orang tua dan tiga saudara kandungnya mengungsi ke kediaman tetangga yang berada di tempat lebih tinggi.

Lokasinya berjarak beberapa meter dari rumah lama mereka yang telah rata dengan tanah.

Selain Rini, terdapat tiga keluarga lainnya yang juga ikut menumpang di sini.

Keluarga Rini tidak memanfaatkan fasilitas tenda-tenda pengungsian yang disediakan pemerintah lantaran kondisinya dianggap tak jauh berbeda.

Selain panas dan rentan terpapar hujan, bagi Rini, hidup di tenda juga tak kalah sengsara.

‘Saya sempat frustasi dan tidak mau lagi kuliah’

Nyaris tiga bulan setelah bencana, kehidupan warga Kelurahan Hutanabolon belum pulih.

Bukan hanya harta benda dan tempat tinggal, banyak di antaranya yang juga kehilangan mata pencaharian. Hal ini berpengaruh terhadap kondisi mental mereka—tak terkecuali Rini.

Semua dokumen penting dan perlengkapan Rini lenyap. Termasuk laptop yang berisi berbagai dokumen urusan kampus. Dia bahkan sempat berpikir untuk berhenti kuliah.

“Saya sempat frustasi dan tidak mau lagi kuliah. Karena ijazahku sudah tidak ada lagi, laptop juga hilang. Istilahnya senjata untuk menempuh pendidikan juga tidak ada,” ujarnya.

Sejak bencana terjadi, keluarga Rini belum pernah memperoleh penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) senilai Rp600.000 per bulan dari pemerintah. Bantuan selama ini masih datang dari donasi komunitas sipil dan gereja.

Selain belum mendapatkan DTH, keluarga Rini juga mengaku belum didata untuk memperoleh bantuan hunian sementara (huntara) ataupun hunian tetap (huntap).

Di tengah situasi seperti itulah, banjir kembali menerjang desanya, Rabu lalu.

Air bercampur lumpur menyeret sisa-sisa gelondongan kayu beserta bekas material lainnya yang belum tuntas dibersihkan.

Banjir menerjang wilayah desanya setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur, menyebabkan tanggul darurat yang dibangun pemerintah jebol.

Tanggul yang dimaksud hanya berupa tumpukan pasir dan susunan batu di tepi belokan aliran sungai. Tingginya tidak sampai dua meter dari permukaan air.

Meski tidak sampai menelan korban jiwa, banjir kali ini kembali menutup akses dan menghancurkan sejumlah unit rumah yang sempat dibangun lagi oleh pemiliknya.

Banjir juga merusak ulang sebagian sisi bangunan Gereja HKBP Hutanabolon, satu di antara tempat ibadah yang sebelumnya terdampak banjir bandang akhir November 2025.

Kini, bayangan gelap banjir itu kembali menerpa pikirannya, setelah banjir kembali menerjang Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Rabu (11/02).

“Pastinya, kami masih mengingat-ingat kejadian yang sama yang bertepatan pada kejadian November 2025 berada di tempat yang sama. Jadi seperti terulang. Respons tubuh saya langsung gemetar,” ungkapnya dalam nada yang terdengar getir.

‘Tembok gereja yang kami bangun, hancur kembali’

Kepedihan juga terekam dari warga Desa Hutanabolon lainnya. Paten Sidabutar adalah pendeta di sebuah gereja di desa itu.

“Kami sedang di gereja membangun tembok yang kemarin hancur. Sekarang hancur lagi semua,” kata Paten Sidabutar, pendeta Gereja HKBP Hutanabolon.

Dia bercerita, gelombang air datang begitu cepat hari Rabu lalu, dan membuat warga panik.

Mereka tidak menyangka dampaknya tak kalah dahsyat dibanding tahun lalu.

Selain merusak kembali rumah-rumah yang sempat diperbaiki, banjir turut merendam berbagai bantuan sembako dan bahan pangan lain yang disimpan warga.

Barulah ketika air perlahan surut jelang di tengah malam, warga memberanikan diri balik ke rumah masing-masing.

Mereka berusaha menyelamatkan barang-barang yang tersisa.

Banjir bandang kedua ini, kata Paten, menambah beban kehidupan warga yang sepenuhnya bangkit dari keterpurukan pascabencana tahun lalu.

Seperti mayoritas warga Keluharan Hutanabolon lainnya, rumah Paten juga rusak berat dan tidak bisa lagi ditempati. Sampai sekarang, keluarganya masih mengungsi di rumah kerabat sekitar.

“Ini seperti kembali lagi seperti tahun lalu. Semakin hancur, semua masyarakat yang sudah dapat sembako dibawa arus banjir itu,” Suara pendeta Paten terdengar bergetar.

Desa Hutanabolon, kawasan terparah banjir-longsor

Desa Hutanabolon termasuk yang mengalami dampak terparah akibat banjir bandang dan longsor akhir November 2025 lalu.

Bencana menghancurkan ratusan unit rumah serta berbagai fasilitas umum.

Penyintas yang selamat menyambung hidup dengan cara masing-masing.

Sebagian menumpang tinggal di rumah tetangga atau kerabat, seperti keluarga Rina dan Pendeta Paten Sidabutar.

Sebagian lagi mengungsi ke tenda-tenda darurat di Sipange, Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah.

Jaraknya sekitar tiga hingga empat kilometer dari Kelurahan Hutanabolon.

Di sini, jumlah pengungsi pernah mencapai 912 orang.

Beberapa memilih pindah karena alasan tertentu, sedangkan lainnya belakangan angkat kaki dari tenda darurat—musababnya, lokasi itu akan dibangun hunian sementara.

Pemerintah pusat rencananya akan membangun 1.192 unit huntara yang tersebar di 11 lokasi di Kabupaten Tapanuli Tengah.

Sebanyak 80 unit di antaranya akan dibangun di Sipange, tempat tenda-tenda darurat tersebut kini berdiri.

‘Kami kembali tinggal di tenda’

Saat proses pengosongan berlangsung, beberapa warga yang sebelumnya sudah pergi kini balik mengungsi ke tenda darurat setelah banjir bandang lagi terjadi pada Rabu (11/02) lalu.

Satu di antara pengungsi yang kembali adalah Rinto Gultom, warga Lingkungan III Kelurahan Hutanabolon.

Selaku penyintas yang rumahnya rusak total, Rinto sempat beberapa bulan mengungsi di tenda darurat. Dia memutuskan pindah dan menumpang di rumah saudara karena anaknya sakit.

“Akibat banjir tadi malam keluarga saya kembali lagi ke tenda,” ujar Rinto.

Rinto adalah warga yang dulunya mencari penghasilan di bidang hiburan dengan menyewakan berbagai alat musik. Bencana pada akhir November 2025 mengubah segalanya.

“Kalau kondisi perekonomian saya saat ini lumpuh total, karena pekerjaan saya di bagian entertainment. Usaha saya hancur semua. Seperti sound system, mobil pengangkut barang dan dua sepeda motor saya hilang ditelan banjir,” ungkapnya.

Seperti Rini, keluarga Rinto juga belum memperoleh penyaluran DTH dari pemerintah. Dia juga mendapat kepastian tentang bantuan huntara ataupun huntap.

“Data-data sudah diminta oleh pemerintah, tapi kurang tahu juga nanti dapat atau tidak,” ujarnya.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, terdapat setidaknya empat kecamatan yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Tengah, 11 Februari lalu.

Selain Kecamatan Tukka, banjir juga melanda Kecamatan Pandan, Kecamatan Sarudik, dan Kecamatan Barus.

Hingga laporan ini dikirimkan, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu belum bisa dimintai keterangan lebih spesifik mengenai masalah yang dialami warganya.

Namun melalui akun media sosial pribadinya, Masinton menceritakan kronologi banjir bandang baru-baru ini. Menurutnya, banjir terjadi setelah cuaca ekstrem melanda kabupaten tersebut.

“Hujan deras mengakibatkan daerah-daerah di Tapanuli Tengah yang sebelumnya terdampak banjir kembali mengalami banjir,” kata Masinton.

Menurutnya, air sungai tetap meluap meskipun pihaknya telah melakukan pengorekan sedimen setelah banjir bandang tahun lalu.

Setelah keadaan memburuk, klaim Masinton, petugas langsung mengevakuasi warga ke tempat aman.

“Tanggul-tanggul darurat yang sudah kami buat itu kembali jebol dan air mengalir sangat deras serta dipenuhi oleh kayu,” sambungnya.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 13 Februari, terdapat 1.600 jiwa yang masih mengungsi sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Tapanuli Tengah pada akhir November 2025 lalu.

Bencana telah merenggut nyawa 130 orang dan lainnya masih hilang di daerah ini.

Dari sisi korban jiwa, tingkat kehancuran, dan jumlah pengungsi, Kabupaten Tapanuli Tengah tergolong daerah yang mengalami dampak terparah.

Setelah beberapa kali diperpanjang, status Tanggap Darurat bencana banjir dan longsor di provinsi ini ditetapkan berakhir pada 31 Desember 2025 lalu.

‘Luput pemulihan sosial-ekonomi dan lingkungan’

Pakar Kebencanaan asal UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan, kawasan yang pernah dilanda bencana berpotensi mengulangi peristiwa serupa pada kemudian hari.

Dalam konteks banjir bandang, peluang tersebut akan tetap ada hingga suatu daerah memasuki musim kemarau.

“Prinsipnya, daerah yang terpapar banjir bandang itu masih akan berpotensi terkena ancaman banjir bandang berulang,” ujarnya, Jumat (13/02).

Eko menyarankan otoritas setempat memastikan para penyintas bencana berada di tempat yang aman dan tidak lagi kembali ke lokasi semula.

“Tentu sangat disayangkan kalau ada upaya pihak-pihak yang melarang warga untuk tinggal di lokasi yang aman. Termasuk bila informasinya tidak sampai, sehingga warga kembali dari lokasi aman ke tempat tinggalnya yang semula. Karena masih akan terulang,” ujarnya.

Eko menjelaskan, penanggulangan bencana acap kali luput memprioritaskan pemulihan sosial-ekonomi dan lingkungan. Sejauh ini, lanjutnya, pemulihan cenderung fokus pada sektor permukiman dan infrastruktur.

“Bisa-bisa menjadi salah hitung dalam proses melakukan pemulihan,” ujarnya.

Pemulihan lingkungan atau moratorium, kata Eko, mestinya tergolong prioritas dalam mekanisme penanggulangan bencana. Sebab, potensi bencana umumnya bersumber dari kualitas lingkungan yang buruk.

“Itu sebenarnya yang lebih dulu harus ditangani karena ancaman itu bersumber dari kualitas lingkungan yang buruk. Paralel, tapi sepertinya hal-hal menyangkut moratorium tidak menjadi pilihan, karenanya tidak lazim,” ujarnya.

Lebih lanjut, Eko mengingatkan pemerintah dan semua pihak agar berhati-hati dalam melakukan pengkajian dan perhitungan dalam masa pemulihan bencana. Sebab, perhitungan yang keliru dapat menimbulkan masalah baru.

“Karena perhitungannya salah, masa pemulihan yang akan lebih lama dan menjadi collaps berulang-ulang warga di kawasan bencana tersebut,” pungkasnya.

Wartawan Nanda Batubara melakukan reportase dan menuliskannya.

  • Foto-foto Natal di Hutanabolon yang luluh lantak akibat banjir hingga ‘sinterklas’ pengatur lalu lintas di Solo
  • Kisah keluarga yang terjebak di hutan berhari-hari saat banjir dan longsor Sumut – ‘Tinggalkan aku, selamatkanlah adikmu’
  • Deforestasi di lahan konsesi perusahaan berperan dalam banjir dan longsor di Sumut, menurut hasil riset
  • ‘Tuhan akan mengatur dengan segala kesederhanaan’ – Bagaimana banjir dan longsor akan mengubah perayaan Natal sebuah kampung kecil di Sumatra?
  • Ribuan orang mengungsi akibat banjir dan longsor di Sumatra Utara, akibat perusakan hutan atau cuaca ekstrem?
  • Penampakan kayu gelondongan yang hanyut bersama banjir di Sumatra
  • Lebih dari 165.000 korban banjir Sumatra masih bertahan di pengungsian, hunian sementara belum memadai
  • Nasib petani durian Tapanuli Utara bertahan hidup setelah bencana banjir-longsor – ‘Warga bisa terjebak dalam kemiskinan baru’
  • Kisah anak-anak yang menjadi yatim piatu akibat petaka di Sumatra, apa tanggung jawab negara?
  • ‘Kalau tidak ada sawah, apa yang bisa dimakan?’ – Nasib petani dua bulan usai bencana Sumatra, ribuan hektare sawah masih lautan lumpur
  • Kisah petani kopi Gayo di Aceh bertahan hidup usai kebunnya rusak dihantam bencana Sumatra – ‘Cuma kopi harapan kami dan sekarang enggak ada lagi’
  • Solusi bagi korban banjir saat krisis air bersih – ‘Alhamdulillah dikasih air seperti ini’
  • Kisah keluarga yang terjebak di hutan berhari-hari saat banjir dan longsor Sumut – ‘Tinggalkan aku, selamatkanlah adikmu’
  • Ribuan orang mengungsi akibat banjir dan longsor di Sumatra Utara, akibat perusakan hutan atau cuaca ekstrem?
  • ‘Mendengar hujan dan petir, kami masih ketakutan’ – Natal dan Tahun Baru warga Adiankoting Sumut di tengah trauma banjir-longsor
Advertisements