Indeks Dolar AS menguat terseret sentimen geopolitik

JogloNesia – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) (DXY) menguat 0,24% secara harian ke level 97,14 pada Selasa (17/2/2026) berdasarkan data Bloomberg. Penguatan tersebut salah satunya karena sentimen geopolitik. 

Advertisements

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan indeks dolar AS (DXY) bergerak fluktuatif dan condong mengalami penguatan. Hal ini karena para spekulan hanya fokus terhadap kebijakan bank sentral dimana Presiden AS Donald Trump memilih Kevin Warsh sebagai kandidat ketua bank sentral AS. Menurutnya publik perlu mencermati arah kebijakan The Fed setelah resmi dipimpin Warsh. 

“Tetapi di kuartal I – 2026 indeks dolar condong akan kembali menguat,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Selasa (17/2/2026).   

Cermati Rekomendasi Saham DSSA, WIIM, INDY untuk Rabu (18/2)

Advertisements

Ibrahim menambahkan bahwa data – data ekonomi di AS cukup bagus. Seperti data tenaga kerja, pengangguran yang menurun, dan data inflasi lebih baik dibanding sebelumnya. Dengan demikian kemungkinan besar ada kecenderungan indeks dolar menguat 

Selain itu, Ibrahim melihat sentimen geopolitik juga mendukung penguatan indeks dolar. Terutama yang berkaitan dengan tensi geopolitik di Timur Tengah dan di Eropa. AS disebut akan mengirim kapal induk tambahan ke Timur Tengah. Pengiriman kapal mengindikasikan potensi penyerangan terhadap Iran. Hal itu yang kemungkinan akan menahan laju mata uang lain. 

Menurut Ibrahim, valuta asing (valas) utama akan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di kuartal I – 2026. Di satu sisi, publik belum bisa bicara apakah kebijakan The Fed akan dovish atau tidak. Ini mengindikasikan dolar pada kuartal I – 2026 mengalami penguatan 

“Pada saat geopolitik memanas, dolar AS menguat, kemudian mata uang lainnya akan mengalami pelemahan signifikan,” ucap Ibrahim. 

IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas pada Rabu (18/2), Ini Rekomendasi Analis

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, prospek indeks dolar AS (DXY) pada kuartal I – 2026 masih akan terus tertekan. Secara aksi – aksi dan kebijakan AS yang tidak bersahabat akan semakin meningkatkan aksi perlepasan aset AS (debasement trade) dan dedolarisasi. 

Lukman melihat sentimen yang mempengaruhi pergerakan indeks dolar (AS) antara lain kebijakan pemerintah AS, perekonomian AS dan prospek suku bunga the Fed. 

Lukman melihat apabila keadaan semakin suram baik ekonomi (pasar saham), dan geopolitik, pilihan valas yang paling ideal adalah Swiss Franc (CHF).

“Apabila terjadi eskalasi geopolitik, dan terlebih letusan bubble artificial intelligence (AI), CHF bisa mencapai 0,70 – 0.72,” ucap Lukman.

Advertisements