Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), Senin (23/2). Inisiatif ini bertujuan memperkuat fondasi ekonomi dan keuangan digital nasional, sekaligus menjawab tantangan literasi, keamanan, dan inklusi di tengah pesatnya pertumbuhan transaksi digital.
Program tersebut diinisiasi BI bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Asosiasi Penyelenggara Uang Virtual Indonesia (APUVINDO), serta Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI).
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono, menyampaikan ekonomi digital Indonesia memasuki fase akselerasi sejak implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025–2030.
“Sejak BSPI 2025–2030 berjalan, pertumbuhan ekonomi dan keuangan digital kita sangat kuat. Volume transaksi QRIS hampir mencapai 300 miliar per tahun dengan nilai lebih dari Rp50 triliun,” ujar Dicky.
1. Sebanyak 90 persen perbankan nasional miliki layanan mobile banking
Tak hanya pertumbuhan QRIS, kanal pembayaran lain juga tumbuh signifikan. Dalam catatannya, sebanyak 90 persen perbankan nasional telah memiliki layanan mobile banking. Sementara itu, nilai transaksi melalui BI-FAST telah menembus Rp1,7 kuadriliun.
Meski demikian, Dicky mengingatkan pertumbuhan tersebut harus diimbangi penguatan ekosistem. Literasi digital, perlindungan konsumen, serta perluasan akses hingga wilayah pedesaan menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Tidak bisa hanya Bank Indonesia. Kita perlu orkestrasi inovasi. Semua pihak harus terlibat membangun ekosistem yang kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.
PIDI dirancang untuk mengakselerasi berbagai solusi digital yang siap diterapkan di industri, memperluas inklusi keuangan, dan memberi nilai tambah nyata bagi perekonomian nasional. Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam mengakselerasi transformasi Ekonomi dan Keuangan Digital (EKD) yang selaras dengan Asta Cita dan visi Indonesia Emas 2045 melalui pengembangan talenta digital nasional yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global.
2. PIDI dirancang untuk menjawab dua kebutuhan utama dalam pengembangan ekonomi dan keuangan digital
Dicky menjelaskan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) dirancang untuk menjawab dua kebutuhan utama dalam pengembangan ekonomi dan keuangan digital nasional, yakni kebutuhan industri serta penciptaan talenta dan lapangan kerja baru.
Kebutuhan dari sisi industri, PIDI akan menghadirkan pelatihan terstruktur yang dilanjutkan dengan pengembangan proyek percontohan (pilot project). Selanjutnya, hasil proyek tersebut akan dipertemukan dengan pelaku industri melalui skema business matching.
“Tujuannya membangun ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang kuat serta mampu bersaing di tingkat global,” ujar Dicky.
Selain menjawab kebutuhan industri, PIDI juga difokuskan pada penciptaan lapangan kerja dan pengembangan talenta (job creation dan talent development). BI akan membangun talent pool melalui pelatihan sertifikasi berjenjang. Para peserta tidak hanya dibekali kompetensi teknis, tetapi juga didorong menjadi wirausaha yang mampu membuka lapangan kerja.
“Mereka bukan sekedar ikut program, tapi membuktikan langsung dengan membangun startup dan bertemu pelaku bisnis untuk menjawab berbagai use case, khususnya di sektor sistem keuangan,” jelasnya.
3. Program utama dari PIDI adalah Digdaya
PIDI, lanjut Dicky, diposisikan sebagai engine inovasi dan penciptaan talenta digital nasional. Salah satu program utamanya adalah Digital Talent Berdaya dan Berkarya (Digdaya). Program ini terdiri atas sejumlah tahapan, mulai dari essential level, practitioner level, hingga capstone project dengan tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.
Sebelum mengikuti kompetisi hackathon, peserta wajib menjalani rangkaian pelatihan tersebut. Setelah menyelesaikan pelatihan, mereka akan berkompetisi dalam hackathon untuk menghasilkan solusi konkret yang siap diterapkan.
“BI menargetkan sekitar 3.000 peserta dalam waktu satu setengah bulan pelaksanaan program. Target ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang berhasil menjaring sekitar 2.700 peserta dengan ratusan proposal inovasi yang masuk,” tegasnya.
Saat peluncuran, sekitar 300 talenta digital muda hadir secara langsung, sementara sekitar 1.000 peserta lainnya mengikuti secara daring. BI berharap para talenta tersebut mendapatkan arahan, motivasi, dan inspirasi untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi dan keuangan digital Indonesia.
QRIS Tembus 60 Juta Pengguna, Perry Warjiyo Kenang Awal Mula QRIS Cara Penukaran Uang Tunai BI Ramadan–Lebaran 2026, Ada Rp185,6 Triliun! BI Buka Pemesanan Tukar Uang Baru 2026, Ini Rincian Caranya
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia