Kinerja Astra (ASII) diprediksi stabil di tahun 2025, begini rekomendasi sahamnya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelaku pasar dan investor saat ini tengah menantikan publikasi laporan keuangan tahun buku 2025 dari PT Astra International Tbk (ASII), yang direncanakan rilis dalam waktu dekat. Sejumlah analis menilai, kinerja emiten otomotif terbesar di Tanah Air tersebut diproyeksikan tetap tumbuh stabil.

Advertisements

Senior Market Analyst Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai, secara fundamental proyeksi kinerja Astra International (ASII) pada 2025 masih cenderung stabil.

Ia menjelaskan, sepanjang tahun lalu penjualan otomotif memang mengalami kelesuan. Namun, pada kuartal IV-2025 mulai terlihat adanya perbaikan, sehingga kinerja ASII di periode tersebut diperkirakan relatif positif.

Minat Investor Terhadap SBN Terbatas, Imbal Hasil Dinilai Kurang Kompetitif

Advertisements

Di sisi lain, Nafan menyoroti tantangan pada lini usaha lainnya, terutama dari komoditas batu bara yang harganya tengah melandai. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi kinerja anak usaha ASII di sektor alat berat pertambangan, yakni United Tractors (UNTR).

Kondisi ini, lanjut Nafan, berpotensi membuat pertumbuhan pendapatan ASII pada 2025 cenderung datar atau stagnan. Selain itu, beban bunga yang cukup tinggi sepanjang tahun lalu juga dapat memengaruhi capaian laba bersih perseroan.

“Laba bersih diperkirakan masih relatif stabil, sejalan dengan kinerja top line,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (25/2/2026).

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer memperkirakan kinerja ASII masih cukup solid secara keseluruhan, meski pertumbuhannya kemungkinan tidak terlalu agresif. 

Menurutnya, kinerja pendapatan berpotensi naik tipis, namun laba bersih bisa cenderung datar atau sedikit tertekan, terutama karena kontribusi segmen emas yang mulai normal seiring pergerakan harga komoditas serta adanya beban non-operasional seperti penalti lingkungan. 

Selain itu, perbaikan penjualan otomotif pada kuartal IV-2025 lalu mampu memberikan sentimen positif. Namun, margin tetap sensitif terhadap daya beli masyarakat dan kondisi pembiayaan.

Untuk 2026, Nafan berpendapat tantangan di segmen otomotif diproyeksikan masih berlanjut, terutama akibat ketatnya persaingan dengan mobil listrik asal China yang semakin mendominasi pasar, khususnya di kota-kota besar. 

Bumi Serpong Damai (BSDE) Pasang Target Marketing Sales Rp 10 Triliun di 2026

Namun, Astra dinilai masih memiliki keunggulan pada penjualan kendaraan hybrid yang performanya tetap solid. Di sisi lain, pada 2026 Astra juga terus mengembangkan segmen kendaraan battery electric vehicle (BEV) guna memperkuat daya saing terhadap merek-merek asal China.

Sementara itu, Miftahul memperkirakan kinerja ASII untuk tahun 2026 masih menyimpan peluang jika penjualan mobil nasional membaik dan suku bunga lebih bersahabat, meski risiko dari fluktuasi harga komoditas dan konsumsi tetap perlu diperhatikan. 

“Jadi secara umum, ASII tetap defensif dan stabil, namun pertumbuhan labanya kemungkinan bertahap, bukan melonjak tajam,” ujar Miftahul.

Dari sisi rekomendasi saham, Miftahul merekomendasikan trading buy saham ASII di target harga Rp 6.900 per saham. Sementara Nafan menyarankan untuk akumulasi beli saham ASII dengan target harga di level Rp 7.275 per saham.

Advertisements