CSIS ungkap risiko di balik syarat tarif tekstil nol persen

PENELITI Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Riandy Laksono mengungkapkan risiko di balik syarat pemberlakuan tarif 0 persen untuk produk tekstil dalam perjanjian dagang Indonesia-AS. Dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART), besaran kuota bebas tarif untuk produk tekstil ditentukan bersadasarkan seberapa banyak penggunaan bahan baku asal AS.

Advertisements

Di sisi lain, Riandy mengatakan sebagian besar bahan baku tekstil yang digunakan oleh Indonesia berasal dari Cina. Ia memaparkan, bahan baku cotton yang diimpor dari AS hanya sekitar 8,6 persen. Sedangkan dari Cina mencapai 29,4 persen.

Kemudian, bahan baku man-made fiber dari AS hanya mencakup 0,3 persen. Sedangkan dari Cina mencapai 65,1 persen. “Kalau dunia usaha dipaksa atau didorong untuk menggunakan bahan baku dari Amerika akan ada disrupsi yang cukup besar dari rantai pasok,” kata Riandy dalam diskusi media di kantor CSIS, Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026.

Selain itu, kata Riandy, harga bahan baku dari AS lebih mahal dibanding supplier lainnya. Ia mencontohkan, harga kain katun dari AS dibanderol dengan harga US$ 19,9 per kilogram. Sedangkan dari Cina harganya hanya US$ 6,25 per kilogram. Riandy berpendapat mahalnya harga bahan baku AS berpotensi menghapus keuntungan yang didapat dari pengecualian tarif 0 persen untuk produk tekstil.

Advertisements

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan AS sepakat membebaskan tarif untuk ekspor produk tekstil asal Indonesia dengan batasan kuota tertentu. “Volumenya itu nanti secara teknis, tetapi di dalam MoU kemarin sudah ada pembelian cotton yang juga nanti akan memberikan (pembebasan tarif) ekspor dan selama ini ekspornya sekitar US$ 4 miliar,” ujar Airlangga Hartarto.

Secara keseluruhan, perjanjian dagang antara Indonesia dan AS telah menyepakati produk-produk Indonesia yang diekspor ke Amerika dikenakan tarif 19 persen. Kecuali 1.819 produk pertanian maupun industri yang mendapat tarif nol persen tanpa pengecualian atau ketentuan khusus. Di antaranya minyak sawit mentah, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang.

Pilihan Editor: Bayangan PHK Industri Otomotif Setelah Impor Mobil India

Advertisements