
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan negara lain dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
“Saya tak mendesak mereka, karena sikap saya adalah, kami tidak membutuhkan siapa pun. Kami adalah negara terkuat di dunia. Kami memiliki militer terkuat di dunia. Kami tidak butuh mereka,” kata Trump kepada wartawan, Senin seperti dilansir Sputnik dan dikutip Antara.
Ia menambahkan bahwa dalam beberapa kasus ia meminta bantuan bukan karena kebutuhan, melainkan untuk mengetahui bagaimana reaksi negara-negara tersebut.
Trump juga mengeklaim bahwa sejumlah negara telah menyampaikan kesiapan untuk membantu AS membuka Selat Hormuz.
“Beberapa sangat antusias, tetapi beberapa lainnya tidak,” ujarnya.
Trump terus menekan negara-negara yang bergantung pada minyak Timur Tengah, termasuk Jepang dan Korea Selatan, untuk mengirim kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran penting itu.
Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump kembali menyerukan dukungan untuk membuka selat tersebut, yang menjadi jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Ia juga mengklaim banyak negara telah bersiap untuk membantu, tetapi tidak menjelaskan negara mana yang mendukung dan mana yang tidak.
Trump telah meminta sekutu untuk membantu AS menjaga Selat Hormuz, yang telah diblokade oleh pasukan Iran sebagai tanggapan atas pemboman intensif AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, sejumlah sekutu Eropa yang juga anggota NATO seperti Jerman, Spanyol hingga Inggris menolak untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz.
“Ini bukan perang NATO,” kata juru bicara Kanselir Jerman Friedrich Merz seperti dilansir The Independent. “NATO adalah aliansi untuk mempertahankan wilayah aliansi. Amerika Serikat tidak berkonsultasi dengan kami sebelum perang ini, dan karena itu kami percaya ini bukan urusan NATO atau pemerintah Jerman.”
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut memicu penghentian de facto lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan itu juga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Pilihan Editor: Iran akan Terus Lawan AS hingga Trump Akui Kesalahan
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia