
PEMERINTAH Amerika Serikat menyatakan biaya operasi militernya terhadap Iran telah mencapai sekitar US$ 12 miliar atau sekitar Rp 203,8 triliun. Pernyataan ini disampaikan penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, di tengah upaya pemerintah meredam kekhawatiran publik atas membengkaknya ongkos perang.
Berbicara kepada CBS News, Hassett mengatakan angka tersebut merupakan total pengeluaran sejak Amerika Serikat melancarkan serangan bersama Israel.
“US$ 12 miliar adalah angka yang saya terima dalam pengarahan sebagai jumlah yang telah dibelanjakan sejauh ini,” ujar Hassett. Ia menambahkan, angka tersebut belum mencerminkan total biaya keseluruhan operasi yang diperkirakan berlangsung beberapa pekan.
Durasi Operasi dan Proyeksi Militer
Menurut laporan Middle East Monitor, pejabat Departemen Pertahanan memperkirakan operasi militer ini akan berlangsung selama empat hingga enam pekan. Hassett menyebut pelaksanaan operasi saat ini sudah melampaui jadwal awal. “Kami sudah berjalan sekitar beberapa pekan,” kata dia.
Sementara itu, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengatakan bahwa perang “pasti akan berakhir dalam beberapa pekan ke depan.” Sebelumnya, estimasi Pentagon menunjukkan biaya perang telah melampaui US$ 11,3 miliar hanya dalam enam hari pertama, terutama dipicu penggunaan amunisi berpemandu presisi dan intensitas serangan udara.
AS Klaim Dampak Ekonomi Terkendali
Pemerintah AS menegaskan konflik ini tidak akan membebani ekonomi secara signifikan maupun memerlukan pendanaan darurat dari Kongres. Hassett menyatakan pemerintah tidak berencana mengajukan tambahan anggaran karena stok militer yang ada dinilai masih mencukupi untuk melanjutkan operasi.
Mereka juga berupaya mengantisipasi gangguan rantai pasok. Hassett mengatakan pemerintah memperluas izin operasi energi dari Venezuela serta mengamankan pasokan pupuk dari Maroko dan Venezuela untuk melindungi petani Amerika.
Selain itu, pemerintah membuka akses lebih luas bagi kapal asing untuk mengangkut bahan bakar jet dari Teluk Meksiko ke Pantai Barat Amerika Serikat guna mengatasi potensi kelangkaan akibat terganggunya pasokan dari Asia.
Hassett juga menanggapi peringatan Iran terkait potensi dampak ekonomi. Ia menilai Amerika Serikat berada dalam posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis energi 1970-an karena kini berstatus sebagai produsen minyak utama.
Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Middle East Monitor melaporkan, sekitar 1.200 orang tewas sejak operasi dimulai, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Di pihak Amerika Serikat, sebanyak 14 personel militer dilaporkan tewas.
Pilihan Editor: Iran Tantang Trump Kirim Kapal ke Teluk Persia
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia