
KOORDINATOR Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Lebanon Jeanine Hennis-Plasschaert memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan akan semakin menyulitkan proses pemulihan. Ia juga menyoroti meningkatnya retorika keras yang menghambat peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi. “PBB mendesak dilakukannya gencatan senjata segera untuk menghentikan kehancuran,” katanya seperti dilansir pada laman resmi PBB pada 31 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa diperlukan langkah awal berupa pembangunan kepercayaan, penguatan peran negara Lebanon dalam keputusan perang dan damai. Perlu pula dimulainya perundingan antara Lebanon dan Israel.
Menurut PBB, keuntungan militer jangka pendek berisiko menimbulkan kerusakan permanen terhadap stabilitas dan kesejahteraan kedua negara. “Sudah saatnya beralih ke proses yang membangun, bukan menghancurkan,” katanya.
Hennis-Plasschaert menilai eskalasi konflik antara Hizbullah dan Israel terus menelan korban jiwa dan memperparah kondisi kemanusiaan di Lebanon. Dalam 24 jam terakhir tiga penjaga perdamaian PBB tewas saat menjalankan tugas di Lebanon selatan. Selain itu, sembilan paramedis Lebanon dilaporkan meninggal dalam satu hari pada akhir pekan lalu.
Sejak meningkatnya permusuhan antara Hizbullah dan Israel pada 2 Maret, jumlah korban tewas mencapai 1.247 orang. Korban mencakup tenaga kesehatan, jurnalis, warga sipil, serta tentara Lebanon yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran.
PBB menilai kondisi Lebanon kini memburuk drastis. Sejumlah wilayah hancur dan berubah menjadi kota kosong. Lebih dari 1,2 juta warga dilaporkan mengungsi akibat konflik yang terus meluas.
Di tengah situasi tersebut, Hizbullah tetap meluncurkan roket dan rudal ke wilayah Israel serta melakukan operasi darat di Lebanon selatan. Sementara itu, Israel Defense Forces terus memperluas operasi militernya ke dalam wilayah Lebanon, disertai serangan terarah di berbagai lokasi.
Pilihan Editor: Kemhan: Belum Ada Rencana Tarik Pasukan TNI dari Lebanon
GHAEIZA KAY RASUFFI
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia