BI Proyeksikan Sektor Pertanian dan Transportasi Jadi Motor Pertumbuhan Kredit

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyoroti masih tingginya angka undisbursed loan atau kredit yang telah disetujui namun belum dicairkan di berbagai sektor ekonomi. Fenomena ini dinilai sebagai peluang emas bagi perbankan untuk menggenjot penyaluran kredit guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tanpa harus memicu tekanan inflasi.

Advertisements

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa terdapat beberapa sektor strategis yang memiliki potensi besar untuk dipacu, merujuk pada rekam jejak historisnya. Sektor-sektor tersebut meliputi sektor pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, serta pengangkutan.

Menurut Destry, meski di beberapa sektor lain kondisi penarikan kredit cenderung seimbang, secara keseluruhan rasio kredit yang belum dicairkan masih bertahan pada level yang cukup tinggi, yakni berada di atas 20 persen.

Baca Juga: Bank Indonesia Luncurkan Program Pinisi, Dorong Percepatan Pembiayaan Swasta

Advertisements

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kinerja kredit perbankan secara umum masih menunjukkan tren positif. Hingga Maret, pertumbuhan kredit tercatat mencapai 9,4 persen, dengan bank-bank milik negara (Himbara) menjadi motor utama dalam ekspansi pembiayaan tersebut.

“Pertumbuhan kredit per Maret berada di kisaran 9,4 persen hingga 9,5 persen dengan bank-bank Himbara sebagai penggerak utamanya,” ujar Destry dalam diskusi peluncuran Percepatan Intermediasi Indonesia (Pinisi) di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Baca Juga: Maybank Indonesia (BNII) Tebar Dividen Rp580,07 Miliar, Catat Jadwalnya!

Dalam kesempatan tersebut, bank sentral juga mendorong bank swasta serta kantor cabang bank asing untuk mengambil peran lebih aktif dalam meningkatkan fungsi intermediasi. Langkah ini diprioritaskan pada sektor-sektor yang memiliki ruang penarikan kredit masih cukup luas.

Destry menilai bahwa siklus keuangan domestik saat ini masih berada di bawah siklus makroekonomi. Kondisi ini memberikan ruang pertumbuhan yang cukup lebar bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan tanpa khawatir memicu inflasi yang berlebihan.

Baca Juga: Stabilitas Jadi Prioritas, Bank Indonesia Siap Tempuh Upaya Lanjutan Demi Rupiah

Untuk mendukung hal tersebut, Bank Indonesia meluncurkan program Pinisi sebagai inisiatif untuk menjembatani kesenjangan antara ketersediaan dana di perbankan dengan kebutuhan pembiayaan di sektor riil. “Kami berupaya untuk bridging the gap,” tegas Destry.

Dengan mengoptimalkan penyaluran kredit pada sektor-sektor yang memiliki rasio undisbursed loan tinggi, diharapkan fungsi intermediasi perbankan akan semakin kuat. Upaya ini menjadi kunci strategis dalam mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan dalam jangka menengah.

Ringkasan

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan sektor pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, dan pengangkutan sebagai motor utama pertumbuhan kredit karena tingginya rasio pinjaman yang belum ditarik. Hingga Maret, pertumbuhan kredit nasional tercatat mencapai kisaran 9,4 persen hingga 9,5 persen dengan dominasi dari bank-bank milik negara. Optimasi penyaluran kredit pada sektor-sektor strategis ini dinilai mampu mendorong ekonomi tanpa memicu tekanan inflasi.

BI juga meluncurkan program Pinisi untuk menjembatani kesenjangan pembiayaan antara ketersediaan dana perbankan dengan kebutuhan sektor riil. Bank swasta serta kantor cabang bank asing didorong untuk lebih aktif meningkatkan fungsi intermediasi mereka pada berbagai sektor potensial. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan melalui pemanfaatan ruang pertumbuhan yang masih luas.

Advertisements