Kontroversi SpaceX: Elon Musk Dituding Manfaatkan Perusahaan untuk Kepentingan Pribadi

JogloNesia — Rencana SpaceX untuk melantai di bursa saham melalui initial public offering (IPO) dengan valuasi fantastis mencapai 1,75 triliun dolar AS, atau setara dengan Rp 30.170 triliun, kini tengah menjadi sorotan tajam. Proses IPO ini tidak hanya mengungkap skala bisnis perusahaan, tetapi juga menyingkap praktik keuangan internal yang kompleks di dalam jaringan bisnis milik Elon Musk.

Advertisements

Sejak didirikan pada tahun 2002 dengan visi eksplorasi Mars, SpaceX telah berkembang pesat melampaui dominasinya di sektor peluncuran roket dan layanan internet satelit Starlink. Perusahaan ini juga berperan sebagai pilar pendukung keuangan bagi entitas lain dalam ekosistem bisnis Musk, termasuk Tesla, SolarCity, dan xAI.

Berdasarkan investigasi The New York Times yang dipublikasikan pada Senin (27/4/2026), dokumen internal dan catatan hukum menunjukkan bahwa selama dua dekade terakhir, SpaceX sering berfungsi sebagai celengan pribadi bagi Musk. Aliran dana tersebut mencakup pemberian pinjaman pribadi dengan bunga rendah hingga aksi penyelamatan terhadap perusahaan afiliasi yang sedang mengalami krisis keuangan.

Artemis III Uji Docking Orion di Orbit Bumi 2027, Starship Elon Musk dan Blue Moon Jeff Bezos Berebut Kontrak Artemis IV

Advertisements

Sebagai contoh, pada tahun 2018, Musk tercatat meminjam 100 juta dolar AS dari SpaceX. Dalam kurun waktu tiga tahun berikutnya, total pinjaman tersebut membengkak hingga 500 juta dolar AS atau sekitar Rp 8,62 triliun. Dokumen internal mengungkap bahwa tingkat bunga pinjaman ini sangat rendah, berkisar antara kurang dari 1 persen hingga hampir 3 persen. Angka tersebut jauh di bawah suku bunga perbankan yang mencapai 5 persen pada periode yang sama. Meskipun pinjaman tersebut telah dilunasi pada tahun 2021 dengan bunga sebesar 14 juta dolar AS, praktik ini dianggap sangat tidak lazim bagi perusahaan publik.

Menanggapi hal tersebut, Profesor hukum dari University of Colorado Boulder, Ann Lipton, menilai bahwa transaksi ini sarat dengan konflik kepentingan. Menurutnya, kondisi di mana satu individu mengendalikan banyak entitas bisnis sekaligus menciptakan risiko besar bagi para investor. Pola keterkaitan finansial ini bukanlah hal baru; SpaceX tercatat pernah membantu Tesla saat krisis keuangan global tahun 2008 melalui suntikan dana sebesar 20 juta dolar AS.

Pola intervensi serupa juga diterapkan pada SolarCity. Pada tahun 2015, SpaceX membeli utang berisiko tinggi milik SolarCity dengan total dana mencapai 255 juta dolar AS hingga tahun 2016, meskipun tindakan tersebut dinilai tidak sejalan dengan aturan internal perusahaan. Langkah kontroversial ini berujung pada gugatan investor saat Tesla mengakuisisi SolarCity senilai 2,6 miliar dolar AS. Meski pengadilan Delaware memenangkan Musk, hakim mencatat bahwa keterlibatan Musk dalam transaksi tersebut melampaui batas kewajiban fidusia yang seharusnya mengutamakan kepentingan perusahaan.

Kini, perhatian tertuju pada ekspansi SpaceX ke sektor kecerdasan buatan melalui xAI. Pada tahun 2025, divisi ini dilaporkan menyerap 61 persen belanja modal SpaceX dengan kerugian operasional mencapai 6,4 miliar dolar AS. Analis Futurum Equities, Shay Boloor, menyoroti bahwa profil keuangan SpaceX saat ini lebih menyerupai perusahaan infrastruktur AI yang ambisius dibandingkan dengan profil perusahaan roket dan satelit tradisional.

Dari sisi tata kelola, SpaceX dipastikan akan mempertahankan status sebagai perusahaan terkendali setelah IPO. Struktur ini memungkinkan dewan direksi tetap memiliki fleksibilitas tinggi dalam pengaturan kompensasi, namun memicu kekhawatiran terkait independensi pengawasan. Dengan beban utang mencapai 20 miliar dolar AS dan kebutuhan dana besar untuk pengembangan AI, IPO SpaceX akan menjadi ujian krusial. Para investor tidak hanya membeli kinerja perusahaan saat ini, tetapi juga harus mempertimbangkan risiko dari transformasi bisnis yang belum sepenuhnya terefleksi dalam data keuangan yang ada.

Ringkasan

Rencana SpaceX untuk melantai di bursa saham dengan valuasi fantastis memicu sorotan tajam terkait praktik keuangan internal Elon Musk. Investigasi mengungkapkan bahwa SpaceX sering digunakan sebagai sumber pendanaan pribadi bagi Musk, termasuk pemberian pinjaman berbunga rendah serta penyaluran dana untuk menyelamatkan perusahaan afiliasi seperti Tesla dan SolarCity. Praktik ini dinilai sarat dengan konflik kepentingan dan melampaui batas kewajiban fidusia yang seharusnya mengutamakan kepentingan perusahaan.

Kini, perhatian tertuju pada keterkaitan finansial SpaceX dengan entitas xAI yang menyerap sebagian besar belanja modal perusahaan. Dengan beban utang yang besar dan struktur tata kelola yang tetap terkendali, langkah IPO SpaceX menjadi ujian krusial bagi para investor. Mereka dihadapkan pada risiko terkait independensi pengawasan serta transformasi bisnis perusahaan yang semakin condong ke arah pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan.

Advertisements