Kesaksian Penumpang MV Hondius Saat Wabah Hantavirus Merebak di Kapal

“Kami bukan sekadar cerita. Kami bukan hanya judul berita, kami adalah manusia dengan keluarga, kehidupan, dan orang-orang yang menunggu kami di rumah,” ungkap Jake Rosmarin sembari menahan tangis. Kalimat emosional itu terlontar dari salah satu penumpang MV Hondius, kapal pesiar mewah yang impian perjalanannya berubah menjadi mimpi buruk di tengah Samudra Atlantik.

Advertisements

Jake, seorang vlogger perjalanan asal Amerika Serikat, merupakan satu dari sekitar 150 penumpang dari 23 negara yang kini terdampar di dekat Tanjung Verde, Afrika bagian barat. Perjalanan yang awalnya direncanakan sebagai petualangan eksotis kini dihantui oleh ancaman kesehatan serius: hantavirus. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah teridentifikasi delapan kasus, dengan tiga di antaranya terkonfirmasi dan lima lainnya masih dalam status dugaan.

Kondisi di atas kapal menjadi semakin genting setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia, sementara beberapa lainnya menunjukkan gejala penyakit sejak kapal bertolak dari Argentina sebulan lalu. Otoritas kesehatan internasional kini tengah berupaya keras menguji sampel para penumpang, dengan WHO menyatakan kekhawatiran bahwa virus tersebut berpotensi menular di antara mereka yang berada di atas kapal.

Ketidakpastian menyelimuti para penumpang setelah rencana kapal untuk berlabuh di Kepulauan Canary menemui hambatan. Pemimpin wilayah Kepulauan Canary, Fernando Clavijo, secara terbuka menentang keputusan pemerintah Spanyol yang mengizinkan kapal berbendera Belanda tersebut untuk bersandar, sehingga memaksa para penumpang untuk tetap berada di laut tanpa kepastian waktu evakuasi.

Advertisements

“Ada banyak ketidakpastian dan itu adalah bagian tersulit. Kami hanya ingin merasa aman, mendapatkan kejelasan, dan bisa segera pulang,” ujar Rosmarin melalui akun TikTok-nya. Namun, di tengah kecemasan tersebut, muncul perspektif berbeda dari penumpang lain. Kasem Hato, seorang influencer perjalanan lainnya, justru menganggap situasi ini dibesar-besarkan oleh media.

Menurut Hato, kepanikan yang muncul berawal dari video seorang penumpang yang kemudian viral, padahal kenyataannya 148 orang lainnya tetap tenang. “Reaksi tersebut dapat dimengerti, namun tidak mencerminkan situasi sesungguhnya di atas kapal. Kami semua mendoakan yang sakit agar segera pulih,” tulis Hato. Ia menambahkan bahwa para penumpang mengisi hari-hari mereka dengan membaca buku, menonton film, dan menikmati minuman hangat.

Menanggapi perbedaan narasi tersebut, operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyatakan bahwa suasana di atas kapal secara umum tetap tenang. Pihak perusahaan menegaskan komitmen mereka untuk terus memberikan kejelasan kepada para tamu serta berupaya mempercepat proses evakuasi medis dan prosedur turun dari kapal. Hingga saat ini, para penumpang masih menunggu perkembangan selama tiga hingga empat hari ke depan, sementara petugas kesehatan dengan alat pelindung diri (APD) lengkap sesekali tampak meninjau kondisi di atas kapal.

Perjalanan ini sebenarnya dirancang sebagai pengalaman sekali seumur hidup. Berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April, MV Hondius membawa penumpangnya melintasi pemandangan spektakuler, mulai dari pegunungan bersalju hingga koloni penguin di South Georgia dan pulau terpencil Tristan da Cunha. Namun, tragedi mulai muncul ketika seorang pria Belanda meninggal pada 11 April, yang kemudian diikuti oleh kematian istrinya di Afrika Selatan dan seorang penumpang asal Jerman pada 2 Mei. Kementerian Kesehatan Afrika Selatan baru-baru ini mengonfirmasi bahwa galur Andes dari virus tersebut, yang diketahui dapat menular antarmanusia, telah teridentifikasi pada pasien yang dievakuasi.

Saat ini, upaya penanganan terus berlanjut. Para penumpang diminta tetap menjaga jarak sosial, mengenakan masker di dalam ruangan, dan menerapkan protokol kebersihan diri yang ketat. Di tengah kekosongan ruangan pesta yang kini senyap, mereka hanya berharap agar segera mendapatkan kepastian untuk kembali ke rumah.

Baca juga:

  • Hantavirus kemungkinan menyebar antarpenumpang di kapal pesiar, kata WHO
  • Apa itu hantavirus yang mewabah di sebuah kapal pesiar?
  • Virus corona: Bagaimana kehidupan orang-orang yang dikarantina di kapal pesiar Diamond Princess?
  • Misteri kematian aktor Gene Hackman dan istrinya berhasil dipecahkan
  • Kru kapal pesiar yang terlupakan akibat pandemi Covid-19: ‘Saya terdampar di atas kapal selama dua bulan’
  • Apa itu Cicada, varian baru Covid-19?
  • Apakah virus Nipah sudah ada di Indonesia, dan perlukah kita khawatir?

Ringkasan

Sekitar 150 penumpang kapal pesiar MV Hondius kini terdampar di dekat Tanjung Verde setelah wabah hantavirus merebak di tengah perjalanan dari Argentina. Sebanyak delapan kasus telah teridentifikasi, dengan tiga orang dinyatakan meninggal dunia, sehingga memicu kekhawatiran serius terkait penularan virus antarpenumpang. Saat ini, otoritas kesehatan internasional tengah melakukan pengujian medis intensif, sementara evakuasi kapal terhambat akibat penolakan dari pemerintah daerah Kepulauan Canary.

Situasi di atas kapal diwarnai perbedaan narasi antara kecemasan para penumpang mengenai ketidakpastian evakuasi dengan anggapan bahwa kondisi di dalam kapal masih terkendali. Operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyatakan komitmennya untuk memastikan keamanan tamu sambil menunggu prosedur evakuasi medis lebih lanjut. Saat ini, seluruh penumpang diwajibkan mematuhi protokol kesehatan ketat, termasuk penggunaan masker dan menjaga jarak sosial, hingga ada kejelasan mengenai waktu kepulangan mereka.

Advertisements