
Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung secara resmi menolak permohonan penggunaan fasilitas kampus untuk acara pemutaran film dokumenter berjudul Pesta Babi. Penolakan ini dituangkan melalui surat resmi yang ditandatangani oleh Kepala Biro Akademik dan Umum ISBI Bandung, Dede Priana, pada 13 Mei 2026.
Dede menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah pihak kampus menerima laporan terkait rencana pemutaran film yang melibatkan pihak luar di Gedung Olah Seni (GOS) Patanjala. Menurutnya, permohonan izin tersebut diajukan secara mendadak sehingga tidak dapat diproses secara administratif, terlebih karena bertepatan dengan hari libur.
Pihak pimpinan kampus mulai melakukan mitigasi setelah mengetahui substansi acara tersebut melalui selebaran yang beredar pada Rabu siang. “Pimpinan menerima informasi bahwa film tersebut mengandung unsur-unsur yang sensitif. Sebagai langkah antisipasi, kami memutuskan untuk tidak memberikan izin penggunaan gedung dan menyarankan agar kegiatan tersebut dilaksanakan di luar lingkungan kampus,” ungkap Dede kepada Tempo, Kamis 14 Mei 2026.
Dalam surat resmi penolakannya, ISBI Bandung memaparkan sejumlah pertimbangan mendalam. Selain masalah administrasi, pihak kampus menilai materi film tersebut sangat sensitif secara politik karena mengangkat isu-isu krusial seperti konflik tanah adat, militerisasi, kolonialisme modern, serta isu kesukuan. ISBI mengkhawatirkan muatan narasi film tersebut berpotensi memicu polemik serta ketegangan sosial-politik.
Lebih lanjut, pihak kampus menyoroti judul film yang dianggap provokatif dan berisiko menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat, terutama di lingkungan yang mayoritas beragama Islam. Kekhawatiran akan terjadinya kesalahpahaman serta perlunya menjaga situasi kondusif di area kampus menjadi alasan utama ISBI untuk menghindari potensi gangguan ketertiban umum.
ISBI juga menilai bahwa materi dalam film tersebut memuat unsur kekerasan, penggunaan bahasa vulgar, serta kritik sosial-politik yang dianggap tidak selaras dengan norma-norma tertentu. Sebagai informasi, film dokumenter Pesta Babi sendiri mengangkat narasi mengenai dampak ekspansi industri dan proyek strategis nasional terhadap hilangnya hutan adat, pangan tradisional, serta kedaulatan warga lokal di wilayah Papua, seperti di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Terkait kondisi di lapangan, Dede menegaskan bahwa keamanan kampus tetap disiagakan di sekitar lokasi gedung yang sempat direncanakan menjadi tempat nonton bareng. Ia juga menambahkan bahwa gedung tersebut sejatinya sudah dipesan jauh-jauh hari oleh jurusan lain untuk kebutuhan ujian teater selama dua bulan terakhir.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Tempo masih terus berupaya mengonfirmasi pihak mahasiswa yang menjadi penyelenggara acara pemutaran film tersebut guna mendapatkan keterangan lebih lanjut.
Pilihan Editor: Tentara, Kok, Merazia Diskusi Film ‘Pesta Babi’
Ringkasan
Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung resmi menolak permohonan penggunaan fasilitas kampus untuk pemutaran film dokumenter berjudul Pesta Babi. Keputusan ini diambil karena permohonan izin yang mendadak serta pertimbangan mengenai substansi film yang dinilai sensitif dan berpotensi memicu ketegangan sosial-politik. Pihak kampus juga telah menjadwalkan penggunaan gedung tersebut untuk kebutuhan ujian teater mahasiswa.
Pihak kampus khawatir muatan narasi film yang mengangkat isu konflik tanah adat, militerisasi, dan kritik sosial-politik dapat menimbulkan reaksi negatif serta mengganggu ketertiban umum. Selain alasan administratif, ISBI menilai judul film yang provokatif dan adanya unsur bahasa vulgar tidak selaras dengan norma yang berlaku di lingkungan kampus. Akibatnya, pihak kampus menyarankan agar kegiatan tersebut dilaksanakan di luar area institusi demi menjaga situasi tetap kondusif.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia