
Honda Motor mencatatkan sejarah kelam dalam laporan keuangannya. Pada Kamis (14/5), produsen otomotif asal Jepang ini mengumumkan kerugian tahunan pertamanya dalam hampir 70 tahun sejak menjadi perusahaan publik. Kondisi ini dipicu oleh beban biaya restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV) yang mencapai lebih dari USD 9 miliar atau sekitar Rp 158,45 triliun (dengan kurs Rp 17.606).
Mengutip laporan Reuters, situasi ini memaksa Honda mengambil langkah drastis dengan membatalkan target penjualan jangka panjang untuk kendaraan listrik. Pencapaian negatif ini menjadi yang terburuk sejak perusahaan melantai di bursa saham pada 1957, sekaligus menjadi pengingat keras bagi produsen otomotif konvensional mengenai tingginya risiko transisi ke sektor EV di tengah permintaan pasar yang tidak menentu.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, secara resmi membatalkan target ambisius agar kendaraan listrik menyumbang seperlima dari total penjualan mobil baru pada 2030. Selain itu, perusahaan juga menghapus rencana peralihan penuh ke kendaraan listrik atau berbahan bakar sel yang sebelumnya dicanangkan pada 2040. Sebagai bagian dari langkah efisiensi, Honda menangguhkan proyek investasi senilai USD 11 miliar di Kanada yang sebelumnya diproyeksikan menjadi investasi EV dan baterai terbesar mereka.

Di tengah tantangan di sektor otomotif yang dianggap tertinggal dalam hal skala dan eksekusi, Honda tetap mengandalkan bisnis sepeda motor sebagai tulang punggung pendapatan. James Hong, Head of Mobility Research di Macquarie, menilai bahwa eksekusi strategi perusahaan berjalan cukup lambat. Menurutnya, langkah-langkah seperti penggunaan komponen lokal dari China yang dipaparkan Honda bukanlah sebuah inovasi baru yang dapat memberikan keunggulan kompetitif signifikan.
Secara finansial, kerugian operasional Honda tercatat sebesar 414,3 miliar yen atau setara USD 2,63 miliar untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026. Angka ini jauh melampaui estimasi median 315,6 miliar yen dari survei 22 analis LSEG, serta berbanding terbalik dengan laba 1,2 triliun yen pada tahun sebelumnya. Total kerugian terkait EV yang dibukukan Honda pada tahun fiskal lalu mencapai 1,45 triliun yen, dengan proyeksi tambahan beban sebesar 500 miliar yen pada tahun fiskal mendatang. Meski demikian, angka ini masih lebih baik dibandingkan prediksi kerugian awal sebesar 2,5 triliun yen yang sempat dirilis pada Maret lalu.
Optimisme Menuju Pemulihan

Melihat ke depan, Honda tetap optimistis dapat kembali mencetak laba sebesar 500 miliar yen pada tahun ini. Proyeksi tersebut didasarkan pada strategi efisiensi biaya dan performa kuat dari divisi sepeda motor. Perusahaan berencana memperluas kapasitas produksi di India dengan target penjualan tertinggi sepanjang sejarah sebanyak 22,8 juta unit.
Kesuksesan penjualan di pasar India dan Brasil telah menjadi bantalan bagi Honda dalam meredam dampak restrukturisasi bisnis EV dan penurunan penjualan mobil di pasar China. Namun, tantangan tetap membayangi. James Hong memperingatkan bahwa bisnis sepeda motor pun menghadapi tekanan margin seiring dengan transisi kendaraan listrik di pasar utama seperti India dan Vietnam. Dengan kondisi persaingan yang makin ketat, Hong menegaskan bahwa Honda memiliki waktu yang terbatas untuk segera bertindak dan memperbaiki posisi mereka di pasar global.
Ringkasan
Honda Motor melaporkan kerugian tahunan pertamanya dalam hampir 70 tahun terakhir akibat beban restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV) yang mencapai lebih dari USD 9 miliar. Kondisi ini memaksa perusahaan membatalkan target ambisius penjualan kendaraan listrik jangka panjang serta menangguhkan proyek investasi besar di Kanada. Sebagai langkah penyesuaian, Honda kini berfokus pada efisiensi operasional setelah mencatatkan kerugian operasional sebesar 414,3 miliar yen pada tahun fiskal lalu.
Di tengah tantangan sektor EV, Honda mengandalkan bisnis sepeda motor sebagai penyokong utama pendapatan, terutama melalui pasar India dan Brasil yang menunjukkan performa kuat. Meski perusahaan tetap optimistis dapat kembali mencetak laba sebesar 500 miliar yen tahun ini melalui strategi efisiensi, para analis memperingatkan adanya tekanan margin pada bisnis sepeda motor di masa depan. Honda dinilai perlu bertindak cepat untuk memperbaiki daya saing global mereka di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia