Prediksi Analis Mengenai Pergerakan Nilai Tukar Rupiah di Akhir Mei

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi yang cukup mengkhawatirkan terkait nilai tukar rupiah. Ia memprediksi mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Mei 2026. Kekhawatiran ini muncul setelah rupiah sempat melemah hingga ke level Rp 17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026.

Advertisements

Ibrahim menegaskan bahwa angka tersebut bisa menjadi pintu gerbang ketidakstabilan yang lebih dalam. “Jika tembus Rp 18.000 di bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah akan terus merosot hingga menembus level Rp 22.000,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Menurut Ibrahim, kondisi pasar selama dua hari terakhir, yakni Kamis (14/5/2026) dan Jumat (15/5/2026), menjadi ujian berat bagi ketahanan ekonomi Indonesia. Situasi diperumit oleh periode libur tanggal merah, di mana perdagangan domestik terhenti sementara tensi geopolitik di Timur Tengah justru terus memanas.

Di tengah situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) memiliki ruang gerak yang terbatas karena hanya dapat melakukan intervensi di pasar internasional. Keterbatasan ini membuat tekanan eksternal terhadap rupiah menjadi jauh lebih signifikan. Meski demikian, Ibrahim menilai dinamika pasar masih mungkin berubah ketika perdagangan resmi dibuka kembali pada Senin, 18 Mei 2026.

Advertisements

Secara eksternal, penguatan dolar AS yang tak terbendung dipicu oleh arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Inflasi di AS yang terpantau melonjak signifikan membuat The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun 2026. Di sisi lain, tekanan internal juga datang dari beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), di mana pelemahan rupiah secara otomatis memicu lonjakan belanja subsidi minyak.

Sebagai langkah mitigasi, Ibrahim memprediksi bahwa Bank Indonesia berpeluang besar untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni mendatang jika rupiah benar-benar menembus level kritis Rp 18.000 atau Rp 22.000 per dolar AS. “Bisa saja kenaikannya mencapai 25 hingga 50 basis poin dengan tujuan utama untuk menstabilkan nilai tukar rupiah,” pungkasnya.

Disclaimer: Berita ini disusun untuk tujuan informasi dan tidak bertujuan mengajak pembaca untuk melakukan spekulasi jual atau beli mata uang. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Pilihan Editor: Buat Apa Pertamina Membangun SPBU Signature

Ringkasan

Analis PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 hingga Rp22.000 per dolar AS pada Mei 2026. Pelemahan ini dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi The Fed akibat lonjakan inflasi di Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Beban APBN yang meningkat akibat lonjakan subsidi minyak turut menambah tekanan internal terhadap mata uang domestik.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan Bank Indonesia dalam melakukan intervensi saat pasar domestik tutup selama periode libur. Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 hingga 50 basis poin pada Juni mendatang guna menstabilkan nilai tukar. Dinamika pasar diharapkan kembali terpantau setelah aktivitas perdagangan resmi dibuka kembali pada Senin, 18 Mei 2026.

Advertisements