IHSG Anjlok 3,53%: Waspada Potensi Tekanan Jual di Pekan Depan

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami penyesuaian pada perdagangan awal pekan depan sebagai respons terhadap pergerakan bursa global selama libur panjang.

Advertisements

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pembukaan pasar pada Senin mendatang akan menjadi momen catch-up bagi IHSG untuk menyesuaikan diri dengan dinamika bursa global dan regional yang terjadi selama masa libur tersebut.

Sepanjang pekan ini, bursa Asia cenderung bergerak variatif dengan volatilitas yang tinggi. Kondisi ini dipicu oleh beragam sentimen global, mulai dari arah kebijakan moneter hingga tensi geopolitik. Menurut Nafan, salah satu faktor krusial yang mendominasi pasar regional adalah perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China, khususnya hasil pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi Jinping.

Baca Juga: Era Baru Private Equity Dimulai, Likuiditas dan AI Jadi Pendorong Utama

Advertisements

Selain hubungan dagang, pelaku pasar kini tengah mencermati ketidakpastian kebijakan tarif impor yang berpotensi menghambat prospek pertumbuhan ekonomi global. Nafan menambahkan, fluktuasi harga minyak dunia serta rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan turut memengaruhi risk appetite atau minat risiko investor di kawasan Asia.

Di sisi lain, ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral global tetap menjadi fokus utama. Inflasi di negara maju yang masih relatif tinggi mendorong kebijakan moneter untuk tetap ketat. Pelaku pasar terus memantau keberlanjutan kebijakan pengetatan moneter oleh The Fed, ditambah dengan dinamika konflik di Timur Tengah yang dapat memicu imported inflation.

Berbeda dengan tren mayoritas, bursa Jepang mencatatkan kinerja menonjol sepanjang pekan ini. Hal tersebut didukung oleh laporan keuangan emiten yang solid serta ekspektasi normalisasi kebijakan moneter dari Bank of Japan (BoJ), yang sempat membawa indeks Jepang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Baca Juga: Outlook 2026 JP Morgan: Private Market Kian Dilirik di Tengah Ledakan AI

Memasuki pekan depan, investor akan kembali menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti inflasi produsen dan konsumen, serta pernyataan resmi dari bank sentral global. Selain itu, perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa diperkirakan akan menjadi pemicu volatilitas pasar lebih lanjut.

Sementara itu, kondisi di dalam negeri cukup menantang. Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencatat bahwa IHSG mengalami koreksi cukup dalam sepanjang pekan ini, yakni sebesar -3,53%, akibat tekanan jual yang dominan.

Tekanan tersebut dipicu oleh beberapa faktor internal dan eksternal, seperti inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi—sehingga membuka peluang suku bunga bertahan lebih lama—memanasnya situasi geopolitik, serta dampak dari rebalancing indeks global. Tidak hanya itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS, serta waktu perdagangan yang lebih singkat, turut memperberat pergerakan pasar domestik.

Baca Juga: Asing Net Buy Rp 9,17 Triliun Saat IHSG Ambruk Sepekan Terakhir

Sebagai gambaran, pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026), mayoritas bursa Asia melemah seiring dengan ketidakpastian global:

  • Nikkei 225 (Jepang) turun 1,99% ke 61.409,29 (pekanan -2,84%)
  • Topix (Jepang) turun 0,39% ke 3.863,97 (pekanan +0,62%)
  • SSE Composite Index (China) turun 1,02% ke 4.135,39 (pekanan -1,57%)
  • SZSE Component Index (China) turun 1,17% ke 15.561,37 (pekanan -0,87%)
  • CSI 300 Index (China) turun 1,12% ke 4.859,59 (pekanan -0,87%)
  • Hang Seng Index (Hong Kong) turun 1,62% ke 25.962,73 (pekanan -1,32%)
  • KOSPI (Korea Selatan) turun 6,12% ke 7.493,18 (pekanan -3,63%)
  • TAIEX (Taiwan) turun 1,39% ke 41.172,36 (pekanan -1,30%)
  • S&P/ASX 200 (Australia) turun 0,11% ke 8.630,80 (pekanan -0,68%)

Sementara itu, IHSG pada penutupan Rabu (13/5/2026) tercatat terkoreksi 1,98% ke level 6.723,32, yang menggenapi penurunan mingguan sebesar 3,53%.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar 3,53% sepanjang pekan ini akibat dominasi tekanan jual. Penurunan ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif, mulai dari inflasi Amerika Serikat yang tetap tinggi, memanasnya kondisi geopolitik, hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga global dan ketidakpastian perdagangan internasional turut memperberat pergerakan pasar domestik.

Pada perdagangan awal pekan depan, IHSG diprediksi akan melakukan penyesuaian (catch-up) terhadap dinamika bursa global yang terjadi selama masa libur panjang. Investor kini bersiap menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti inflasi produsen dan konsumen, serta mencermati perkembangan hubungan dagang internasional. Kondisi pasar yang masih volatil menuntut pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap potensi tekanan jual lebih lanjut.

Advertisements