Sejarah Lumba-lumba Kamikaze Uni Soviet yang Dibeli Iran

Dalam konferensi pers Pentagon yang membahas ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pada Selasa (05/05), sebuah pertanyaan unik mencuri perhatian publik: “Apakah Iran menggunakan lumba-lumba bunuh diri?”

Advertisements

Pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang jurnalis dari The Daily Wire tersebut meminta tanggapan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, terkait laporan mengenai penggunaan mamalia laut dalam operasi militer. Menanggapi hal tersebut, Hegseth menyatakan bahwa ia tidak dapat mengonfirmasi maupun menyangkal keberadaan program lumba-lumba milik AS, namun ia menegaskan bahwa pihak Amerika tidak memiliki aset semacam itu. Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, turut menimpali dengan nada skeptis, “Ini terdengar seperti cerita tentang hiu yang dilengkapi sinar laser, bukan?”

Pernyataan para petinggi militer AS ini merujuk pada artikel The Wall Street Journal yang terbit lima hari sebelumnya dengan tajuk “Iran Is Looking for a Way to Counter a Blockade It Cannot Break.” Laporan tersebut menyoroti upaya Iran dalam mencari taktik baru untuk menutupi kelemahan strategis mereka di tengah blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz. Disebutkan bahwa Teheran mempertimbangkan penggunaan senjata yang tidak konvensional, mulai dari kapal selam hingga lumba-lumba pembawa ranjau, guna menekan kepentingan AS di kawasan tersebut.

Walaupun penggunaan hewan untuk kebutuhan militer terdengar fantastis, praktik ini sejatinya memiliki rekam jejak historis yang panjang. Pada 8 Maret 2000, BBC sempat melaporkan bahwa Iran mengakuisisi sejumlah lumba-lumba yang diduga telah dilatih oleh Angkatan Laut Soviet untuk kepentingan militer. Hewan-hewan tersebut dilatih oleh pakar Rusia untuk menyerang kapal musuh dan penyelam, namun program tersebut terhenti setelah krisis pendanaan pasca-runtuhnya Uni Soviet.

Advertisements

Pelatih utama mamalia tersebut, Boris Zhurid, seorang mantan perwira kapal selam, terpaksa menjual hewan-hewan asuhannya ke Iran karena tidak lagi sanggup membiayai pakan dan perawatan medis mereka. Zhurid menuturkan kepada surat kabar Komsomolskaya Pravda bahwa ia tidak tahan melihat hewan-hewannya kelaparan setelah ketiadaan anggaran. Sebanyak 27 hewan, termasuk walrus, singa laut, anjing laut, paus beluga, dan lumba-lumba, kemudian dikirim menggunakan pesawat kargo menuju Teluk Persia.

Baca juga:

  • Armada ‘nyamuk’ Iran menantang Angkatan Laut AS di Selat Hormuz
  • ‘Diawali dari bengkel kecil pada 1980-an’ – Bagaimana Iran mengembangkan persenjataan drone?
  • ‘Tubuh saya gemetar karena stres’ – Tekanan psikologis akibat perang di Iran

Sejarah mencatat bahwa kemampuan lumba-lumba militer memang cukup kompleks. Sejak 1991, hewan-hewan ini telah dilatih di pangkalan Angkatan Laut Rusia untuk melumpuhkan penyelam musuh menggunakan tombak yang dipasang di punggung. Bahkan, setelah invasi Irak pada 2003, Angkatan Laut Amerika Serikat sendiri diketahui menggunakan lumba-lumba untuk mengidentifikasi ranjau bawah laut. Mamalia ini mampu membedakan suara baling-baling kapal selam asing dan Soviet, menjadikannya aset yang sangat berharga dalam peperangan laut.

Namun, spekulasi mengenai militerisasi lumba-lumba di Iran dibantah oleh mantan Presiden Iran, Akbar Hashemi Rafsanjani. Dalam memoarnya, Reforms in Crisis, ia menjelaskan bahwa kedatangan hewan-hewan tersebut dari Ukraina ditujukan untuk fasilitas wisata di Pulau Kish. Menurut Rafsanjani, laporan media Barat mengenai pelatihan militer adalah sebuah kesalahpahaman. Ia menyebutkan bahwa pelatih asal Ukraina memang datang untuk menyiapkan fasilitas tersebut, namun tujuan utamanya murni untuk atraksi edukatif dan hiburan.

Rafsanjani menambahkan bahwa lumba-lumba tersebut merupakan hewan yang cerdas dan patuh pada instruksi pelatihnya dalam konteks pertunjukan. Hingga saat ini, Rusia dan Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan program mamalia laut militer paling maju dan berumur panjang. Laporan terkini bahkan menyebutkan bahwa Rusia kembali mengoptimalkan penggunaan lumba-lumba di Sevastopol untuk melindungi armada Laut Hitam mereka.

Baca juga:

  • Misteri paus beluga yang dituduh mata-mata Rusia
  • Paus beluga, kucing dan kelelawar: Hewan yang menjadi mata-mata

Meskipun kontroversi mengenai penggunaan lumba-lumba sebagai senjata terus muncul dalam narasi geopolitik, realitas di lapangan sering kali bercampur antara kepentingan pertahanan dan mitos yang berkembang. Terlepas dari apakah program tersebut aktif atau sekadar menjadi warisan masa lalu, keterlibatan mamalia laut dalam dinamika militer dunia tetap menjadi salah satu aspek paling tidak lazim dalam sejarah pertahanan global.

  • Selat Hormuz, Iran, hingga isu Taiwan – Apa saja kesepakatan Trump dan Xi Jinping?
  • Kerusakan psikis anak-anak di Iran akibat perang – ‘Ketakutan tiada akhir’
  • Armada ‘nyamuk’ Iran menantang Angkatan Laut AS di Selat Hormuz

Ringkasan

Muncul spekulasi mengenai penggunaan lumba-lumba militer oleh Iran sebagai taktik pertahanan untuk menghadapi blokade angkatan laut Amerika Serikat di Selat Hormuz. Isu ini berakar dari laporan akuisisi sejumlah mamalia laut terlatih dari mantan pelatih Angkatan Laut Soviet pada tahun 2000, yang terpaksa menjual hewan-hewan tersebut akibat krisis pendanaan pasca-runtuhnya Uni Soviet.

Meskipun narasi militerisasi ini terus berkembang, mantan Presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa hewan-hewan itu didatangkan khusus untuk tujuan hiburan serta edukasi di Pulau Kish. Hingga saat ini, penggunaan mamalia laut untuk kepentingan militer memang memiliki rekam jejak historis, namun klaim mengenai program lumba-lumba tempur Iran lebih banyak dianggap sebagai spekulasi yang bercampur dengan mitos geopolitik.

Advertisements