
JogloNesia – Bank Indonesia (BI) mencatat kabar positif terkait keamanan mata uang nasional. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah temuan uang rupiah palsu di masyarakat mengalami penurunan yang signifikan. Jika pada tahun 2023 rasio temuan mencapai 5 piece per million (ppm) atau 5 lembar per 1 juta uang beredar, angka tersebut kini menyusut drastis hingga mendekati 1 ppm pada April 2026.
Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, menjelaskan bahwa rasio tersebut menunjukkan tingkat peredaran uang palsu yang sangat minim. “Ppm adalah piece per million, yang berarti 5 lembar per 1 juta uang yang beredar. Trennya terus menurun dan saat ini mendekati 1 ppm. Artinya, hanya ditemukan 1 lembar uang palsu dari setiap 1 juta uang yang beredar di masyarakat,” ujar Ricky di Kantor Pusat BI, Minggu (17/5).
Keberhasilan menekan angka pemalsuan ini tidak terlepas dari penguatan kualitas uang rupiah itu sendiri. Bank Indonesia terus meningkatkan standar bahan uang, teknologi cetak, serta unsur pengaman yang semakin modern dan canggih, sehingga menyulitkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pemalsuan.
Selain faktor kualitas, penurunan tren uang palsu juga merupakan hasil sinergi dan koordinasi erat dalam Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (Botasupal). Lembaga ini melibatkan berbagai unsur strategis, mulai dari Badan Intelijen Negara (BIN), Kepolisian Negara RI, Kejaksaan Agung, Kementerian Keuangan, hingga dukungan dari Mahkamah Agung dan Pengadilan Negeri.
Pengakuan dunia atas ketangguhan rupiah menjadi bukti nyata dari upaya BI. Uang Rupiah Tahun Emisi (TE) 2022 tercatat meraih penghargaan sebagai Best New Banknote Series dalam ajang IACA Currency Awards 2023. Prestasi ini disusul oleh pecahan uang kertas Rp50.000 TE 2022 pada November 2024 yang dinobatkan oleh BestBrokers sebagai peringkat ke-2 mata uang paling aman di dunia karena dilengkapi 17 unsur pengaman canggih.
Sesuai mandat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Bank Indonesia berkomitmen menjaga keamanan transaksi masyarakat. Bentuk komitmen tersebut diwujudkan melalui layanan klarifikasi terhadap uang yang diragukan keasliannya, baik melalui pemeriksaan tenaga ahli maupun uji laboratorium.
Lebih lanjut, Ricky menekankan bahwa peran aktif masyarakat menjadi kunci dalam memutus mata rantai peredaran uang palsu. Masyarakat diimbau untuk selalu menerapkan metode 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang, untuk memastikan keaslian uang yang mereka terima.
Selain aspek keamanan, BI juga mengajak masyarakat untuk berperan serta menjaga kualitas fisik uang rupiah dengan menerapkan prinsip 5 Jangan: jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distapler, jangan diremas, dan jangan dibasahi. Dengan merawat uang secara baik, keaslian rupiah akan lebih mudah dikenali dan masa edar uang di masyarakat dapat lebih optimal.
Ringkasan
Bank Indonesia mencatat penurunan drastis peredaran uang palsu dari 5 lembar per satu juta uang beredar pada 2023 menjadi hampir 1 lembar pada April 2026. Keberhasilan ini didukung oleh peningkatan teknologi cetak dan unsur pengaman canggih pada uang rupiah Tahun Emisi 2022 yang telah mendapat pengakuan internasional. Bahkan, pecahan Rp50.000 dinobatkan sebagai salah satu mata uang paling aman di dunia karena dilengkapi dengan 17 fitur keamanan canggih.
Pencapaian tersebut merupakan hasil koordinasi erat dalam lembaga Botasupal serta peran aktif masyarakat dalam memutus rantai peredaran uang palsu. Masyarakat diimbau untuk selalu menerapkan metode 3D (dilihat, diraba, diterawang) dan prinsip 5 Jangan dalam merawat kondisi fisik uang rupiah. Sinergi antara otoritas dan masyarakat ini bertujuan untuk memastikan keamanan transaksi sekaligus menjaga kualitas uang yang beredar di Indonesia.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia