
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan Selasa (26/5/2026) di zona merah. Indeks terkoreksi 1,23% ke level 6.130,19 setelah sempat mencatatkan penguatan di awal sesi. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal serta aksi ambil untung (profit taking) oleh pelaku pasar menjelang periode libur panjang, ditambah dengan adanya dampak dari penyesuaian ulang atau rebalancing indeks MSCI.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyoroti bahwa sentimen global menjadi beban berat bagi bursa domestik, terutama akibat eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, serangan terbaru Amerika Serikat di Iran selatan menciptakan sentimen negatif yang membayangi optimisme pasar, meskipun harapan terhadap proses perdamaian masih terus dipantau.
Secara sektoral, tekanan jual paling dirasakan oleh sektor industri yang mencatatkan pelemahan terdalam. Sebaliknya, sektor infrastruktur menunjukkan daya tahan dengan membukukan penguatan tipis. Dari sisi teknikal, Alrich melihat adanya sinyal perbaikan terbatas pada IHSG. Indikator Stochastic RSI menunjukkan potensi pembalikan arah menuju pivot, sementara histogram MACD yang negatif mulai menyempit. Hal ini memberikan ruang bagi IHSG untuk bergerak di kisaran 6.000 hingga 6.200.
Di sisi lain, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyoroti volatilitas nilai tukar rupiah sebagai faktor krusial yang membayangi pergerakan pasar. Nafan menjelaskan bahwa depresiasi rupiah saat ini dipicu oleh penguatan dolar AS, dinamika geopolitik, serta periode repatriasi dividen oleh investor asing. Meski pelemahan ini bersifat jangka pendek, pergerakan indeks cenderung menjadi fluktuatif.
Nafan menambahkan bahwa saham-saham perbankan berkapitalisasi besar kemungkinan menjadi penekan utama IHSG karena bobotnya yang signifikan dalam indeks. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa fundamental sektor perbankan domestik tetap solid, didukung oleh margin bunga bersih dan permodalan yang kuat. Investor disarankan untuk lebih selektif dalam menyusun portofolio dengan memprioritaskan emiten berbasis ekspor, energi, dan saham defensif yang tidak terlalu bergantung pada bahan baku impor.
Menjelang akhir pekan, pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, memproyeksikan pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (29/5/2026) akan tetap berada dalam rentang terbatas. Ia memperkirakan level support berada di kisaran 5.950-6.000, dengan resistance pada area 6.200-6.286. Secara keseluruhan, pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta dinamika geopolitik global yang masih terus berkembang.
Ringkasan
IHSG ditutup melemah 1,23% ke level 6.130,19 akibat tekanan sentimen global terkait tensi geopolitik di Timur Tengah, aksi ambil untung, serta rebalancing indeks MSCI. Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh volatilitas nilai tukar rupiah yang tertekan penguatan dolar AS dan arus repatriasi dividen. Meski demikian, indikator teknikal menunjukkan adanya potensi pembalikan arah yang terbatas.
Para analis memprediksi IHSG akan bergerak terbatas pada perdagangan Jumat dengan rentang support di kisaran 5.950-6.000 dan resistance di level 6.200-6.286. Investor disarankan untuk bersikap selektif dengan fokus pada emiten berbasis ekspor, sektor energi, serta saham defensif. Fokus pelaku pasar tetap tertuju pada perkembangan nilai tukar rupiah, dinamika geopolitik, dan arus dana asing.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia