Motor Matic Loyo di Tanjakan? Ini 5 Penyebab & Cara Mengatasinya!

SOLO, KOMPAS.com – Motor matik dengan sistem transmisi Continuously Variable Transmission (CVT) memang menjadi pilihan favorit berkat kenyamanan dan kemudahan penggunaannya, terutama untuk mobilitas harian di perkotaan. Namun, dibalik kepraktisannya, tidak sedikit pengendara motor matik yang mengeluhkan performa “ngempos” atau kehilangan tenaga saat melibas tanjakan. Fenomena ini kerap menimbulkan frustrasi, terutama di medan menanjak yang membutuhkan dorongan ekstra.

Advertisements

Andre, pemilik Workshop Dhinata Jaya Garage di Wonogiri, Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama tenaga motor matik CVT ngempos di tanjakan adalah adanya kebocoran. “Itu bisa karena seal kruk as atau seal pully bocor terus mengenai kampas ganda sama v-belt dan akhirnya menimbulkan slip atau loyo,” jelas Andre kepada Kompas.com. Kebocoran oli yang mengenai kampas ganda akan menurunkan daya cengkeram, mengurangi gesekan vital yang seharusnya terbentuk, sehingga kinerja kopling otomatis menjadi tidak optimal.

Kondisi ini, jika dibiarkan tanpa penanganan serius, dapat memperparah kerusakan komponen dan berujung pada biaya perbaikan yang jauh lebih besar di kemudian hari. Andre menekankan pentingnya perawatan preventif: “Agar tidak terlambat ditangani, sebaiknya pemilik rutin melakukan servis atau pemeriksaan berkala.” Hal ini krusial untuk mendeteksi dini masalah pada kampas ganda atau V-belt yang aus atau rusak, sehingga penggantian bisa segera dilakukan.

Di sisi lain, Purnomo, pemilik bengkel Tamaro Motor, menawarkan perspektif lain terkait masalah performa motor matik saat menanjak. Menurutnya, solusi tidak harus selalu melibatkan modifikasi mesin yang ekstrem, melainkan cukup dengan penyesuaian ringan. “Masalah ngempos di tanjakan itu biasanya karena tarikan bawah motor kurang responsif,” kata Purnomo kepada Kompas.com. Ia menyarankan dua penyesuaian utama untuk meningkatkan responsivitas: mengganti roller CVT yang lebih ringan atau menggunakan per CVT yang lebih keras. Tujuannya adalah agar putaran mesin dapat langsung menggerakkan roda tanpa jeda yang berarti.

Advertisements

Purnomo lebih lanjut menjelaskan, mengganti roller standar CVT dengan yang lebih ringan, misalnya dari 10 gram menjadi 8 atau 9 gram, akan mempercepat pencapaian putaran mesin tinggi. Ini menghasilkan respons tenaga yang lebih gesit dan kuat saat menghadapi medan tanjakan. Selain itu, penggunaan per CVT yang lebih keras sangat membantu menjaga agar V-belt tetap menempel erat pada pulley, secara efektif mencegah slip ketika motor membawa beban berat.

Untuk hasil yang lebih signifikan, Purnomo juga merekomendasikan penggantian kampas ganda dengan tipe yang memiliki daya cengkeram lebih kuat. “Jadi saat gas dibuka, tenaga langsung tersalur ke roda, enggak telat,” ucapnya, menjamin transfer tenaga yang lebih instan. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap modifikasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Modifikasi yang terlalu ekstrem berpotensi menyebabkan konsumsi bahan bakar yang lebih boros atau bahkan membuat mesin cepat panas, sehingga keseimbangan antara performa dan efisiensi harus tetap diperhatikan.

Ringkasan

Motor matic sering mengalami kehilangan tenaga atau “ngempos” saat menanjak, terutama karena sistem transmisi CVT. Andre, pemilik Dhinata Jaya Garage, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah kebocoran pada seal kruk as atau seal pully yang mengenai kampas ganda dan V-belt, sehingga menimbulkan selip.

Untuk mengatasinya, Purnomo dari Tamaro Motor menyarankan penyesuaian seperti mengganti roller CVT dengan yang lebih ringan atau menggunakan per CVT yang lebih keras agar putaran mesin lebih responsif. Selain itu, penggantian kampas ganda dengan daya cengkeram lebih kuat juga dapat meningkatkan penyaluran tenaga. Perawatan preventif dan penyesuaian yang sesuai kebutuhan sangat penting untuk menjaga performa dan efisiensi motor.

Advertisements