
Kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, pada 21 April 2026, menyisakan duka mendalam. Hanya berselang beberapa jam setelah rombongan negara meninggalkan lokasi, seorang aparatur sipil negara (ASN) bernama Yemis Yohame tewas tertembak di Kota Dekai. Peristiwa ini memicu kemarahan publik serta memunculkan silang pendapat terkait siapa pihak yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa pegawai negeri tersebut.
Kunjungan Gibran di Yahukimo
Suasana Kota Dekai pada Selasa, 21 April 2026, terpantau lebih ketat dari biasanya. Sejak pukul 12.26 WIT, ketika pesawat Boeing milik TNI Angkatan Udara mendarat di Bandara Nop Goliat, aparat keamanan telah bersiaga penuh. Kedatangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka disambut oleh Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Yahukimo.
Agenda kunjungan tersebut mencakup peninjauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Kristen Anugerah Dekai dan pembagian buku kepada para siswa. Selain itu, Gibran sempat berdialog dengan jajaran RSUD Dekai mengenai kendala layanan kesehatan, serta melakukan kunjungan ke Koramil setempat. Menjelang sore hari, rombongan bertolak meninggalkan kota, namun suasana tenang di Dekai berubah drastis saat malam mulai tiba.
Detik-Detik Penembakan Yemis Yohame
Sekitar pukul 18.30 WIT, Yemis Yohame (38), seorang ASN di Dinas PUPR Kabupaten Yahukimo, tengah bersantai di sebuah kios. Yanto Suhuniap, saksi mata yang berada di lokasi, menceritakan bahwa Yemis baru saja pulang mengikuti kegiatan organisasi dan sedang asyik mengakses internet melalui ponselnya bersama dua orang lainnya.
“Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan. Korban sempat mengira ponselnya meledak sebelum akhirnya jatuh ke belakang,” ujar Yanto. Pemilik kios segera meminta bantuan ambulans dari Puskesmas Brasa untuk mengevakuasi korban ke RSUD Dekai. Meski tim medis telah berupaya memberikan pertolongan selama satu jam, Yemis dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.00 WIT akibat luka tembak yang dideritanya.
Yemis Yohame dikenal sebagai sosok yang tenang dan berdedikasi selama enam tahun pengabdiannya sebagai PNS. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar, termasuk sang tante, Orpa Yohame, yang mengenang almarhum sebagai pribadi yang baik dan tidak pernah memiliki musuh.
Tuntutan Keadilan dan Kekerasan yang Berulang
Pada 22 April 2026, keluarga korban bersama anggota DPRD Yahukimo, kepala distrik, dan kepala suku mendatangi Polres Yahukimo untuk menuntut keadilan. Ketua Komisi B DPRD Yahukimo, Yafet Saram, menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan laporan resmi dan mendesak aparat kepolisian untuk melakukan investigasi secara jujur, serius, dan transparan.
Sentimen serupa disuarakan oleh Ketua Solidaritas Pemuda Yahukimo, Otniel Sobolim. Ia menganggap insiden ini sebagai bagian dari pola kekerasan yang terus berulang di wilayah tersebut, merujuk pada kasus-kasus kematian warga sebelumnya seperti Tobias Silak dan Viktor Bernadus Deyal. Otniel menyoroti penggunaan senjata api dalam peristiwa ini dan mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mempercayai satu versi narasi tanpa bukti yang kuat.
Respons Pihak Terkait
Terkait tudingan yang mengarah pada kelompok bersenjata, Panglima TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak, melalui Komandan Operasi Kopitua Heluka, membantah keras keterlibatan mereka. Dalam sebuah pernyataan video, Kopitua Heluka menyatakan bahwa informasi yang mengaitkan kelompoknya dengan penembakan tersebut adalah hoaks dan justru menuding aparat keamanan sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Hingga saat ini, pihak kepolisian di Polres Yahukimo belum memberikan keterangan resmi mengenai hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) maupun perkembangan pemeriksaan saksi. Di tengah penantian akan proses hukum yang berjalan, keluarga besar Yemis Yohame telah memakamkan jenazah korban pada 23 April 2026 dengan harapan besar agar pelaku segera terungkap demi keadilan bagi almarhum.
Baca juga:
- Kisah perempuan lansia lumpuh dan anak 12 tahun yang tewas ditembak di Kabupaten Dogiyai, Papua – ‘Aparat menembak secara membabi buta’
- Penembakan di tambang emas Grasberg – Mengapa pengamanan Freeport yang libatkan ribuan aparat dan berongkos triliunan rupiah bisa bobol?
- Pemuda asli Papua tewas diduga akibat dianiaya polisi – ‘Nyawa kami seakan mudah sekali dibunuh’
- Dua pilot Smart Air ditembak di Boven Digoel, apa hubungan peristiwa ini dengan tambang emas ilegal dan konflik bersenjata di Papua?
- Pembangunan markas batalyon tentara ditolak warga di sejumlah daerah – ‘Kami masih trauma’
Ringkasan
Seorang ASN di Dinas PUPR Kabupaten Yahukimo bernama Yemis Yohame tewas tertembak di Kota Dekai pada 21 April 2026, tepat beberapa jam setelah kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Korban yang sedang bersantai di sebuah kios dinyatakan meninggal dunia di RSUD Dekai setelah menderita luka tembak, yang memicu kemarahan serta tuntutan keadilan dari keluarga dan tokoh masyarakat setempat.
Keluarga korban bersama perwakilan DPRD Yahukimo mendesak kepolisian untuk melakukan investigasi yang transparan atas insiden tersebut. Sementara itu, pihak TPNPB membantah keterlibatan mereka dan justru menuding aparat keamanan, namun hingga saat ini pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait hasil penyelidikan maupun pelaku penembakan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia