Rupiah Tembus Rp17.538 dan 6 Saham RI Didepak dari Indeks MSCI

Pelemahan nilai tukar rupiah dan perombakan daftar saham Indonesia dalam indeks MSCI menjadi dua topik hangat yang mendominasi kanal kumparanBISNIS sepanjang Rabu (13/5). Pergerakan pasar keuangan ini menjadi sorotan utama mengingat dampaknya yang signifikan terhadap sentimen investor domestik maupun global.

Advertisements

Untuk memahami dinamika pasar terkini, berikut adalah rangkuman berita populer selengkapnya:

Rupiah Masih Melemah, Kini Tembus Rp 17.538 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Rabu (13/5) pagi pukul 09.21 WIB, data Bloomberg mencatat rupiah merosot ke level Rp 17.538 per dolar AS, turun 9,5 poin atau setara 0,05 persen.

Advertisements

Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menekan mata uang Garuda. Selain aksi jual saham oleh investor asing menjelang pengumuman indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta antisipasi pasar terhadap libur panjang hari Kenaikan Yesus Kristus turut memperkeruh suasana.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menambahkan bahwa ketidakpastian global yang bersumber dari konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran mendalam di pasar ekonomi global yang berimbas pada volatilitas nilai tukar.

Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan Non Deliverable Forward (NDF). BI juga terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter untuk meredam gejolak yang ada.

Meski di tengah tekanan, BI mencatat bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik masih tergolong kuat. Hal ini terbukti dari aliran modal asing sebesar Rp 61,6 triliun yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang April 2026. Selain itu, likuiditas valuta asing domestik dinilai memadai dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9 persen secara year to date (ytd) pada akhir Maret 2026. BI memproyeksikan tekanan musiman ini akan segera mereda, memungkinkan rupiah kembali bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional.

Daftar Lengkap 6 Saham RI yang Ditendang MSCI dan 13 Keluar dari Small Cap

Lembaga penyusun indeks pasar global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), resmi merilis daftar saham Indonesia yang keluar dari tinjauan indeks Mei 2026. Keputusan ini akan berlaku efektif mulai 1 Juni 2026 dan diprediksi membawa dampak signifikan bagi portofolio manajer investasi yang menjadikan MSCI sebagai acuan utama.

Sebanyak 6 emiten besar terdepak dari indeks utama atau MSCI Global Standard. Daftar tersebut mencakup PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Menariknya, meski keluar dari indeks Standard, saham AMRT berhasil masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Index, menunjukkan adanya rekalibrasi berdasarkan kriteria kapitalisasi pasar dan likuiditas.

Selain perombakan pada indeks utama, MSCI juga mengeluarkan 13 saham dari kategori MSCI Global Small Cap. Daftar emiten yang keluar meliputi:

1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
2. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
3. PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK)
4. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
5. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
6. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)
7. PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
8. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
9. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN)
10. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
11. PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC)
12. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
13. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG)

Langkah rekalibrasi besar-besaran ini menandai babak baru bagi posisi emiten Indonesia di pasar modal global, sekaligus menjadi sinyal penting bagi para investor untuk menyesuaikan strategi investasi mereka di masa mendatang.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan hingga mencapai Rp17.538 per dolar AS akibat tekanan sentimen global, seperti konflik di Timur Tengah dan antisipasi investor terhadap perombakan indeks MSCI. Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar spot dan optimalisasi instrumen moneter, sembari mencatat bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset domestik tetap terjaga.

Sementara itu, MSCI resmi mengeluarkan enam emiten besar dari indeks Global Standard, termasuk AMMN, BREN, dan TPIA, yang efektif berlaku mulai 1 Juni 2026. Selain itu, sebanyak 13 saham lainnya juga didepak dari kategori MSCI Global Small Cap, menuntut para investor untuk melakukan penyesuaian strategi portofolio di pasar modal.

Advertisements