
FTSE Russell resmi melakukan penyesuaian (rebalancing) pada FTSE Global Equity Index Series (GEIS) menjelang tinjauan indeks periode Juni 2026. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari daftar indeks mereka.
HSC merujuk pada daftar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang porsi sahamnya didominasi oleh segelintir pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data ini dipublikasikan oleh BEI guna meningkatkan transparansi pasar, meminimalkan risiko praktik spekulatif, serta menyelaraskan standar pasar modal Indonesia dengan ekspektasi investor global. Dampaknya, saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan saham Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), kini terancam didepak dari indeks FTSE.
Dalam pengumuman resmi tertanggal 13 Mei 2026, FTSE Russell menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia sejak pemberitahuan terkait penanganan indeks diterbitkan pada 9 Februari 2026. FTSE mengakui bahwa otoritas pasar modal Indonesia telah melakukan langkah signifikan, seperti penyediaan data kepemilikan pemegang saham di atas 1%, publikasi daftar HSC, serta peningkatan pelaporan klasifikasi investor.
Meski mengapresiasi upaya tersebut, setelah mempertimbangkan masukan dari pelaku pasar dan komite penasihat eksternal, FTSE Russell memutuskan untuk tetap melanjutkan perlakuan khusus terhadap saham Indonesia dalam tinjauan Juni 2026. Kebijakan yang tetap diterapkan meliputi pembaruan Industry Classification Benchmark (ICB), penyesuaian porsi saham triwulanan tanpa buffer standar 1%, serta penurunan free float triwulanan tanpa buffer standar 3%.
Selain itu, FTSE akan tetap memberlakukan perubahan kategori kapitalisasi saham akibat aksi korporasi pemisahan usaha (spin-off) serta pembaruan daftar pengecualian terkait aspek ESG, etika, dan syariah. FTSE Russell juga membuka kemungkinan untuk memperpanjang periode observasi terhadap pasar Indonesia.
FTSE Russell menegaskan akan terus menunda penyesuaian peringkat indeks penuh, peningkatan free float, dan penambahan saham hasil IPO hingga setidaknya tinjauan indeks September 2026 mendatang.
Penghapusan Saham HSC
Sesuai dengan pedoman batasan free float, FTSE memutuskan untuk menghapus saham yang masuk dalam daftar HSC dari indeks pada tinjauan berikutnya. Langkah ini diambil karena FTSE menilai likuiditas saham-saham tersebut berpotensi menurun signifikan menjelang tinjauan Juni 2026. Penurunan likuiditas dikhawatirkan akan mempersulit investor berbasis indeks melakukan divestasi secara teratur tanpa memicu tekanan pasar yang berlebihan atau kendala transaksi, yang pada akhirnya dapat mengganggu proses replikasi indeks.
Sebagai konsekuensinya, saham yang terdampak akan dihapus dengan nilai nol pada tinjauan Juni 2026, yang berlaku efektif sejak pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Meski daftar detail saham yang terdampak akan diumumkan secara terpisah, FTSE memastikan akan terus melakukan koordinasi dengan otoritas pasar lokal.
Keputusan lebih lanjut terkait penanganan indeks—termasuk kemungkinan normalisasi penyesuaian peringkat indeks secara penuh—akan kembali dipertimbangkan oleh FTSE Russell sebelum tinjauan indeks September 2026 dan akan dikomunikasikan secara transparan kepada publik.
Ringkasan
FTSE Russell akan melakukan penyesuaian pada FTSE Global Equity Index Series dengan mengeluarkan saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Kebijakan ini diambil untuk menjaga likuiditas pasar dan transparansi, serta memastikan investor dapat melakukan divestasi tanpa memicu tekanan yang berlebihan. Beberapa saham yang terdampak di antaranya berasal dari Grup Barito dan Grup Sinarmas.
Meskipun mengapresiasi langkah transparansi dari otoritas pasar modal Indonesia, FTSE tetap memberlakukan penyesuaian khusus dan menunda peninjauan peringkat indeks penuh hingga setidaknya September 2026. Saham yang masuk dalam kategori HSC akan dihapus dari indeks dengan nilai nol pada peninjauan Juni 2026. Proses koordinasi dengan otoritas lokal akan terus dilakukan guna memastikan kelancaran penyesuaian pasar tersebut.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia