Saham Pilihan Analis: Antisipasi Fluktuasi Bursa Indonesia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa saham Asia diperkirakan masih akan diselimuti volatilitas tinggi dalam waktu dekat. Tekanan dari berbagai sentimen global membuat pasar cenderung bergerak dalam bayang-bayang pelemahan.

Advertisements

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai mayoritas bursa Asia akan bergerak dengan bias bearish. Menurutnya, pelaku pasar saat ini masih mencermati kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama atau higher for longer, terutama pasca rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi pasar pada Rabu (13/5/2026).

Di samping faktor suku bunga, ketegangan geopolitik yang belum mereda di Timur Tengah turut menjadi penghambat bagi penguatan pasar modal di kawasan Asia.

Pandangan serupa datang dari Founder Republik Investor sekaligus praktisi pasar modal, Hendra Wardana. Ia memproyeksikan bursa Asia akan bergerak mixed dengan tingkat volatilitas yang cukup tajam. Hendra menekankan bahwa kombinasi arah kebijakan moneter AS, dinamika geopolitik, serta fluktuasi harga komoditas menjadi variabel utama yang memengaruhi sentimen investor regional yang kini cenderung lebih berhati-hati.

Advertisements

Membedah Prospek Kinerja dan Saham BULL Seiring Fase Super Cycle Industri Pelayaran

Dalam jangka pendek, pergerakan pasar akan sangat bergantung pada rilis data inflasi AS, kebijakan bank sentral global, serta nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia. Selain itu, perlambatan ekonomi China masih menjadi sorotan utama karena dampaknya yang signifikan terhadap permintaan komoditas dan aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.

Hendra memprediksi bursa Asia secara keseluruhan akan bergerak konsolidatif dengan peluang technical rebound yang terbatas. Pasar Jepang mungkin menunjukkan stabilitas yang lebih baik karena dukungan dari pelemahan yen yang menguntungkan sektor eksportir. Sebaliknya, bursa China dan Hong Kong masih harus berhadapan dengan tekanan akibat pemulihan sektor properti dan konsumsi domestik yang belum optimal.

Sementara itu, pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diproyeksikan akan bergerak fluktuatif mengikuti arus dana asing serta dinamika harga komoditas dunia.

Harga Saham DNAR Lompat Kodok, Begini Kata Direktur OK Bank Soal Upaya Mengerek Modal

Hendra menambahkan bahwa kebijakan moneter global dan harga komoditas memiliki korelasi kuat terhadap pasar Asia. Kenaikan harga minyak akibat tensi geopolitik memang dapat menjadi katalis positif bagi sektor energi, namun di sisi lain, hal ini meningkatkan risiko inflasi global. Di sisi lain, suku bunga tinggi di AS terus menarik arus dana keluar menuju aset dolar, sehingga menekan pasar di negara berkembang (emerging markets).

Di tengah kondisi ini, sejumlah sektor dinilai tetap menarik untuk dicermati, yakni perbankan, telekomunikasi, energi, serta infrastruktur digital. Untuk pasar domestik, saham perbankan berfundamental kuat seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tetap menjadi pilihan utama bagi investor.

BBCA Chart by TradingView

Selain sektor perbankan, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga dipandang sebagai pilihan defensif dengan imbal hasil dividen yang terjaga. Sementara di sektor energi, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi saham yang patut diperhatikan seiring dengan prospek bisnis energi dan potensi rebound harga komoditas.

Menjala Peluang Cuan dari Pergantian Pengendali Saham Emiten

Secara keseluruhan, investor disarankan untuk tetap selektif dan memprioritaskan saham-saham dengan fundamental yang kokoh dalam menghadapi kondisi pasar yang penuh dengan ketidakpastian global saat ini.

Ringkasan

Bursa saham Asia diperkirakan akan terus mengalami volatilitas tinggi akibat sentimen kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik yang masih berlangsung. Faktor eksternal lainnya, seperti perlambatan ekonomi China dan fluktuasi harga komoditas, turut menekan sentimen investor regional yang cenderung menjadi lebih berhati-hati. Akibatnya, pasar diperkirakan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan pelemahan atau bias bearish di banyak negara kawasan.

Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, investor disarankan untuk tetap selektif dengan memprioritaskan saham berfundamental kuat. Sektor perbankan seperti BBCA, BBNI, dan BBRI menjadi pilihan utama, diikuti oleh sektor telekomunikasi dengan TLKM sebagai opsi defensif. Selain itu, sektor energi melalui saham BRPT tetap layak dicermati untuk mengantisipasi potensi pemulihan harga komoditas di masa mendatang.

Advertisements