Sejumlah bank besar di Indonesia dengan sigap memberikan tanggapan atas langkah Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI menetapkan kenaikan sebesar 50 basis poin (bps), membawa BI Rate menjadi 5,25%.
Kenaikan suku bunga acuan ini dipandang sebagai strategi krusial untuk memelihara stabilitas makroekonomi, menopang nilai tukar rupiah, dan memastikan inflasi tetap terkontrol. Langkah ini diambil di tengah lanskap ekonomi global yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian.
Menyikapi hal ini, Corporate Secretary PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Ramon Armando, menegaskan bahwa industri perbankan secara fundamental telah mempersiapkan berbagai skenario dalam menghadapi perubahan kebijakan moneter. Ia menjelaskan, setiap bank dilengkapi dengan manajemen risiko yang memadai dan secara berkala melaksanakan stress test. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi dampak dari kenaikan suku bunga terhadap biaya pendanaan.
“Perbankan pada dasarnya telah siap menghadapi berbagai skenario kebijakan moneter, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga acuan,” ujar Ramon dalam pernyataan tertulis pada Rabu (20/5/2026). Guna mempertahankan efisiensi pendanaan, BTN secara konsisten terus memperkuat porsi dana murah atau current account saving account (CASA), yang menjadi pilar utama strategi pendanaan perseroan.
Meski menghadapi pergeseran arah suku bunga, BTN tetap menunjukkan optimisme tinggi terhadap proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini. Hingga kuartal I-2026, BTN berhasil mencatat penyaluran kredit mencapai Rp 400,63 triliun, merefleksikan pertumbuhan impresif sebesar 10,3% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan capaian ini, BTN optimistis dapat mencapai target pertumbuhan kredit di kisaran 8%–10% hingga penghujung tahun 2026.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Corporate Secretary BRI, Dhany, menyampaikan apresiasi atas keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Ia memandang kebijakan ini sebagai langkah proaktif dan berwawasan ke depan (pre-emptive and forward looking) yang esensial untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. “BRI menyambut baik langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional melalui penyesuaian suku bunga acuan BI Rate naik sebesar 50 basis poin,” jelas Dhany.
Dhany menambahkan, fundamental ekonomi domestik menunjukkan ketahanan yang cukup kuat, terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, serta tren konsumsi masyarakat yang tetap positif. Di tengah dinamika kenaikan suku bunga, BRI berkomitmen untuk menjaga keseimbangan optimal antara pertumbuhan bisnis, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas secara berkelanjutan. Untuk itu, perseroan terus memantapkan struktur pendanaan melalui peningkatan porsi dana murah yang berbasis transaction banking.
Dalam menjalankan fungsi intermediasi, BRI konsisten mengedepankan pendekatan selective growth dan prudent banking, dengan fokus utama pada segmen UMKM dan sektor-sektor produktif. Kinerja penyaluran kredit BRI hingga kuartal I-2026 mencapai angka impresif Rp 1.562 triliun, menandai pertumbuhan sebesar 13,68% secara tahunan. Berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB), BRI menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 7%–9% hingga akhir tahun 2026.
Beralih ke pandangan Bank Mandiri, Corporate Secretary Adhika Vista turut menilai bahwa keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan adalah langkah yang sangat tepat. Menurutnya, kebijakan ini krusial untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan mengamankan inflasi domestik. “Langkah ini mencerminkan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan memastikan inflasi tetap terkendali,” tegas Adhika.
Adhika melanjutkan, Bank Mandiri berpandangan bahwa kebijakan tersebut memiliki potensi untuk semakin memperkuat fondasi makroekonomi nasional dalam jangka menengah. Ia juga menyoroti jaminan BI mengenai kecukupan likuiditas, yang sangat vital untuk mendukung fungsi intermediasi perbankan.
Ke depan, Bank Mandiri berkomitmen penuh untuk menjalankan fungsi intermediasi secara optimal, senantiasa menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kepentingan nasabah, dan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. Adhika menjelaskan bahwa setiap penyesuaian pada suku bunga kredit maupun simpanan akan dilaksanakan secara terukur, selaras dengan perkembangan kebijakan moneter dan dinamika likuiditas di industri perbankan.
“Bank Mandiri akan terus mencermati perkembangan kebijakan moneter guna memastikan bahwa fungsi intermediasi berjalan optimal, memberikan manfaat maksimal bagi nasabah dan mendukung perekonomian nasional,” pungkasnya.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia