Pasar saham menanti pengumuman FTSE Russell, ini skenario untuk IHSG

JAKARTA – Penyedia indeks global, FTSE Russell, dijadwalkan akan merilis hasil peninjauan kuartalan untuk FTSE Global Equity Index Series pada Jumat (22/5/2026) waktu Amerika Serikat, atau Sabtu (23/5/2026) pukul 05.00 WIB. Pelaku pasar kini menanti apakah pengumuman tersebut akan menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia atau justru menambah beban tekanan jual.

Advertisements

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, pasar diperkirakan baru akan bereaksi terhadap hasil evaluasi tersebut pada pembukaan perdagangan Senin (25/5/2026). Momentum akhir pekan ini menjadi kesempatan bagi para investor untuk mencermati hasil evaluasi dan menyesuaikan strategi investasi mereka.

Ekspektasi pasar saat ini cenderung terjaga rendah, terutama setelah insiden pekan lalu di mana MSCI menghapus enam saham dari MSCI Standard Index. Selain itu, FTSE sebelumnya telah memberikan sinyal terkait saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (tightly held) untuk dikeluarkan dari indeks, serta menunda tinjauan penuh (full review) bagi Indonesia hingga setidaknya September mendatang.

IHSG Rebound 0,30% ke 6.113 Sesi I Jumat (22/5), Top Gainers LQ45: MDKA, HRTA, INCO

Advertisements

Tim riset BRI Danareksa Sekuritas memetakan dua skenario yang mungkin terjadi pasca rilis hasil review tersebut. Jika hasil evaluasi FTSE lebih buruk dari perkiraan—meniru langkah agresif MSCI sebelumnya—maka perdagangan hari Senin berisiko dibuka dengan tekanan jual yang cukup berat. Sebaliknya, jika FTSE mengambil langkah moderat dan tidak agresif, hasil tersebut berpotensi menjadi sentimen positif pertama bagi pasar saham domestik setelah beberapa pekan terakhir mengalami tekanan.

Fokus utama FTSE Russell saat ini adalah langkah tegas terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Berdasarkan rilis mengenai perlakuan indeks Indonesia untuk Juni 2026 yang diterbitkan Rabu (13/5/2026), penyedia indeks global tersebut memastikan akan menghapus saham berkategori HSC dari indeksnya, bahkan dengan mekanisme penilaian harga menjadi nol (price to zero).

Langkah ini merupakan sinyal keras bagi emiten di Indonesia. FTSE Russell menilai bahwa saham dengan konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi berisiko mengalami penurunan likuiditas, yang pada akhirnya menyulitkan investor global, khususnya investor yang mengikuti indeks (index tracking investors), untuk melakukan transaksi.

Rumor Manajemen Lama Jadi Sorotan Investigasi, TLKM Tegaskan Fundamental Tetap Sehat

Meski bersikap tegas, FTSE Russell mengakui bahwa otoritas pasar modal Indonesia telah melakukan serangkaian perbaikan untuk meningkatkan transparansi pasar. Upaya tersebut di antaranya mencakup pembukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen, penerbitan daftar saham HSC, serta penguatan pelaporan klasifikasi investor. Kendati demikian, FTSE Russell menilai bahwa pasar domestik masih memerlukan masa pemantauan yang lebih panjang.

Oleh karena itu, pada peninjauan Juni 2026, FTSE Russell hanya akan menjalankan pembaruan terbatas. Hal ini meliputi perubahan klasifikasi industri, pembaruan jumlah saham beredar, penurunan free float, hingga penghapusan emiten tertentu yang disebabkan oleh aksi korporasi seperti spin off maupun faktor ESG.

Advertisements