Defisit Neraca Pembayaran Q1 2026 Lampaui Total Defisit Sepanjang 2025

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit sebesar US$ 9,1 miliar pada triwulan I 2026. Angka ini menandai perubahan tren yang signifikan, mengingat pada triwulan sebelumnya (triwulan IV 2025), NPI masih mencatatkan surplus sebesar US$ 6,1 miliar. Bahkan, posisi defisit di awal tahun ini telah melampaui total defisit sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebesar US$ 7,8 miliar.

Advertisements

Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa otoritas moneter terus memantau dinamika ekonomi global yang berdampak pada prospek NPI. Dalam siaran pers yang dirilis Jumat, 22 Mei 2026, ia menegaskan komitmen BI untuk memperkuat respons bauran kebijakan. Langkah ini akan dilakukan melalui sinergi yang erat dengan pemerintah serta otoritas terkait guna menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional.

Meski mencatat defisit pada awal tahun, BI tetap memproyeksikan kinerja NPI sepanjang 2026 akan tetap terjaga dengan baik. Defisit transaksi berjalan diperkirakan akan berada pada kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Secara rinci, transaksi berjalan pada triwulan I 2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 4 miliar atau setara 1,1 persen dari PDB. Angka ini melebar dibandingkan posisi pada triwulan IV 2025 yang mencatatkan defisit sebesar US$ 2,5 miliar atau 0,7 persen dari PDB. BI menjelaskan bahwa pelebaran ini dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang, meskipun di saat bersamaan defisit neraca jasa mengalami penyempitan. Neraca perdagangan barang sendiri tercatat surplus US$ 8 miliar pada triwulan I 2026, turun dari US$ 10,2 miliar pada triwulan IV 2025.

Advertisements

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial turut mengalami tekanan dengan mencatatkan defisit sebesar US$ 4,9 miliar. Capaian ini berbalik arah dari kondisi triwulan sebelumnya yang sempat membukukan surplus sebesar US$ 9,0 miliar.

Denny menjelaskan bahwa meskipun investasi langsung dan portofolio tetap mencatatkan surplus, nilainya memang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Defisit pada transaksi modal dan finansial dipengaruhi oleh investasi lainnya yang mencatatkan defisit, akibat adanya pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo, penempatan kas, serta simpanan dan aset lainnya di luar negeri.

Berdasarkan data BI, investasi langsung pada triwulan I 2026 mencatat arus masuk neto sebesar US$ 2 miliar, turun dari US$ 3,2 miliar pada kuartal sebelumnya. Investasi portofolio juga menunjukkan perlambatan dengan surplus sebesar US$ 0,7 miliar, jauh di bawah angka sebelumnya yang mencapai US$ 4,7 miliar. Sementara itu, investasi lainnya tercatat mengalami defisit hingga US$ 7,8 miliar, setelah sebelumnya sempat membukukan surplus sebesar US$ 1 miliar.

Pilihan Editor: Risiko Neraca Pembayaran Indonesia Defisit Rp 131,6 Triliun

Ringkasan

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 9,1 miliar, angka yang melampaui total defisit sepanjang tahun 2025. Pelebaran defisit ini dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang serta tekanan pada transaksi modal dan finansial yang mencatatkan defisit US$ 4,9 miliar akibat pembayaran pinjaman luar negeri.

Bank Indonesia menyatakan komitmen untuk memperkuat respons bauran kebijakan guna menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional. Meski menghadapi tekanan di awal tahun, otoritas moneter tetap optimistis kinerja NPI tahun 2026 akan tetap terjaga dengan proyeksi defisit transaksi berjalan di kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen dari PDB.

Advertisements