JogloNesia JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir lebih dari 1% pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), di tengah meningkatnya kewaspadaan investor terhadap memanasnya ketegangan geopolitik global dan potensi tekanan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak.
Menurut data RTI, IHSG mengakhiri sesi perdagangan dengan penurunan signifikan sebesar 1,23% atau setara 76,159 poin, dan menetap di level 6.130,190. Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif yang kuat di pasar, dengan 447 saham ditutup melemah, sementara hanya 241 saham yang berhasil menguat, dan 133 saham bergerak stagnan.
Tekanan berat yang menimpa IHSG sebagian besar berasal dari kinerja buruk delapan indeks sektoral yang merosot ke zona merah. Tiga sektor yang mengalami koreksi paling dalam adalah IDX-Industry, yang anjlok 3,38%, diikuti oleh IDX-Cyclic yang terkoreksi 2,20%, dan IDX-Property yang melemah 2,14%.
Berikut adalah saham-saham yang menjadi pemberat utama dalam indeks LQ45:
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) anjlok 10,68% menjadi Rp 4.890
- PT Astra Internasional Tbk (ASII) terkoreksi 8,48% ke Rp 5.125
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) merosot 8,11% menjadi Rp 1.190
Meskipun demikian, beberapa saham LQ45 berhasil mencatatkan penguatan dan memberikan sedikit angin segar di tengah koreksi pasar:
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melonjak 5,46% ke Rp 3.090
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 5,07% ke Rp 1.555
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menguat 3,91% ke Rp 505
Pelemahan IHSG ini sejalan dengan meredanya reli di pasar negara berkembang (emerging markets) Asia. Kondisi ini dipicu oleh serangan terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, yang kembali memudarkan harapan akan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Melansir Reuters, saham-saham di kawasan emerging Asia menunjukkan pelemahan setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam sepekan. Tekanan pasar kian meningkat akibat aksi ambil untung oleh investor di tengah gejolak ketidakpastian geopolitik.
Sentimen negatif pasar diperparah setelah Washington melancarkan serangan baru ke Iran, meskipun negosiator utama dan Menteri Luar Negeri Iran tengah berada di Doha untuk melakukan pembicaraan diplomatik. Pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menyebut bahwa proses negosiasi dengan Iran masih memerlukan waktu beberapa hari lagi, semakin meredam optimisme pasar terhadap potensi perdamaian dalam waktu dekat.
Dampak dari situasi ini terasa di seluruh kawasan ASEAN, dengan Indeks MSCI saham negara-negara tersebut tercatat turun 0,4%. Bursa Singapura, yang memiliki bobot terbesar dalam indeks tersebut, melemah hingga 0,6%, sementara saham di Filipina, Malaysia, dan Indonesia sendiri terkoreksi antara 0,5% hingga 1%, mengindikasikan tekanan pasar yang meluas.
Chief Economist Trimegah Securities, Fakhrul Fulvian, menggarisbawahi bahwa pergerakan pasar yang cenderung campuran ini mencerminkan sikap investor yang kini lebih berhati-hati. “Investor mulai membedakan antara sentimen positif yang bersifat sementara akibat harapan perdamaian dengan kerentanan fundamental ekonomi kawasan,” jelasnya.
Senada, Chief Investment Officer Asia ex-Japan BNP Paribas Asset Management, Ecaterina Bigos, menambahkan bahwa gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak berpotensi besar menghambat upaya penurunan inflasi global. Ia memperingatkan, kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan demi meredam gejolak harga.
Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi menjadi pihak yang paling merasakan dampak pahit akibat lonjakan harga minyak dalam dua bulan terakhir. Situasi ini tidak hanya menekan neraca transaksi berjalan, tetapi juga memicu arus keluar modal yang signifikan, serta secara langsung melemahkan mata uang di seluruh kawasan tersebut.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,23% atau 76,159 poin ke level 6.130,190 pada perdagangan Selasa (26/5). Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya kewaspadaan investor terhadap ketegangan geopolitik global dan potensi tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak. Delapan indeks sektoral merosot, dengan IDX-Industry, IDX-Cyclic, dan IDX-Property mengalami koreksi terdalam. Saham-saham seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Astra Internasional Tbk (ASII), dan PT Sumber Alfaria Tbk (AMRT) menjadi pemberat utama indeks.
Pelemahan IHSG sejalan dengan meredanya reli di pasar negara berkembang Asia yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat terhadap Iran, yang memudarkan harapan damai. Sentimen negatif ini diperparah oleh aksi ambil untung investor di tengah ketidakpastian geopolitik. Para ekonom memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak dapat menghambat penurunan inflasi global, berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi. Negara-negara Asia pengimpor energi sangat terpengaruh, mengalami tekanan pada neraca transaksi berjalan dan pelemahan mata uang.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia