
Enam bulan setelah bencana banjir dan tanah longsor merenggut ibu, abang, serta neneknya, Sausan Sania, seorang siswi kelas empat sekolah dasar di Aceh Utara, terus berjuang melawan trauma. Baginya, setiap hari adalah langkah kecil untuk bangkit, mulai dari berziarah ke makam keluarga, membantu ekonomi keluarga dengan berjualan mainan, hingga terus belajar demi mewujudkan mimpinya menjadi polisi wanita (polwan).
Tulisan ini merupakan bagian kedua dari laporan khusus BBC News Indonesia yang menyoroti kisah perjuangan kelompok rentan dan penyintas perempuan dalam melewati masa sulit enam bulan pascabencana di Sumatra.
Catatan: BBC News Indonesia telah mendapatkan izin dari ayah dan pihak sekolah untuk mewawancarai serta mendokumentasikan kegiatan Sausan Sania.
Saat melihat teman-temannya menghabiskan waktu bersama ibu mereka, Sausan sering kali termenung. “Kamu enak ya, ada mama yang bisa memeluk, memasakkan makanan, dan mengajakmu jalan-jalan. Aku tidak punya mama lagi,” ucap bocah berusia 10 tahun itu dengan nada pilu.
Ibu Sausan, Nurlaila; abang tertuanya, Muhammad Zunnur; serta neneknya, Aman Husna, menjadi korban jiwa setelah terseret arus banjir yang melanda Sumatra pada akhir November tahun lalu. Kini, Sausan menjalani hari-harinya bersama ayah, T. Zaman Huri, serta dua saudaranya. Tragedi serupa juga merenggut lebih dari 1.200 nyawa di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat.

Di SDN 6 Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jumat (08/05), suasana riuh anak-anak kembali menggema. Padahal, enam bulan silam, sekolah ini sempat lumpuh akibat banjir yang merendam separuh bangunan. Di antara kerumunan siswa yang menerima bantuan makan bergizi gratis, Sausan tampak ceria meski halaman sekolah masih menyisakan genangan air dan sisa lumpur.
Meski sebagian siswa masih mengenakan sandal karena keterbatasan alas kaki, mereka tampak antusias menyambut seragam baru dari pemerintah. Di dalam ruang kelas empat yang kini kosong tanpa kursi dan meja, Sausan dan kawan-kawannya duduk melantai, menyimak pelajaran matematika dengan saksama. Saat diminta maju ke depan papan tulis, Sausan dengan berani menunjukkan kemampuannya menjawab soal, sebuah tanda bahwa semangatnya perlahan pulih.
Mungkin Anda tertarik:
- Enam bulan bencana Sumatra: Nestapa ibu yang membesarkan bayi di huntara Aceh – ‘ASI tak ada, kebun rusak, bantuan hanya janji’
- Kisah anak-anak yang menjadi yatim piatu akibat petaka di Sumatra: Apa tanggung jawab negara?
- Dampak kesehatan bagi balita di Aceh Tamiang yang mengonsumsi mi instan selama belasan hari
Kepala SDN 6 Tanah Jambo Aye, Lili Andasna, mengakui bahwa awalnya Sausan sangat tertutup. “Sausan sering termenung dan sedih di awal masuk sekolah pascabencana. Hal yang sama juga dirasakan oleh hampir 90% siswa kami,” ungkapnya. Lili dan para guru terus berupaya membangkitkan mental anak-anak, meyakinkan mereka untuk tetap tegar menghadapi cobaan.

Sepulang sekolah, Sausan kerap menatap foto ibu dan abangnya di dalam buku yasin. Rasa rindu yang mendalam sering kali membawanya mengajak sang ayah berziarah ke makam keluarga yang terletak 400 meter dari rumah mereka. Di sana, Sausan membersihkan rumput dan berdoa agar keluarganya tenang di surga. Aktivitas berziarah menjadi cara Sausan berdamai dengan duka.
Sisi lain dari ketangguhan Sausan terlihat saat ia berjualan mainan kepada teman-temannya. “Beli seribu, saya jual dua ribu. Lumayan uangnya buat jajan,” ujar Sausan dengan malu-malu. Meski hidup dalam keterbatasan, ia menyimpan cita-cita besar sebagai polwan. “Saya ingin menjadi polisi wanita agar bisa membanggakan Mama di surga,” tambahnya.
Kenangan terakhir yang diingat Sausan adalah saat mereka makan malam bersama dengan menu ikan bakar dua hari sebelum bencana. Pesan ibunya pun masih terngiang jelas, “Makan dulu ya, Nak, takutnya nanti malam air naik.”

Namun, di balik kenangan manis tersebut, tersimpan memori kelam saat banjir menerjang pada 27 November 2025 subuh hari. Zaman Huri, sang ayah, mengenang detik-detik ketika arus deras memisahkan mereka. “Yang ada di tangan saya hanya Sausan dan si bungsu. Yang lainnya terpisah semua,” kenang Zaman dengan suara lirih. Zaman sempat bertahan selama dua hari dua malam di atas pohon sawit bersama anak bungsunya sebelum akhirnya dievakuasi.
Sausan sendiri selamat setelah ditemukan tersangkut di atas pohon pisang. Hingga kini, Zaman berjuang keras menata hidup sebagai orang tua tunggal bagi ketiga anaknya yang selamat, meskipun ia mengakui masih kesulitan membagi waktu antara mencari nafkah dan menjaga anak-anak di rumah.

Perjuangan serupa juga terjadi di SDN 5 Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen. Puluhan siswa terpaksa belajar di dalam tenda darurat karena gedung sekolah mereka hancur tertimbun tanah. “Sudah lima bulan kami di tenda. Kepanasan, kebanjiran, dan kekurangan alat belajar. Anak-anak sering bertanya kapan sekolah mereka dibangun kembali,” ujar guru setempat, Irnawati.
Data Kemendikdasmen per Mei 2026 mencatat ada 4.922 sekolah terdampak bencana di Sumatra, dengan 36 sekolah di Aceh masih harus menggunakan tenda. Meski pemerintah mengklaim telah merealisasikan bantuan revitalisasi fisik senilai Rp2,9 triliun, para penyintas di lapangan berharap proses pembangunan sekolah yang layak segera dipercepat. Hingga saat itu tiba, Sausan dan anak-anak lainnya di Aceh tetap memegang teguh harapan, belajar di tengah keterbatasan, dan terus mendoakan orang-orang terkasih yang telah tiada.
Ringkasan
Enam bulan pascabencana banjir dan tanah longsor di Aceh Utara, Sausan Sania, seorang siswi sekolah dasar, berjuang memulihkan diri dari trauma setelah kehilangan ibu, abang, dan neneknya. Meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi dan masih harus belajar di sekolah yang terdampak, Sausan tetap menunjukkan semangat tinggi untuk bersekolah dan mengejar cita-citanya menjadi polisi wanita demi membanggakan mendiang ibunya. Ia menyalurkan dukanya dengan berziarah ke makam keluarga dan berjualan mainan untuk membantu kebutuhan sehari-hari.
Tragedi yang merenggut lebih dari 1.200 nyawa di Sumatra ini menyisakan tantangan besar bagi para penyintas, termasuk akses pendidikan yang belum sepenuhnya pulih akibat kerusakan infrastruktur sekolah. Sementara pemerintah berupaya menyalurkan bantuan revitalisasi, banyak anak di wilayah bencana, termasuk rekan-rekan Sausan, masih harus belajar di tengah kondisi darurat. Di tengah kesulitan tersebut, Sausan dan anak-anak lainnya tetap teguh bertahan demi membangun masa depan yang lebih baik.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia