Internet Iran Pulih, Warga Merasa Bebas Setelah Pemadaman Berakhir

“Setelah 88 hari, rasanya persis seperti seorang tahanan yang dibebaskan setelah tiga bulan mendekam di penjara dan untuk pertama kalinya melihat langit.”

Advertisements

Begitulah ungkapan emosional seorang warga Iran saat kembali terhubung dengan dunia maya. Setelah 88 hari terputus, pemerintah Iran akhirnya mengakhiri pemadaman internet nasional, yang tercatat sebagai durasi pemadaman terlama dalam sejarah modern menurut kelompok pemantau internasional.

Dalam wawancaranya dengan program Middle East Daily BBC, warga tersebut menceritakan kebahagiaannya yang meluap-luap. “Anda mungkin sulit mempercayainya, tetapi saat saya mengeklik sebuah situs dan melihatnya terbuka, rasanya saya bisa terbang karena bahagia,” ujarnya. Baginya, bisa kembali mengakses aplikasi pesan instan seperti Telegram dan WhatsApp adalah sebuah kelegaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, bahkan ia mengaku hampir menangis saat melihat notifikasi ponselnya yang membanjiri layar dengan pembaruan aplikasi.

Namun, di balik kegembiraan warga atas pulihnya konektivitas, muncul kecemasan baru mengenai pengetatan sensor di Iran. Negara ini memang telah lama menerapkan pengawasan ketat terhadap akses internet warganya.

Advertisements

Baca juga: AS kembali serang target di Iran untuk kedua kalinya dalam tiga hari

Pemerintah Iran sebelumnya memutus total akses internet tepat setelah Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap negara tersebut pada 28 Februari. Para pejabat berdalih bahwa langkah drastis ini diambil untuk memitigasi risiko pengawasan, spionase, dan serangan siber dari pihak luar.

Pada hari Selasa, Wakil Presiden Pertama Mohammad Reza Aref mengumumkan melalui platform X bahwa pemerintah telah memulai langkah awal menuju akses internet yang “bebas dan terkelola”, sesuai dengan arahan Presiden Masoud Pezeshkian. Pihak pemerintah mengaitkan pemulihan ini dengan upaya untuk menstabilkan layanan digital, mendukung masyarakat yang tetap setia pada sistem negara, serta memajukan sektor ilmu pengetahuan dan ekonomi berbasis teknologi.

Meskipun sejumlah platform masih diblokir dan akses belum merata bagi seluruh pengguna, banyak warga yang menganggap kembalinya koneksi internet sebagai pencapaian besar. “Selama tiga bulan, rasanya sangat berat. Sangat menyakitkan tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga dan teman di luar negeri. Kami bahkan tidak bisa memberi kabar bahwa kami aman di tengah kecamuk perang,” ujar seorang warga lainnya.

Bagi mereka yang bergantung pada ekonomi digital, pulihnya internet membawa secercah harapan. Pantea, seorang mahasiswa ilmu komputer, menyatakan bahwa pemulihan ini sangat penting untuk kelangsungan bisnis daring miliknya. Meski begitu, ia menyoroti bahwa kendala penyensoran masih menjadi tantangan utama yang harus dicari solusinya oleh pemerintah.

Pandangan serupa datang dari Rastin, rekan mahasiswa ilmu komputer, yang menyebut langkah ini sebagai hal positif bagi pasar daring. Namun, ia memperingatkan bahwa tekanan sosial yang berkelanjutan dan pembatasan akses sering kali membuat pelaku bisnis semakin sulit untuk bangkit.

Baca juga:

  • ‘Kau bukan lagi saudaraku’ – Ketika perang memecah belah keluarga di Iran
  • ‘Saya belum tidur berhari-hari’ – Kisah warga Iran satu bulan setelah serangan AS-Israel dimulai
  • ‘Bahkan di bawah gempuran rudal, kami tetap menjalani hidup’ – Cerita generasi muda Iran menghadapi perang

Sejarah menunjukkan bahwa pemadaman internet di Iran bukanlah hal baru, karena akses sempat diputus saat protes nasional bulan Januari lalu. Untuk menyiasatinya, banyak warga yang mencoba menggunakan VPN berbayar atau menyelundupkan perangkat internet satelit ke dalam negeri.

Kelompok pemantau NetBlocks mencatat bahwa saat ini penyaringan konten justru terasa lebih luas dibandingkan periode sebelumnya. “Layanan masih mengalami penyaringan ketat, dengan pembatasan baru pada aplikasi pesan dan toko aplikasi. Seruan untuk internet yang terbuka seharusnya didengar melampaui perbedaan politik,” tegas mereka.

Seiring dengan proses pemulihan, Proton VPN melaporkan lonjakan pendaftaran hingga 6.000%. Meski akses internet rumah mulai menyala, banyak warga melaporkan bahwa layanan data seluler melalui kartu SIM belum berfungsi, sementara sebagian lainnya masih belum mendapatkan akses sama sekali.

Baca juga:

  • ‘Tubuh saya gemetar karena stres’ – Tekanan psikologis akibat perang di Iran
  • Biaya hidup makin naik akibat perang AS-Iran, deretan perusahaan ini justru untung triliunan rupiah

Kegembiraan ini tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga oleh diaspora Iran. Penulis dan komedian Inggris kelahiran Iran, Shaparak Khorsandi, menggambarkan situasi ini sebagai momen yang pahit sekaligus membahagiakan. Baginya, pengalaman terputus dari keluarga adalah hal yang menyiksa.

Ia menceritakan kisah mengharukan tentang pamannya yang, dalam kondisi terisolasi, mengirimkan pesan ulang tahun untuk dirinya sendiri atas nama keluarga demi menenangkan mereka yang berada di luar negeri. “Kami ingin mereka tahu bahwa kami mencintai mereka dan berharap keheningan ini tidak membuat mereka meragukan kasih sayang kami,” tutup Khorsandi dengan suara emosional.

Baca juga:

  • Warga Iran merayakan Tahun Baru Persia di tengah perang – ‘Saya tidak ingin ini jadi Nowruz terakhir kami’
  • Kehidupan di Teheran saat jet-jet Israel terbang di atas kepala
  • ‘Korban pertama perang ini adalah 40 anak di Minab’ – Respons warga Iran atas serangan AS-Israel
  • Warga Iran lelah dengan ekonomi memburuk dan bayang-bayang perang – ‘Orang harus bayar tiga kali lipat demi sepotong roti’

Ringkasan

Pemerintah Iran akhirnya mengakhiri pemadaman internet nasional yang berlangsung selama 88 hari setelah sempat memutus akses total menyusul serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Pemulihan ini disambut dengan kebahagiaan mendalam oleh warga, yang sebelumnya merasa terisolasi dan kesulitan berkomunikasi dengan keluarga maupun menjalankan bisnis digital. Pemerintah menyatakan bahwa langkah ini merupakan awal dari upaya menuju akses internet yang lebih stabil dan mendukung sektor ekonomi berbasis teknologi.

Meskipun konektivitas telah kembali, para pengguna melaporkan bahwa penyaringan konten masih sangat ketat dan akses data seluler belum berfungsi sepenuhnya. Kelompok pemantau internet mencatat bahwa pembatasan pada aplikasi pesan dan toko aplikasi masih diberlakukan, sehingga warga tetap bergantung pada alat bantu seperti VPN. Di tengah harapan akan normalisasi akses, tantangan sensor dan tekanan sosial terus menjadi perhatian utama bagi masyarakat Iran.

Advertisements