
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Penguatan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik global.
Berdasarkan data Trading Economics pukul 17.20 WIB, harga emas spot tercatat naik 0,70% secara harian menjadi US$ 4.527 per ons troi. Meskipun sempat mengalami tekanan dalam sebulan terakhir dengan koreksi sebesar 2,34%, tren pemulihan ini memberikan optimisme baru bagi para pelaku pasar.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa rebound harga emas terjadi setelah data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dirilis di bawah ekspektasi pasar, yang kemudian menekan indeks dolar AS. Selain faktor makroekonomi, sentimen positif juga muncul dari harapan baru terkait gencatan senjata di Timur Tengah.
Harta Djaya (MEJA) Siap Ekspansi ke Tambang Batubara, Siapkan Akuisisi US$ 100 Juta
“Secara teknikal, emas berhasil rebound dan bertahan di atas level support moving average 200 hari yang telah terjaga sejak November 2023,” jelas Lukman kepada Kontan, Jumat (29/5). Ia menambahkan bahwa jika pelemahan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan reli menuju kisaran US$ 4.800 hingga US$ 4.900 per ons troi.
Sementara itu, pergerakan harga emas di pasar domestik terpantau bervariasi. Emas Galeri 24 turun menjadi Rp 2.739.000 per gram, dan emas UBS ukuran 1 gram terkoreksi ke posisi Rp 2.764.000 per gram. Sebaliknya, emas bersertifikat ANTAM justru menguat Rp 20.000 menjadi Rp 2.774.000 per gram, dengan harga buyback yang juga naik menjadi Rp 2.579.000 per gram. Saat ini, selisih antara harga jual dan buyback (spread) berada di angka sekitar 7,03% atau Rp 195.000 per gram.
Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto, menyoroti bahwa dominasi ANTAM di pasar domestik didorong oleh reputasi merek yang kuat. Menurutnya, minat investor terhadap emas tetap tinggi karena kekhawatiran terhadap inflasi global dan dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.000, Begini Prospek dan Penggerak di Semester II-2026
Terkait pilihan investasi, Eko berpendapat bahwa meskipun emas fisik dan digital memiliki nilai yang setara, emas digital menawarkan efisiensi dan risiko yang lebih terukur bagi investor ritel. “Biaya transaksi emas digital lebih murah, lebih efisien, serta meminimalisir risiko kehilangan atau kerusakan fisik,” ungkap Eko.
Selain itu, emas digital memiliki keunggulan dari sisi likuiditas karena dapat dijadikan aset gadai dengan spread yang relatif lebih kompetitif dan kecepatan penyesuaian harga terhadap pasar global yang lebih tinggi. Namun, Eko mengingatkan investor agar selalu memeriksa legalitas platform dan memastikan penyelenggara telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
Penting bagi investor untuk memastikan bahwa aset digital yang dibeli memiliki underlying emas fisik yang jelas. Terkait pencetakan emas digital menjadi fisik, ia mencatat adanya biaya cetak untuk gramasi kecil, sementara gramasi besar cenderung bebas ongkos cetak. Untuk prospek ke depan, Eko memproyeksikan harga emas berpotensi menyentuh level US$ 4.650 per ons troi pada kuartal III-2026, meskipun volatilitas dan tekanan jual jangka pendek tetap perlu diwaspadai.
Ringkasan
Harga emas dunia kembali menguat ke level US$ 4.527 per ons troi akibat pelemahan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik global. Tren pemulihan ini didukung oleh data inflasi PCE AS yang di bawah ekspektasi, sehingga memicu optimisme pasar bahwa harga emas berpotensi melanjutkan reli dalam waktu dekat.
Di pasar domestik, pergerakan harga bervariasi dengan emas Antam tercatat mengalami penguatan. Para ahli menyarankan investor untuk mempertimbangkan emas digital karena menawarkan efisiensi transaksi yang lebih tinggi dan risiko fisik yang minim, dengan catatan harus dipastikan legalitas platformnya di bawah pengawasan Bappebti.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia