Harga Minyak Anjlok 2 Persen Jelang Gencatan Senjata AS-Iran

LONDON – Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Penurunan tajam hampir 2% ini dipicu oleh optimisme pasar terkait potensi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sentimen positif terhadap perdamaian ini membuat harga minyak berada di jalur penurunan mingguan terdalam sejak awal April.

Advertisements

Berdasarkan data perdagangan yang dilansir dari Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Juli merosot US$1,66 atau 1,77% ke level US$92,05 per barel. Sementara itu, kontrak Agustus yang lebih aktif melemah 1,76% ke posisi US$91,07 per barel. Senada dengan Brent, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik AS juga turun 1,74% menjadi US$87,35 per barel.

Harga Minyak Anjlok di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS–Iran

Secara akumulatif dalam sepekan, harga minyak Brent mencatatkan koreksi sekitar 11%, yang menjadi penurunan terbesar sejak pekan yang berakhir pada 6 April. WTI pun tidak luput dari tekanan dengan pelemahan hampir 10%, menjadikannya koreksi mingguan terdalam sejak pertengahan April lalu.

Advertisements

Giovanni Staunovo, analis dari UBS, mengungkapkan bahwa dinamika pasar saat ini masih didominasi oleh spekulasi geopolitik. Menurutnya, fokus utama pelaku pasar tertuju pada probabilitas kesepakatan antara AS dan Iran. Tren penurunan harga yang terjadi saat ini bahkan disinyalir memaksa sebagian investor untuk menutup posisi beli mereka.

Tekanan ini bermula setelah muncul laporan mengenai rencana perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran, serta adanya wacana pelonggaran pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz. Meski demikian, kesepakatan tersebut belum mencapai tahap final karena masih menunggu persetujuan resmi dari Presiden AS Donald Trump. Di sisi lain, media pemerintah Iran pun menyebut bahwa informasi tersebut belum bersifat resmi.

Ketidakpastian Selat Hormuz Memicu Volatilitas Harga

Situasi diplomasi yang menggantung ini memicu fluktuasi tajam di pasar minyak dalam beberapa sesi terakhir, di mana pergerakan harga sempat mencapai kisaran US$6 dalam satu hari. Ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur krusial yang menyuplai sekitar seperlima pasokan energi dunia, menjadi faktor utama yang mengguncang stabilitas pasar.

Analis dari ING berpendapat bahwa jika jalur pelayaran strategis tersebut kembali dibuka, pasar minyak diprediksi akan mengalami kelegaan jangka pendek. Namun, prospek pemulihan harga secara berkelanjutan masih sulit dipastikan. Di tengah sentimen tersebut, Commerzbank menaikkan proyeksi harga Brent menjadi US$90 per barel pada akhir September dan US$85 per barel hingga akhir tahun, dengan asumsi bahwa Selat Hormuz masih akan menghadapi gangguan dalam beberapa bulan ke depan.

Di sisi fundamental, data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan adanya penurunan stok minyak mentah, bensin, dan distilat di AS pekan lalu. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan dari kilang dan konsumen, meskipun angka ekspor minyak tercatat turun ke level 4,4 juta barel per hari.

Harga Emas Stabil, Investor Waspadai Dampak Geopolitik

Sementara harga minyak terus berfluktuasi, harga emas cenderung stabil seiring dengan sikap investor yang memilih untuk memantau dampak dari perkembangan gencatan senjata antara AS dan Iran. Mengingat kombinasi faktor geopolitik dan data fundamental yang saling tarik-menarik, pasar minyak diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat sembari menunggu kepastian arah hubungan diplomatik AS–Iran.

Ringkasan

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam hingga dua persen akibat optimisme pasar terkait potensi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan ini menyebabkan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencatatkan koreksi mingguan terdalam dalam beberapa bulan terakhir. Fokus utama pelaku pasar saat ini adalah spekulasi geopolitik mengenai pembukaan kembali jalur pengiriman melalui Selat Hormuz yang krusial bagi pasokan energi global.

Meskipun terjadi penurunan harga, kesepakatan damai tersebut masih menunggu persetujuan resmi dari pihak berwenang di kedua negara. Analis memperkirakan pasar akan terus mengalami volatilitas tinggi selama ketidakpastian diplomatik berlanjut. Sementara itu, data fundamental dari Energy Information Administration menunjukkan penurunan stok minyak di AS, yang mencerminkan ketegangan antara dinamika permintaan domestik dan risiko geopolitik global.

Advertisements