
JogloNesia, JAKARTA – Harga emas dunia mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (1/6/2026). Fenomena ini terjadi di tengah memanasnya kembali ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang semestinya menjadi katalis penguat bagi aset aman atau safe haven.
Alih-alih menarik minat investor, eskalasi konflik tersebut justru memicu lonjakan harga minyak mentah dan penguatan mata uang dolar AS. Kondisi ini secara tidak langsung meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ancaman inflasi serta potensi kebijakan suku bunga tinggi yang berkepanjangan.
Hingga pukul 11.58 GMT, harga emas spot tercatat terkoreksi 0,7% ke level US$ 4.506,49 per ons. Padahal, logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada akhir pekan lalu. Secara akumulatif, harga emas sepanjang Mei telah terkoreksi hampir 2%, yang sekaligus menandai penurunan bulanan selama tiga bulan berturut-turut.
Harga Emas Terseret Gejolak Timur Tengah dan Sentuh Level Terendah Sepekan
Tekanan serupa juga dialami oleh kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus yang merosot 1,2% menjadi US$ 4.536,70 per ons. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama penekan harga, karena membuat emas menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang asing.
Sentimen pasar berubah drastis setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran pada akhir pekan. Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran pada Senin mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS. Aksi saling serang ini mematahkan harapan akan segera berakhirnya konflik yang sudah berjalan selama tiga bulan terakhir.
Analis ActivTrades, Ricardo Evangelista, menilai optimisme pasar mengenai kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz kini mulai memudar. Menurutnya, konflik yang kembali memanas memicu kenaikan harga energi, yang pada gilirannya memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk meredam inflasi.
Harga Emas Turun Drastis Akibat Perang Iran dan Kekhawatiran Pasar
Harga minyak mentah Brent yang melonjak lebih dari 3% setelah serangan terbaru semakin mempersempit ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga. Meskipun emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya memudar di tengah suku bunga tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Saat ini, pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga AS. Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang mencapai 39%. Perhatian investor kini tertuju pada pidato para pejabat The Fed serta rilis data ekonomi krusial, seperti survei manufaktur ISM dan laporan ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) AS untuk Mei yang akan diumumkan pada Jumat mendatang.
Harga Emas Turun 1,2% Usai Minyak Melonjak, Pasar Khawatir Suku Bunga Global Naik
Berbeda dengan emas, pergerakan logam mulia lainnya cenderung lebih positif. Harga perak tercatat naik 0,6% menjadi US$ 75,69 per ons, platinum menguat 1,3% menjadi US$ 1.941,15 per ons, sementara palladium terpantau bergerak stabil di level US$ 1.355 per ons.
Ringkasan
Harga emas dunia mengalami pelemahan sebesar 0,7% ke level US$ 4.506,49 per ons pada perdagangan Senin, menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun ketegangan geopolitik biasanya menjadi pendorong aset safe haven, kondisi ini justru memicu lonjakan harga minyak mentah dan penguatan dolar AS yang menekan harga logam mulia.
Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Akibatnya, daya tarik emas menurun karena investor lebih memilih instrumen yang memberikan imbal hasil, sementara pasar kini menantikan data ekonomi AS mendatang untuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia