Militer AS Cegat Kapal Minyak Iran, Trump Perintahkan Tembak di Tempat

Pasukan Amerika Serikat menyergap kapal yang tengah dikenai sanksi dan membawa minyak Iran di Samudra Hindia.

Advertisements

Departemen Pertahanan AS (DoD) mengonfirmasi telah melakukan pencegatan maritim atau maritime interdiction terhadap kapal M/T Majestic X. Tindakan ini merupakan prosedur standar Angkatan Laut AS untuk menghentikan dan memeriksa kapal-kapal yang dicurigai melanggar hukum atau dianggap memusuhi kepentingan Amerika Serikat.

Pencegatan terhadap kapal berbendera Guyana ini terjadi di tengah ketegangan yang memuncak. Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social secara tegas memerintahkan Angkatan Laut AS untuk “menembak dan menghancurkan” kapal-kapal penebar ranjau di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa kapal penyapu ranjau AS saat ini sedang aktif membersihkan jalur perairan vital tersebut.

Sejak penerapan blokade lalu lintas maritim dari dan menuju pelabuhan Iran pada 13 April, Komando Pusat AS (Centcom) telah memerintahkan sedikitnya 33 kapal untuk kembali ke pelabuhan asal. DoD juga menyatakan komitmennya untuk terus menghentikan setiap kapal yang memberikan dukungan material kepada Iran di wilayah operasi mana pun.

Advertisements

Baca juga:

  • Menteri Angkatan Laut AS mundur dari jabatannya saat blokade Selat Hormuz – Apa faktor utama di baliknya?
  • Trump perpanjang gencatan senjata tapi tidak cabut blokade Selat Hormuz
  • Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal

Sebagai bagian dari strategi tekanan maksimum, AS kini menyiagakan tiga kapal induk di kawasan Timur Tengah. Selain USS George HW Bush yang terpantau berlayar di Samudra Hindia, terdapat pula USS Gerald R Ford yang beroperasi di Laut Merah, serta kehadiran USS Abraham Lincoln.

Melalui blokade ketat ini, Trump berupaya menekan Iran dengan memutus pendapatan dari ekspor minyak serta pungutan ilegal yang dikenakan Iran kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dalam sebuah acara di Gedung Putih pada Kamis (23/04), Trump mengklaim bahwa kebijakan tersebut telah 100 persen efektif melumpuhkan bisnis ekonomi Iran. Ia juga mengungkapkan telah menolak tawaran Iran untuk membuka kembali selat tersebut, dengan menyatakan bahwa akses hanya akan diberikan jika tercapai sebuah kesepakatan.

Terkait upaya diplomasi, Trump sebelumnya mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada Selasa (21/04) untuk memberikan waktu bagi Iran menyusun proposal perdamaian yang komprehensif. Meskipun demikian, ia membantah adanya rasa cemas dalam mengakhiri perang, dengan menegaskan bahwa waktu lebih memihak pada pihaknya daripada Iran.

Respons Iran terhadap blokade AS

Pemerintah Iran bereaksi keras terhadap tindakan Amerika Serikat dan melabeli penghadangan kapal sebagai aksi pembajakan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak dimungkinkan saat ini karena blokade tersebut dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata. Senada dengan hal itu, Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Haji Bababei, mengeklaim bahwa pendapatan dari pungutan kapal di Selat Hormuz telah berhasil disetorkan ke Bank Sentral Iran, meski klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Di sisi lain, situasi di lapangan semakin panas setelah Angkatan Laut Iran menyita dua kapal kargo, yakni MSC Francesca dan Epaminondas, tak lama setelah laporan serangan terhadap tiga kapal lainnya. Media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kantor berita Fars, mengonfirmasi peran IRGC dalam serangan tersebut. Meski otoritas Yunani membantah penyitaan kapal Epaminondas, data transponder kedua kapal tersebut diketahui telah dimatikan.

Menanggapi gejolak ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, serta Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan persatuan yang kokoh di antara elemen negara dalam menghadapi tekanan asing.

Perang ini bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan kesiapan negaranya untuk terus melanjutkan permusuhan guna meruntuhkan dinasti Khamenei. Perlu diketahui, Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada awal perang di bulan Februari, dan putranya, Mojtaba Khamenei, kini menjadi suksesornya meski belum muncul ke hadapan publik.

  • Trump perpanjang gencatan senjata tapi tidak cabut blokade Selat Hormuz
  • Apa yang akan terjadi saat ini setelah perundingan perdamaian Iran-AS gagal capai kesepakatan?
  • Iran dan AS gagal capai kesepakatan – Lima hal yang menjadi ganjalan dalam negosiasi


Ringkasan

Militer Amerika Serikat telah mencegat kapal M/T Majestic X yang membawa minyak Iran di Samudra Hindia sebagai bagian dari prosedur sanksi maritim. Presiden Donald Trump mempertegas posisi AS dengan memerintahkan Angkatan Laut untuk menembak kapal penebar ranjau di Selat Hormuz, serta menerapkan blokade ketat untuk melumpuhkan ekonomi Iran. Saat ini, AS telah menyiagakan tiga kapal induk di kawasan Timur Tengah untuk memastikan efektivitas kebijakan tekanan maksimum tersebut.

Pemerintah Iran mengecam tindakan AS sebagai aksi pembajakan dan membalas dengan penyitaan kapal kargo di wilayah mereka. Meski ada perpanjangan gencatan senjata, upaya diplomatik antara kedua negara hingga kini belum membuahkan kesepakatan damai. Situasi terus memanas menyusul konflik yang bermula dari serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu, yang kini melibatkan pergantian kepemimpinan di Iran setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.

Advertisements