
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera terus mengakselerasi penyaluran bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Fokus utama saat ini adalah percepatan perbaikan hunian warga yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang agar masyarakat dapat kembali menata kehidupan mereka dengan lebih layak.
Berdasarkan data terbaru per 24 April 2026, realisasi bantuan menunjukkan tren kenaikan yang signifikan setiap pekannya. Di wilayah Aceh, bantuan telah menjangkau 15.192 rumah rusak ringan dan 11.069 rumah rusak sedang dengan nilai bantuan mencapai Rp 559,950 miliar. Sementara itu, di Sumatera Utara, sebanyak 2.332 rumah rusak ringan dan 1.228 rumah rusak sedang telah mendapatkan dukungan dengan total nilai Rp 71,820 miliar. Adapun di Sumatera Barat, bantuan disalurkan kepada 811 unit rumah rusak ringan dan 375 rumah rusak sedang dengan total nilai Rp 23,415 miliar.
Secara kumulatif, total bantuan stimulan yang telah disalurkan mencapai Rp 655,18 miliar untuk 31.007 unit rumah. Angka ini merupakan peningkatan pesat dibandingkan data per 17 April 2026 yang mencatatkan realisasi sebesar Rp 537,22 miliar untuk 26.849 unit rumah.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa dana stimulan ini disalurkan langsung kepada pemilik rumah agar perbaikan dapat dilakukan secara mandiri dan lebih cepat. Pemerintah menetapkan besaran bantuan sebesar Rp 15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp 30 juta untuk rumah rusak sedang.
Selain dana perbaikan rumah, pemerintah juga memberikan dukungan tambahan guna mempercepat pemulihan ekonomi dan kebutuhan dasar penyintas. Setiap kepala keluarga mendapatkan bantuan isi hunian sebesar Rp 3 juta dan stimulan ekonomi senilai Rp 5 juta. Pemerintah pun tetap menyalurkan jaminan hidup (jadup) sebesar Rp 15 ribu per orang setiap harinya.
Tito menjelaskan bahwa inisiatif perluasan bantuan ini merupakan kebijakan yang diambil untuk meringankan beban masyarakat. Menurutnya, meskipun pada awalnya bantuan Kemensos diprioritaskan bagi rumah rusak berat, ia telah berkoordinasi dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf agar pemilik rumah rusak ringan dan sedang turut mendapatkan perhatian serupa.
Sejalan dengan penyaluran dana stimulan tersebut, pemerintah juga terus menggenjot pembangunan hunian tetap (huntap) dan hunian sementara (huntara) bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan berat. Hingga 24 April 2026, tercatat kebutuhan huntap di ketiga provinsi mencapai 39.171 unit, di mana 241 unit telah selesai dibangun dan 1.493 unit dalam tahap pengerjaan.
Rincian progres pembangunan huntap di tiap wilayah adalah sebagai berikut: Aceh menyelesaikan 104 unit dari target 29.026 unit dengan 645 unit sedang dibangun; Sumatera Utara menyelesaikan 120 unit dari 7.321 unit dengan 407 unit dalam proses; dan Sumatera Barat menyelesaikan 17 unit dari 2.824 unit dengan 441 unit masih dalam pengerjaan. Sementara itu, untuk hunian sementara (huntara), progres pembangunan telah mencapai 91 persen dengan total 18.421 unit yang telah berdiri dari target 20.131 unit.
Ringkasan
Satgas PRR Pascabencana Sumatera telah menyalurkan bantuan stimulan sebesar Rp655,18 miliar bagi 31.007 rumah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bantuan ini diberikan langsung kepada pemilik rumah dengan nominal Rp15 juta untuk kerusakan ringan dan Rp30 juta untuk kerusakan sedang guna mempercepat proses perbaikan secara mandiri.
Selain dana perbaikan hunian, pemerintah memberikan tambahan bantuan berupa dukungan isi rumah, stimulan ekonomi, serta jaminan hidup harian bagi para penyintas. Sementara itu, pembangunan hunian tetap dan hunian sementara terus digenjot untuk membantu warga yang mengalami kerusakan berat, dengan realisasi pembangunan huntara telah mencapai 91 persen dari target yang ditetapkan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia