
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan pekan lalu. IHSG terkoreksi sebesar 6,61 persen dan ditutup di level 7.129,49 pada Jumat, 24 April 2026. Menanggapi kondisi pasar tersebut, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai bahwa IHSG saat ini telah memasuki area oversold atau level yang sudah tergolong murah.
Meskipun demikian, investor disarankan untuk tetap berhati-hati. Brigita menjelaskan bahwa kondisi oversold membuka peluang untuk terjadinya technical rebound dalam jangka pendek. Namun, ruang penguatan tersebut diprediksi terbatas karena struktur tren jangka pendek IHSG masih terjebak dalam fase bearish.
Fokus utama para pelaku pasar saat ini tertuju pada pengujian support krusial di kisaran level 7.100 hingga 7.150. Brigita mengingatkan bahwa jika level tersebut gagal dipertahankan, IHSG berisiko terkoreksi lebih dalam menuju rentang area 7.022 hingga 7.080.
Dari sisi eksternal, ketegangan konflik di Timur Tengah menjadi sorotan utama. Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mengantisipasi potensi pengetatan suplai yang dapat menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan laju inflasi global dan membatasi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Ketidakpastian global tersebut memicu sikap risk-off di kalangan investor. Akibatnya, aliran dana cenderung beralih ke aset safe haven, seperti dolar Amerika Serikat, serta komoditas energi yang dianggap sebagai instrumen lindung nilai yang efektif di tengah gejolak pasar.
Sementara itu, sentimen domestik dipengaruhi oleh dua katalis utama, yakni realisasi penyesuaian harga BBM non-subsidi dan tekanan berat pada nilai tukar rupiah. Rupiah tercatat sempat menyentuh rekor terlemah atau all-time low di level Rp 17.315 per dolar AS.
Brigita menegaskan bahwa efektivitas kebijakan pemerintah dan otoritas moneter akan menjadi penentu arah pasar ke depan. Langkah dalam menahan volatilitas rupiah tanpa harus mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi akan menjadi kunci utama dalam menjaga sentimen pasar domestik serta memastikan keberlanjutan aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.
Pilihan Editor: Sinyal Waspada Keuangan Negara
Ringkasan
IHSG mencatatkan koreksi sebesar 6,61 persen hingga mencapai level 7.129,49 pada penutupan perdagangan pekan lalu. Analis menilai posisi pasar saat ini telah berada dalam area oversold, yang membuka peluang bagi terjadinya technical rebound dalam jangka pendek meski tren secara keseluruhan masih bersifat bearish. Investor kini mencermati level support krusial di kisaran 7.100 hingga 7.150 sebagai penentu arah pergerakan indeks selanjutnya.
Ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah dan tekanan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah menjadi faktor utama yang memicu sikap risk-off pelaku pasar. Keberhasilan pemerintah dan otoritas moneter dalam menstabilkan rupiah serta mengelola kebijakan ekonomi akan menjadi kunci utama dalam memulihkan sentimen pasar. Selain itu, kondisi inflasi global dan potensi pengetatan suplai energi tetap menjadi perhatian yang membatasi ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia