JogloNesia, JAKARTA – Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang empat bulan pertama tahun 2026 justru membuka peluang emas bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat di harga yang lebih terjangkau.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah saham dengan valuasi menarik yang memiliki price to book ratio (PBV) di kisaran 1 hingga 1,5 kali, namun tetap memiliki visibilitas laba yang solid. Beberapa saham yang masuk dalam radar tersebut adalah AADI, AKRA, BBCA, MEDC, dan AMRT. Selain itu, saham INDF dan ICBP juga menjadi opsi menarik karena memiliki eksposur sentimen asing yang lebih minim.
Dalam kondisi pasar saat ini, Wafi mengamati dua pola perilaku investor. Institusi lokal cenderung mulai mengakumulasi saham secara bertahap di level support, sementara investor ritel masih bersikap wait and see menunggu kepastian pasar.
“Investor sudah diperbolehkan melakukan akumulasi secara bertahap dan selektif. Koreksi saat ini sudah memasuki zona akumulasi yang menarik untuk jangka panjang. Perhatikan dua tanggal penting: 12 Mei 2026 untuk pengumuman MSCI dan 1 Juni 2026 saat efektif rebalancing. Jika MSCI tidak memperburuk situasi, potensi relief rally cukup besar,” ujar Wafi.
Senada dengan hal tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai momentum saat ini sangat bagus untuk mencetak keuntungan melalui strategi akumulasi saham bervaluasi rendah. Nafan optimistis peluang rebound pasar terbuka lebar, dengan skenario positif menempatkan IHSG pada target 8.312 untuk tahun 2026. Apalagi, valuasi price earning ratio (PER) IHSG saat ini tercatat berada di bawah rata-rata dua tahun terakhir.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan daftar saham untuk kuartal kedua tahun ini dengan target harga sebagai berikut: ADMR (Rp2.130), ADRO (Rp2.780), ANTM (Rp4.390), BBCA (Rp8.350), BBNI (Rp4.520), BBRI (Rp3.760), BMRI (Rp6.200), EMAS (Rp10.900), MEDC (Rp1.820), PGAS (Rp2.320), dan UNTR (Rp33.975).
“Kondisi ini menjadi peluang, terutama bagi investor domestik untuk melakukan akumulasi beli, terlepas dari berbagai sentimen negatif seperti pemberian outlook dari Moody’s dan Fitch Ratings,” tegas Nafan.
Dampak Penurunan Saham Jumbo
Lesunya performa IHSG sepanjang tahun berjalan 2026 tidak lepas dari amblesnya harga saham berkapitalisasi besar. Saham-saham seperti DSSA, BBCA, dan BREN yang biasanya menjadi motor penggerak indeks, kini justru masuk dalam jajaran top 10 laggards IHSG secara year-to-date (YtD).
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 April menunjukkan IHSG telah terkoreksi sekitar 19,55% ke level 6.956,81. Posisi ini membawa pasar ke level terendah sejak Juni 2025. Bersamaan dengan itu, investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp49,87 triliun, yang menekan valuasi IHSG ke level PER 14,69 kali dan PBV 1,9 kali.
Kombinasi sentimen geopolitik, minimnya katalis domestik, hingga penerapan reformasi pasar modal membuat saham-saham ternama berguguran. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) terkoreksi 60,02% ke level Rp1.615 pasca-stock split, sementara PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 54,02% ke level Rp4.460. Keduanya termasuk dalam daftar 9 saham dengan indikasi high shareholding concentration (HSC).
Sektor perbankan juga tak luput dari tekanan. Saham BBCA ambles 27,55% ke Rp5.850, disusul BBRI yang terkoreksi 18,31% ke Rp2.990, dan BMRI melemah 13,92% ke Rp4.390. Saham lain seperti FILM, BRPT, TLKM, BYAN, dan MORA juga mengalami koreksi signifikan yang turut menekan indeks.
Analisis Penyebab Tekanan Pasar
Tekanan pada pasar modal Indonesia merupakan imbas dari kombinasi sentimen global dan domestik. Kenaikan harga minyak akibat memanasnya konflik di Iran mendorong investor menjauh dari aset berisiko. Di sisi lain, keputusan MSCI menangguhkan perubahan komposisi saham Indonesia memicu arus keluar dana asing dalam jangka pendek.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mencatat bahwa koreksi tajam telah menurunkan rasio PE IHSG ke kisaran 11—12 kali. Angka ini mendekati titik terendah dalam lima tahun terakhir dan berada di bawah rata-rata historis 14—15 kali.
“Hal ini mencerminkan bahwa sebagian besar risiko, tekanan MSCI, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian kebijakan FOMC sudah cukup banyak terdiskon oleh pasar,” jelas Abida.
Menurut Abida, bagi investor jangka menengah, level IHSG saat ini menawarkan margin of safety yang cukup untuk melakukan akumulasi bertahap. Namun, pasar masih menantikan katalis pemulihan dari stabilitas nilai tukar rupiah dan kejelasan arah suku bunga The Fed.
Meski jangka pendek masih dibayangi potensi outflow akibat keputusan MSCI, prospek jangka menengah dinilai tetap positif berkat reformasi internal bursa, seperti implementasi HSC, perbaikan aturan free float, dan pengetatan kriteria indeks. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor institusi global.
“Dalam skenario base case, Indonesia berpotensi kembali mencatatkan net buy asing pada kuartal III atau IV tahun 2026, selama rupiah stabil di bawah Rp17.000 dan reformasi berjalan sesuai jadwal,” tutup Abida.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bawah level 7.000 selama awal tahun 2026 dinilai oleh para analis sebagai peluang emas bagi investor untuk melakukan akumulasi saham berfundamental kuat. Meskipun pasar sedang tertekan oleh sentimen geopolitik, arus keluar dana asing, dan kinerja negatif saham berkapitalisasi besar, valuasi pasar saat ini dianggap sudah cukup murah dan memiliki margin keamanan yang menarik untuk investasi jangka panjang.
Para analis menyarankan investor untuk tetap selektif dan melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham dengan valuasi rendah serta laba yang solid. Prospek pemulihan pasar diprediksi akan terbuka lebar pada kuartal ketiga atau keempat tahun 2026 seiring dengan stabilitas nilai tukar rupiah dan reformasi pasar modal yang terus berjalan. Meski demikian, investor tetap diminta memperhatikan dinamika pengumuman MSCI dan kebijakan suku bunga global sebagai katalis penting bagi pergerakan indeks ke depan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia