Rupiah ditutup Rp 17.529 per dolar AS, terburuk sepanjang sejarah

JAKARTA – JogloNesia. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hebat di pasar spot pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp 17.529 per dolar Amerika Serikat (AS), yang tercatat sebagai rekor penutupan terendah sepanjang sejarah.

Advertisements

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,66% dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.414 per dolar AS. Bahkan, dalam pergerakan intraday, mata uang Indonesia sempat menyentuh level Rp 17.535 per dolar AS tepat pada pukul 14.28 WIB.

Tekanan yang dialami rupiah sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang regional terhadap dolar AS. Salah satu pemicu utamanya adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang memberikan beban berat bagi pergerakan mata uang di negara berkembang (emerging market).

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa memudarnya prospek perdamaian antara AS dan Iran menjadi katalis utama naiknya harga minyak dunia, yang pada akhirnya memperkuat posisi dolar AS.

Advertisements

IHSG Diproyeksi Melemah Pada Rabu (13/5), Ini Kata Analis

“Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup signifikan akibat harga minyak mentah dunia yang kembali naik sebagai respon atas harapan perdamaian AS-Iran yang kian redup,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (13/5/2026).

Selain faktor global, sentimen negatif dari dalam negeri juga memperburuk kondisi pasar. Meningkatnya sikap risk-off atau kehati-hatian investor, terutama dalam mengantisipasi pengumuman MSCI, telah menekan pasar ekuitas domestik dan berdampak langsung pada pelemahan rupiah. Kondisi ini diperparah dengan data penjualan ritel nasional yang berada di bawah ekspektasi pasar.

IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas, Rupiah dan MSCI Masih Jadi Tekanan

Memasuki perdagangan Rabu (13/5/2026), Lukman menilai pelaku pasar akan fokus memantau rilis data inflasi AS yang dijadwalkan akan diumumkan pada malam hari. Selain itu, dinamika pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump diprediksi menjadi perhatian utama para investor global dalam beberapa hari ke depan.

Hingga saat ini, belum terlihat katalis positif yang cukup kuat untuk mendorong penguatan nilai tukar rupiah. Namun, potensi rebound tetap terbuka lebar apabila Bank Indonesia melakukan intervensi secara agresif di pasar valuta asing. Secara teknikal, Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (13/5/2026) akan bergerak di rentang Rp 17.450 hingga Rp 17.600 per dolar AS.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, yang merupakan rekor terendah sepanjang sejarah. Pelemahan sebesar 0,66% ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat memudarnya harapan perdamaian antara AS dan Iran, serta sentimen negatif dari data penjualan ritel nasional yang berada di bawah ekspektasi.

Selain faktor global, meningkatnya sikap kehati-hatian investor dalam mengantisipasi pengumuman MSCI turut menekan nilai tukar rupiah. Ke depannya, pasar akan memantau rilis data inflasi AS serta pertemuan antara pemimpin China dan AS sebagai penentu arah pergerakan mata uang. Potensi penguatan rupiah tetap terbuka jika Bank Indonesia melakukan intervensi agresif di pasar valuta asing.

Advertisements