
JogloNesia JAKARTA. Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang diprediksi bersifat jangka panjang kian memicu minat investor untuk beralih ke instrumen reksadana berbasis mata uang dolar AS. Strategi ini dinilai menjadi pilihan cerdas bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi portofolio sekaligus menjaga nilai aset dari risiko fluktuasi mata uang.
Berdasarkan data dari Infovesta, produk reksadana pendapatan tetap BNP Paribas Prima USD mencatatkan performa gemilang dengan pertumbuhan asset under management (AUM) tertinggi. Produk tersebut berhasil membukukan kenaikan AUM sebesar US$ 106,53 juta atau melonjak 82,77% sepanjang periode Desember 2025 hingga April 2026.
Head Equity BNP Paribas Asset Management, Amica Darmawan, menjelaskan bahwa lonjakan AUM tersebut didorong oleh kombinasi arus masuk dana segar dari investor serta apresiasi nilai aset yang dipengaruhi langsung oleh penguatan dolar AS. Menurutnya, fenomena ini mencerminkan langkah strategis investor dalam menyeimbangkan portofolio investasi mereka di tengah kondisi pasar yang dinamis.
IHSG Diproyeksi Melemah Pada Rabu (13/5), Ini Kata Analis
Amica menegaskan bahwa langkah ini bukan hanya sekadar upaya lindung nilai (hedging). “Selain berfungsi sebagai lindung nilai terhadap risiko nilai tukar, aset berbasis dolar AS juga memberikan akses ke pasar global dengan peluang pertumbuhan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan aset domestik,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).
Lebih lanjut, ia memandang bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS saat ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan sudah menjadi tren struktural. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan pilihan sektor di pasar domestik yang menawarkan pertumbuhan struktural tinggi. Sebaliknya, reksadana dolar AS membuka pintu bagi investor untuk masuk ke berbagai tema investasi global yang sedang berkembang pesat, seperti sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, bagi investor yang mencari profil risiko lebih stabil, reksadana pendapatan tetap dan pasar uang berbasis dolar AS menjadi primadona. Instrumen ini menawarkan tingkat volatilitas yang lebih rendah dibandingkan saham global. “Dikombinasikan dengan penguatan dolar AS, instrumen ini dipersepsikan sebagai pilihan defensif yang menarik di tengah ketidakpastian global,” tambah Amica.
IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas, Rupiah dan MSCI Masih Jadi Tekanan
Menatap prospek ke depan, reksadana saham global berbasis dolar AS diprediksi tetap mencatatkan kinerja kompetitif dalam jangka menengah hingga panjang, terutama produk yang memiliki eksposur kuat pada tema AI, baik di lini perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software).
Meski demikian, Amica mengingatkan bahwa setiap investasi tentu memiliki risiko. Ia menyarankan investor untuk tetap waspada, terutama pada produk saham global yang cenderung memiliki volatilitas lebih tinggi dibandingkan instrumen pendapatan tetap. Menurutnya, risiko ini dapat dimitigasi dengan melakukan diversifikasi lintas sektor dan wilayah geografis.
Sebagai langkah antisipasi dalam beberapa bulan mendatang, investor juga diimbau untuk terus mencermati indikator ekonomi global. Beberapa faktor krusial yang perlu diperhatikan meliputi perkembangan geopolitik, kebijakan suku bunga bank sentral, pergerakan imbal hasil obligasi, hingga tren inflasi dunia. “Faktor-faktor tersebut sangat memengaruhi pergerakan pasar keuangan global dan kinerja aset berbasis dolar AS,” tutup Amica.
Ringkasan
Tren pelemahan nilai tukar rupiah yang diprediksi bersifat jangka panjang mendorong investor beralih ke reksadana berbasis dolar AS sebagai strategi diversifikasi dan pelindung nilai aset. Produk seperti BNP Paribas Prima USD mencatatkan pertumbuhan signifikan, di mana investor memanfaatkan instrumen ini untuk mengakses pasar global serta sektor yang sedang berkembang pesat seperti teknologi dan kecerdasan buatan.
Selain sebagai langkah lindung nilai, reksadana berbasis dolar AS dianggap sebagai pilihan defensif yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meski menawarkan peluang pertumbuhan yang luas, investor tetap disarankan untuk memperhatikan risiko volatilitas pasar dengan melakukan diversifikasi lintas sektor serta memantau perkembangan indikator ekonomi global seperti kebijakan suku bunga dan tren inflasi.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia