Perjalanan tiga perempuan menepis sentimen anti‑Tionghoa dari peristiwa Mei 1998 — ‘Kita semua berangkat dari keresahan yang sama’

Peristiwa Mei 1998 meninggalkan jejak panjang yang membekas dalam kehidupan warga Tionghoa di Indonesia hingga saat ini. Di balik bayang-bayang trauma kolektif tersebut, muncul semangat untuk bertahan dan membangun kembali harapan melalui lintas generasi.

Advertisements

Melalui buku foto bertajuk “A Kind of Magic”, fotografer Juliana Tan berupaya merangkai kembali kepingan ingatan masa kecil yang tercerabut. Proyek ini bukan sekadar karya dokumentasi, melainkan upaya pribadi untuk berdamai dengan masa lalu.

“Meski masa kecil saya tidak bisa kembali, fotografi menjadi portal untuk memulihkan memori. Ini memberi saya harapan untuk melangkah ke depan dengan belajar dari masa lalu,” ungkap Juliana saat merefleksikan buku tersebut. Kini menetap di Singapura, ia menelusuri kembali kenangan masa kecilnya di Bandung, tempat yang terpaksa ia tinggalkan pada Mei 1998.

Trauma tersebut nyatanya diwariskan secara lintas generasi. Bagi mereka yang lahir setelah masa reformasi, seperti Charlenne, trauma itu membentuk pola perilaku yang lebih berhati-hati dalam bersikap dan bersosialisasi. Sementara bagi penyintas lainnya, seperti Henita dari Tebing Tinggi, Sumatra Utara, luka tersebut menyisakan pertanyaan mendalam tentang keadilan dan rasa memiliki sebagai warga negara.

Advertisements

Menelusuri Akar Trauma

Saat peristiwa Mei 1998 terjadi, Juliana baru berusia sembilan tahun. Ia mengingat momen saat ibunya datang ke sekolah untuk menandatangani dokumen, lalu memintanya segera pergi dengan tas yang telah dikemas. Hari itu, ia berangkat ke Singapura tanpa benar-benar memahami apakah itu sebuah liburan atau pelarian.

Setelah sekian lama menetap di Singapura, ia baru menyadari bahwa kepindahannya merupakan cara untuk mempertahankan kehidupan. Proyek buku yang dikerjakan selama satu dekade ini akhirnya selesai pada 2022 setelah ayahnya berpulang. Bagi Juliana, buku ini adalah sarana untuk menjawab pertanyaan mendasar: “Apa sebenarnya yang membuat saya harus meninggalkan rumah, komunitas, dan negara saya?”

Saat diluncurkan di Glodok, Jakarta pada 2025, buku ini memicu respons tak terduga. Ruang peluncuran yang pernah menjadi saksi amuk massa 1998 seketika berubah menjadi ruang hangat di mana para penyintas saling berbagi kisah. Bahkan, generasi Z yang tidak mengalami peristiwa tersebut menunjukkan ketertarikan besar untuk menyelami sejarah dan pengalaman warga Tionghoa di masa kelam tersebut.

Merawat Ingatan Tanpa Memperdalam Luka

Bagi Juliana, menolak lupa tidak harus selalu dengan mengulik kepahitan. Melalui pendekatan yang lembut dalam karyanya, ia ingin mengajak pembaca berjalan di “kota imajinasi” miliknya melalui foto-foto memori berharga. “Saya lebih suka pendekatan yang subtil. Saya tidak perlu menunjukkan semua fakta, saya hanya ingin berbagi pesan hangat dari sisi Juliana kecil,” tuturnya.

Namun, upaya pemulihan tetap memerlukan pengakuan dan jaminan rasa aman dari negara. Charlenne Kayla Roeslie menyadari bahwa bibit segregasi yang ditumbuhkan sejak era kolonial hingga Orde Baru masih terasa. Hal ini melahirkan perilaku stay low atau kecenderungan untuk membatasi diri dalam komunitas eksklusif sebagai bentuk safety measures atau langkah pengamanan diri.

Residu trauma ini juga dialami Henita. Meski sudah dua dekade berlalu, ia masih merasakan kesedihan yang mendalam, terutama saat mengingat toko pakaian milik keluarganya yang dijarah. Baginya, ketidakadilan terasa nyata karena sebagai warga negara Indonesia, etnis Tionghoa sering kali menjadi sasaran utama setiap kali krisis melanda.

Pergeseran Paradigma Generasi Muda

Terdapat pergeseran cara pandang yang menarik di kalangan generasi muda Tionghoa. Charlenne, sebagai bagian dari generasi Z, merasa langkahnya lebih ringan karena ia tidak memikul beban trauma masa lalu secara langsung. Hal ini memberinya keberanian untuk keluar dari “gelembung” eksklusivitas, seperti memilih pendidikan jurnalistik dan berbaur dengan masyarakat yang beragam.

Di masa lalu, Orde Baru membatasi ruang gerak warga Tionghoa melalui kebijakan asimilasi yang represif, seperti pelarangan perayaan Imlek dan penggunaan bahasa Mandarin. Hal ini, menurut Sylvie Tanaga dalam esainya, merupakan bentuk genosida pengetahuan yang memutus generasi muda dari jejak sejarah leluhur mereka.

Kini, partisipasi politik menjadi strategi baru bagi anak muda Tionghoa. Charlotte Setijadi dalam bukunya “Memories of Unbelonging” mencatat bahwa keterlibatan aktif ini merupakan cara untuk menjamin keselamatan sekaligus menunjukkan semangat nasionalisme. Aksi nyata seperti gerakan #WargaJagaWarga membuktikan bahwa solidaritas lintas etnis bisa memupus rasa takut.

Saat kerusuhan Agustus-September 2025 terjadi, semangat saling jaga kembali muncul di Glodok. Warga saling berbagi informasi darurat, menunjukkan bahwa di tengah potensi ancaman, solidaritas kemanusiaan tetap menjadi garda terdepan. Seperti yang diyakini Virdinda Achmad dari Duta Aksi Nusantara, menyadari bahwa setiap warga memiliki keresahan dan nasib yang sama adalah kunci utama untuk melawan sentimen rasialisme yang kerap dimanipulasi oleh pihak tertentu.

Pada akhirnya, harapan baru mulai tumbuh di atas puing-puing trauma. Dengan welas asih dan kesadaran bersama, masyarakat Indonesia diharapkan dapat melangkah melampaui sekat etnis demi masa depan yang lebih inklusif.

  • Menyelisik laporan pemerkosaan massal Mei 1998 – ‘Apa granat masih kurang?’
  • Trauma kerusuhan 1998 usai rentetan aksi penjarahan – ‘Rumah dijaga TNI bisa dijarah, bagaimana rumah rakyat biasa?’
  • Turun ke jalan sampai terjebak kerusuhan: Apa yang terjadi di kota Anda pada Mei 1998?
  • Kerusuhan Mei 1998: ‘26 tahun masalah kekerasan seksual terhadap perempuan Indonesia disangkal’
  • Tragedi Mei 1998 : Kenangan dua ibu yang kehilangan anaknya
  • Hari-hari jelang Reformasi 1998 dalam gambar dan catatan
  • Kerusuhan Mei 1998: “Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?”
  • Penjarahan rumah pejabat dan korban tewas bermunculan – Akankah berujung seperti krisis 1998?
  • Kisah warga keturunan Tionghoa yang menetap di luar negeri usai kerusuhan Mei 1998 dan mereka yang memutuskan kembali ke Indonesia – ‘Semoga pemerintah tidak hapus sejarah’
  • Korban kerusuhan Mei 1998, bagaimana kondisi mereka kini?
  • Reformasi 20 tahun lalu dan sejumlah langkah mundur demokrasi Indonesia

Ringkasan

Peristiwa Mei 1998 meninggalkan trauma mendalam bagi warga Tionghoa di Indonesia, yang dampaknya masih dirasakan lintas generasi hingga saat ini. Fotografer Juliana Tan melalui buku “A Kind of Magic” berupaya memulihkan memori masa kecilnya yang terenggut oleh kerusuhan tersebut, sekaligus merefleksikan perjuangan komunitas Tionghoa dalam mencari rasa aman dan keadilan. Proyek ini menjadi wadah bagi para penyintas untuk berbagi kisah dan berdamai dengan masa lalu yang kelam.

Di sisi lain, generasi muda Tionghoa kini menunjukkan pergeseran paradigma dengan lebih berani keluar dari eksklusivitas komunitas dan terlibat aktif dalam ranah sosial serta politik. Semangat solidaritas lintas etnis, seperti yang terlihat dalam gerakan saling jaga, menjadi kunci penting untuk melawan sentimen rasialisme. Dengan menumbuhkan kesadaran akan nasib yang setara sebagai sesama warga negara, masyarakat diharapkan dapat melampaui sekat etnis demi masa depan Indonesia yang lebih inklusif.

Advertisements