
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dicecar habis-habisan oleh sejumlah anggota Komisi XI DPR RI dalam rapat kerja yang berlangsung di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026. Sorotan tajam para legislator tersebut dipicu oleh kondisi nilai tukar rupiah yang kian terpuruk hingga menembus level terlemah baru di atas Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat.
Dalam rapat tersebut, anggota Komisi XI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, mempertanyakan efektivitas langkah-langkah yang telah diambil bank sentral. Ia menyoroti fakta bahwa meski berbagai instrumen moneter telah dikerahkan, rupiah justru terus mengalami depresiasi terhadap mata uang Paman Sam.
Harris mengakui bahwa tekanan ekonomi global memang menjadi faktor utama di balik pelemahan ini. Namun, ia menegaskan bahwa terdapat persoalan domestik yang tidak bisa diabaikan. Menurutnya, masalah fiskal yang sedang dihadapi, defisit neraca berjalan (current account), arus modal keluar yang masif, serta menurunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia menjadi tantangan serius yang perlu dibenahi segera.
Menanggapi situasi yang kian menekan, para anggota dewan memberikan berbagai usulan strategis sekaligus kritik keras. Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Golkar, Eric Hermawan, secara lugas mengusulkan agar BI segera menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebagai langkah stabilisasi.
Di sisi lain, suasana rapat sempat memanas saat anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Primus Yustisio, melontarkan pernyataan mengejutkan dengan menyarankan Perry Warjiyo untuk mundur dari jabatannya. Menurut Primus, langkah pengunduran diri tersebut merupakan tindakan terhormat yang lazim dilakukan pejabat di sejumlah negara tetangga sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kondisi ekonomi yang sulit.
Hingga Senin siang, 18 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp 17.659 per dolar AS. Perlu diketahui, mata uang garuda ini telah konsisten berada di level Rp 17.000 sejak awal April 2026 dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan.
Pilihan Editor: Jika Pemerintah Nimbrung Menahan Pelemahan Rupiah
Ringkasan
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mendapatkan kritik keras dari anggota Komisi XI DPR RI akibat nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus angka Rp 17.659 per dolar AS. Para legislator mempertanyakan efektivitas langkah moneter yang telah diambil bank sentral dalam menghadapi tekanan ekonomi global serta tantangan domestik seperti defisit neraca berjalan dan rendahnya kepercayaan investor.
Menanggapi situasi ini, anggota dewan memberikan berbagai masukan, mulai dari usulan menaikkan suku bunga acuan hingga desakan agar Gubernur BI mundur dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Sejak awal April 2026, rupiah memang tercatat konsisten berada di level Rp 17.000 dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia