
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyampaikan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan segera berbalik menguat pada Juli atau Agustus 2026. Keyakinan ini muncul di tengah pelemahan rupiah yang saat ini menyentuh level 17.600 per dolar Amerika Serikat.
Menurut Perry, pergerakan ini selaras dengan pola historis yang konsisten terjadi setiap kali mata uang Garuda mengalami tekanan serupa. Berdasarkan pengalamannya menghadapi berbagai krisis ekonomi sejak 1997-1998, krisis tahun 2008, masa taper tantrum, hingga tantangan pandemi Covid-19, tekanan nilai tukar cenderung mereda dan berbalik menguat saat memasuki periode pertengahan tahun.
Rupiah Dinilai Undervalued
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Senayan, Senin, 18 Mei 2026, Perry menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued. Sebagai acuan, asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menargetkan nilai tukar rupiah di level rata-rata 16.500 dengan batas atas 16.800 per dolar AS.
Perry meyakini pihaknya mampu mendorong rupiah kembali ke level fundamental tersebut. Ia menjelaskan bahwa kelemahan nilai tukar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor musiman, terutama tingginya permintaan valuta asing (valas) pada kuartal kedua tahun ini.
“April, Mei, dan Juni merupakan periode dengan permintaan devisa yang tinggi. Hal ini dipicu oleh kebutuhan pembiayaan untuk jemaah haji, pembayaran dividen perusahaan, serta kewajiban pembayaran utang,” ungkap Perry. Oleh karena itu, ia memprediksi tekanan permintaan ini akan berkurang, sehingga rupiah berpotensi membaik pada Juli atau Agustus mendatang.
Faktor Global dan Ketahanan Rupiah
Meski faktor musiman menjadi pemicu utama, Perry mengakui bahwa pergerakan kurs tetap dipengaruhi oleh dinamika global dan domestik. Konflik di Timur Tengah pada Februari 2026, misalnya, sempat memicu pelemahan nilai tukar akibat meningkatnya risiko geopolitik.
Kendati demikian, Perry optimistis terhadap ketahanan rupiah. Ia merujuk pada pengalaman tahun lalu ketika kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat sempat membuat rupiah tertekan hingga menembus level 17.000 per dolar AS, namun pada akhirnya berhasil bangkit kembali. Hal ini menjadi bukti bahwa rupiah memiliki pola pemulihan yang tangguh setelah periode tekanan.
Hingga penutupan perdagangan pada Senin, 18 Mei 2026, rupiah tercatat melemah 71 poin dan berada di level 17.667 per dolar AS. Dengan segala instrumen kebijakan yang ada, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar agar kembali ke jalur fundamentalnya.
Pilihan Editor: Lima Lapis Beban Menggencet Rupiah
Ringkasan
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan kembali menguat pada Juli atau Agustus 2026. Berdasarkan pola historis dan pengalaman menghadapi berbagai krisis ekonomi, tekanan terhadap rupiah saat ini dinilai bersifat sementara dan akan mereda setelah periode permintaan valuta asing yang tinggi di kuartal kedua berakhir.
Saat ini, nilai tukar rupiah dianggap berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued jika dibandingkan dengan asumsi APBN. Bank Indonesia berkomitmen menggunakan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar kembali ke jalur fundamentalnya, meskipun terdapat tantangan dari dinamika geopolitik dan faktor musiman lainnya.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia