
JogloNesia – Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menilai bahwa saham-saham sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini berada pada posisi undervalued atau di bawah harga wajarnya. Indikasi ini terlihat dari nilai Price to Book Value (PBV) perbankan yang masih tercatat di bawah satu kali.
Menurut Rosan, dalam kondisi pasar yang normal, valuasi saham sektor perbankan seharusnya berada pada kisaran di atas dua hingga tiga kali PBV. Oleh karena itu, ia melihat adanya potensi keuntungan atau upside yang signifikan bagi para investor.
“Jika kita perhatikan sektor perbankan, nilai Price to Book-nya berada di bawah satu. Padahal, dalam kondisi normal, angkanya berada di atas dua atau tiga. Jadi, sudah pasti ada potensi kenaikan harga di masa depan,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5).
Rosan menegaskan bahwa volatilitas pasar saham adalah hal yang lumrah terjadi. Ia memastikan bahwa secara fundamental, kondisi emiten di pasar modal Indonesia tetap solid dan menawarkan imbal hasil yang menarik bagi investor.
Dasco Optimistis Investor Global Tetap Nyaman Berinvestasi di BEI Meski Rupiah Melempem
“Danantara melihat bahwa fluktuasi di bursa adalah hal yang wajar. Namun, jika kita menelaah fundamental perusahaan, kondisinya sangat baik, memiliki yield tinggi, dan harga saat ini pun sangat menarik,” tambah Rosan.
Optimisme Rosan sejalan dengan pertumbuhan jumlah investor ritel di Indonesia. Saat ini, jumlah investor telah menyentuh angka 26-27 juta, meningkat pesat dari tahun sebelumnya yang berada di kisaran 20 juta investor. Penambahan sekitar 6 juta investor ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek pasar modal domestik.
“Logikanya, peningkatan jumlah investor ini terjadi karena mereka yakin bursa kita memiliki prospek yang baik ke depannya. Jika tidak, jumlah investor tentu akan menurun,” jelasnya.
Investor Saham Wajib Waspada Ancaman Phishing Terkini, Bukan cuma Curi OTP
Pertumbuhan jumlah investor ini juga didorong oleh upaya edukasi yang konsisten dari BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Fokus edukasi kini menyasar investor domestik, terutama kalangan muda, agar memahami bahwa investasi saham adalah instrumen jangka menengah hingga panjang yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan keuntungan yang optimal.
“Investasi di pasar modal adalah langkah strategis untuk jangka menengah dan panjang. Instrumen ini dapat memberikan imbal hasil yang baik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Rosan.
Sementara itu, berdasarkan data penutupan perdagangan sesi I di BEI pada Selasa (19/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 202,97 poin atau 3,08 persen ke level 6.396,27. Kelompok 45 saham unggulan, Indeks LQ45, turut terkoreksi 13,67 poin atau 2,10 persen ke posisi 637,42.
Total frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.731.057 kali dengan volume transaksi mencapai 27,96 miliar lembar saham senilai Rp15,13 triliun. Secara rinci, sebanyak 96 saham mengalami kenaikan, 611 saham melemah, dan 107 saham lainnya tidak bergerak.
Kunjungan ke Gedung BEI pada Selasa (19/5) tersebut dilakukan oleh Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, bersama jajaran pejabat Danantara Indonesia. Rosan Roeslani hadir didampingi oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. Rombongan tersebut disambut hangat oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, serta Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna.
Ringkasan
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa saham sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia saat ini berada di bawah harga wajarnya atau undervalued. Hal ini terlihat dari nilai Price to Book Value (PBV) yang berada di bawah satu, padahal dalam kondisi normal seharusnya mencapai dua hingga tiga kali. Rosan menegaskan bahwa kondisi fundamental emiten di Indonesia tetap solid sehingga terdapat potensi kenaikan harga yang menarik bagi para investor di masa depan.
Optimisme terhadap pasar modal Indonesia juga didukung oleh pertumbuhan jumlah investor ritel yang kini mencapai 26-27 juta orang. Peningkatan ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap prospek bursa domestik sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang. Meski pasar saham sempat mengalami volatilitas, Danantara tetap menekankan bahwa fundamental perusahaan yang baik dan edukasi konsisten akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia